January 19th, 2010
Maitreya di Zaman Pra-Buddha Sakyamuni Sebagai Bodhisatva Maitreya (Ajita)
Pada zamannya Buddha Sakyamuni, Bodhisatva Maitreya merupakan salah satu murid dari Sang Buddha. Bodhisatva Maitreya tidak membina dengan penegasan cara duduk bermeditasi dan tidak melepaskan kilesa, namun mendapat afirmasi dari Buddha Sakyamuni bahwa ia akan mencapai kebuddhaan. Bodhisatva Maitreya adalah manusia Buddha setelah Buddha Sakyamuni, sehingga dIsebut sebagai Buddha yang akan datang. Masa lalu Buddha Maitreya adalah Bodhisatva Maitreya.Pada masa itu Bodhisatva Maitreya menegakkan ikrar Agung, bertekad merubah dunia yang penuh kekacauan menjadi dunia damai sentosa, merubah dunia yang kotor menjadi dunia yang suci, merubah dunia yang penuh dosa dan kejahatan menjadi kerajaan ilahi, merubah sahaloka yang penuh penderitaan menjadi dunia yang penuh kasih sayang dan bahagia. Pada saat Buddha Maitreya mencapai Kebuddhaan, dunia akan menjadi damai sentosa, bumi Surgawi langsung terwujud. Banyak Pembina sejati di masa lalu menegakkan ikrar mengikuti jejak pembinaan Bodhisatva Maitreya dan hadir bersama-Nya di Bumi Suci Maitreya kelak.
Sabda Sang Buddha dalam Sutra Maha Ratna Kuta (Ta Pao Ci Cing) Bab 88 (Pertemuan Maha Kasyapa)
Suatu ketika junjungan Dunia menjulurkan tangan-Nya yang membiaskan cahaya kemilau, hasil paduan kesucian laksa asamkheya kalpa. Dengan jari dan telapak tangan-Nya yang bersinar bagaikan bunga teratai, Beliau mengusap ubun-ubun Bodhisatva Maitreya sambil bersabda, “Wahai Maitreya! Demikianlah kupesankan kepadamu nanti masa lima ratus tahun kelima, saat lenyapnya dharma sejati, engkau harus melindungi mustika Buddha, Dharma dan Sangha. Jangan sampai lenyap dan terputus.” Seketika itu juga Trisahasra Maha sahasra lokya dhatu (alam semesta) dipenuhi cahaya terang dan dikikuti enam bentuk suara gemuruh yang dahsyat. Semua makhluk suci dan deva serentak menghormati Bodhisatva Maitreya dengan sikap anjali sambil berkata, “Sang Tathagata telah berpesan kepadamu yang mulia dengan pengharapan seluruh umat manusia dan deva mendapatkan berkah kebahagiaan, terimalah pesan itu Yang Mulia!”
Saat itu Bodhisatva Maitreya segera berdiri sambil menampakkan bahu kanannya dan berlutut menghormati Sang Buddha dengan sikap anjali: “Junjungan Dunia, demi keselamatan semua makhluk aku telah menerima penderitaan laksaan kalpa yang tak terhitung, apalagi kini Tathagata telah menyampaikan pesan Dharma sejati, bagaimana mungkin tidak diterima? Wahai Junjungan Dunia! Kini aku berjanji pada masa yang akan datang akan kubabarkan Dharma Anuttara Samma Sambodhi yang telah Tathagata capai dalam perjuangan berlaksa-laksa asam-kheya kalpa yang tak terhitung!”
Disadur oleh: LiangYiin

