ALAM SEMESTA

June 9th, 2010
Konsep “Dunia Satu Keluarga” Part-1

Sepanjang sejarah manusia hingga sekarang, dunia terus terpecah belah dan semakin porak-poranda. Enam miliar insan manusia seluruhnya adalah putra-putri Tuhan. Namun kini sesama manusia saling menjaga jarak, saling menjauhi, dan berdiskriminasi satu sama lain. Selalu berselisih dan bertikai, hingga akhirnya saling mencelakai. Betapa tragisnya! Pada hakekatnya dunia adalah satu keluarga. Namun dengan terbentuknya lebih dari 200 negara, justru manusia jadi tersekat satu sama lain. Warna kulit, kebangsaan, agama, keyakinan, budaya, hingga adat istiadat juga menjadi dinding pemisah antarmanusia. Terlebih lagi, antara yang kaya dan yang miskin, yang mulia dan yang hina, yang pintar dan yang bodoh, yang jelita dan yang buruk rupa juga saling berseberangan. Beda partai juga saling menjauhi. Beda ideologi politik juga saling bermusuhan. Pertentangan-pertentangan ini adalah tragedi bagi umat manusia! Mungkinkah Tuhan tidak bersedih hati melihat semua tragedi yang menimpa seluruh putra-putrinya terkasih?

Tujuan hadirnya Maha Tao Maitreya di dunia ini adalah untuk mewujudkan dunia satu keluarga. Inilah misi utamanya! Seorang pembina yang tidak memahami misi, tentu pembinaannya akan menjadi sia-sia! Maha Tao Maitreya merupakan sebuah anugerah yang diturunkan Tuhan. Hadirnya Maha Tao Maitreya adalah hadirnya abad Maitreya, abad dunia satu keluarga! Karenanya, sebelum abad-21, apapun teori dharma yang disampaikan tidaklah menjadi persoalan. Namun kini setiap pembina yang berada di abad-21 harus segera memperbaharui pola pandang, pola pikir, dan pola tindakannya. Menata kembali nilai, tujuan hidup, dan konsep pikiran kita. Memperbaharui menjadi seperti apa? Yaitu menjadi konsep dunia satu keluarga! Abad-21 adalah abadnya dunia satu keluarga. Kalau kita tidak memiliki jiwa dan konsep dunia satu keluarga, kita akan tersisih oleh zaman.

Ikrar Agung Buddha Maitreya adalah mewujudkan dunia satu keluarga, semua bangsa dan negara menjadi satu keluarga, semua agama juga menjadi satu keluarga. Semua adalah satu keluarga. Di abad-21 ini, baik Sesepuh, Pimpinan, Pandita, ataupun para umat harus memiliki konsep dan jiwa ‘dunia satu keluarga’. Hanya dengan demikian, barulah kita dapat mengemban misi agung Buddha Maitreya.

Pada tanggal 14 Agustus 2007,  dalam rangka penyelenggaraan Festival Seni Tari Kasih Semesta Internasional ke-4, saya diundang untuk menjadi pembicara di sebuah diskusi panel yang diadakan oleh delegasi China di Jakarta. Saat membahas konsep dunia satu keluarga, beberapa di antara tamu tersebut mulai meneteskan air mata haru. Walau belum mendapatkan Dhiksa Maitreya, tetapi begitu mendengar konsep dunia satu keluarga ini, mereka sangat tergugah. Bagaimana dengan kita yang menjadi Pandita, Dharmaduta, dan umat Maitreya? Jika kita memiliki konsep dunia satu keluarga, niscaya kita akan memiliki kebesaran jiwa yang luar biasa serta wawasan yang luas. Kita tidak akan lagi terhalang dan terhambat oleh hal-hal kecil. Visi kita menjadi jauh ke depan. Jiwa kita dapat merangkul siapa saja. Dengan demikian kita baru dapat mengemban misi akbar Buddha Maitreya ini. Jika kita tidak memiliki semangat ‘dunia satu keluarga’, kita tidak akan dapat melaksanakan misi agung ini!

Disadur oleh: Liang Yiin

SHARE

SocialTwist Tell-a-Friend