January 19th, 2010
Festival Anak Maitreya – Jakarta
Setelah melalui proses persiapan selama tiga bulan akhirnya tibalah hari yang ditunggu-tunggu itu. Minggu, 21 Juni 2009, Pusdiklat Buddhis Maitreyawira terlihat berbeda. Hari itu gedung tampil cantik dengan dekorasi warna-warni ceria dan taburan balon-balon. Yeeaaah…. ada apa gerangan? Ternyata gedung didandani untuk menyambut kedatangan 834 anak dari Jakarta, Bandung, Cirebon, Bogor, Tangerang, dalam acara Hari Anak Maitreya.Acara yang direncanakan berlangsung sejak pukul 09.00 pagi ini sudah mulai dihadiri anak-anak sejak satu jam sebelumnya. Wajah-wajah imut terlihat ceria ketika menyadari bahwa kedatangan mereka disambut dengan ramah oleh kakak-kakak tim Karang Laut yang hari itu rela berpanas-panas memakai kostum Raja dan Permaisuri Tiongkok, Raja dan Permaisuri Eropa, Peri, Pangeran serta Kupu-kupu dan Pohon, di pintu masuk lantai satu. Untuk menghidupkan suasana kepada setiap anak yang hadir, panitia segera membagikan bendera berwarna-warni. Dengan langkah penuh semangat, mereka segera menuju lantai tiga tempat berlangsungnya acara.Untuk keamanan dan kenyamanan, selama berlangsungnya acara, anak-anak semua lesehan duduk di lantai.
Disiarkan langsung via internet
Suasana lantai tiga pun berubah menjadi heboh. Kibaran bendera kecil berwarna-warni disertai sorak-sorai gembira dari mulut-mulut mungil kerap terdengar menggema, apalagi MC kak Shenfu dan kak Suyanti tampil penuh semangat dan komunikatif. Ruangan pun terasa sesak karena selain anak-anak, para orang tua dan kakak-kakak panitia juga tak mau ketinggalan ikut bergembira. Lebih dari 1.700 orang berkumpul bersama merayakan acara yang mengusung tema ”Buddha Maitreya Mengasihiku” ini. Acara ini juga disiarkan langsung lewat internet sehingga seluruh Indonesia bahkan luar negeri dapat menontonnya dengan mengakses di http://www.maitreyavoice.com/in.
Ramah Lingkungan
Dalam perayaan yang konon merupakan acara anak pertama yang pernah diselenggarakan oleh Wadah Ketuhanan, panitia menyediakan menu vegan baik makanan utama maupun snack-nya. Makanan kesukaan anak-anak, ice cream pun dipesan khusus agar tidak memakai susu hewani tapi diganti dengan susu kedelai. Anak-anak juga diajak berpartisipasi untuk ikut menekan kerusakan lingkungan, yang salah satu penyebabnya adalah sampah-sampah plastik. Panitia mewajibkan anak-anak untuk membawa botol minum sendiri karena panitia tidak membagikan air minum kemasan sehingga dapat mengurangi sampah botol. Sedangkan menu makanan dikemas dengan kotak kertas yang ramah lingkungan. Tidak ada streofoam pada hari itu.
Penuh dengan Pesan moral
Berbagai acara kesenian yang sarat dengan pesan moral pun di gelar, seperti Milezhiwu, Tembang Ketuhanan, Drama Nurani, Puisi, Happy Games dan lain-lain yang dipersembahkan oleh anak-anak Korda Tiga. Penampilan anak-anak kerap mengundang tawa, karena kepolosan wajah mereka dan gerakan yang kadang-kadang tidak kompak, khas anak-anak. Kompak tidak kompak urusan belakang, yang penting tampil PD dengan gaya yang penuh semangat. Untuk lebih meramaikan suasana, anak-anak juga diajak Gong Le bersama, suasana pun menjadi ramai, goyang kiri…goyang kanan….tepuk tangan…lah..lah…lah.
Ada pula pertunjukan angklung dari anak-anak Sekolah Minggu Maitreya (SMM) Bandung yang mengundang tepuk tangan riuh karena peserta kecil-kecil juga ikut pentas dengan mimik polos dan senyum manisnya. Para juara Maitreya Idol Cilik juga ikut menyumbangkan suara emasnya. Ada Terence , sang juara 1 Maitreya Idol kategori A dan Stefanny Djunawan, juara 1 kategori B . Tidak ketinggalan, wakil Guru SMM, Kristian juga tampil menghibur duet dengan anak didiknya Rianto.
Selain pertunjukan seni, anak-anak juga disuguhkan Happy Game yang dipersembahkan kakak-kakak dari Vihara Ajitta dan Tanjung Duren. Kakak-kakak mengajak anak-anak berperan aktif dengan melempar beberapa quiz. Setiap anak yang berhasil menjawab maka akan mendapat hadiah alat tulis. Waahhhh suasana pun menjadi heboh! Anak-anak berebutan mengacungkan jari sambil berteriak-teriak, ”Saya…saya…”, agar diberi kesempatan menjawab. Situasi menjadi ”panas” karena anak-anak mulai mengejar kakak-kakak, dan semakin lama semakin banyak yang mengejar sampai kakak-kakak kewalahan, keringat pun mulai mengalir deras. Permainan sempat dihentikan sesaat untuk menertibkan anak-anak karena khawatir mereka jatuh dan terluka. Sungguh heboh sekali! Ahh…anak-anak…. tetaplah anak-anak, selalu ceria.
Puncak acara hari itu adalah Drama Anak yang skenarionya ditulis khusus oleh kakak-kakak redaksi Boma (majalah anak-anak Maitreya). Drama menggambarkan kehidupan sehari-hari Anak-anak Maitreya, di mana pesan moral yang disampaikan adalah bahwa Buddha Maitreya selalu melindungi dan menolong anak-anak yang berbakti pada orang tua, yang selalu rajin ke Vihara, yang rajin berdoa. Anak-anak tak perlu takut jika menghadapi ulangan, atau papa mama sedang tidak ada di sisi mereka karena Buddha Maitreya selalu menjaga mereka. Yang penting anak-anak selalu berdoa kepada Buddha Maitreya. Sesi Drama yang dimainkan sekitar 30 anak-anak gabungan vihara-vihara Korda 3 ini berlangsung semarak dengan tampilan kostum hewan, tumbuhan, pakaian adat dan mancanegara.
Bertujuan Meningkatkan Iman Anak-anak
Adapun tujuan diselenggarakan acara ini adalah untuk meningkatkan iman anak-anak terhadap Buddha Maitreya , yang dipersembahkan melalui acara yang sesuai dengan dunia anak-anak yang gembira. Selain itu juga untuk memberi memori yang indah kepada anak-anak bahwa Vihara memperhatikan mereka, Para Pandita, Para Pandita Madya/Muda, umat-umat dewasa, semua mengasihi mereka. Acara ini mendapat dukungan penuh dari para Pandita dan umat-umat dewasa, semua gotong royong dalam menyumbangkan dana, tenaga dan pikirannya untuk anak-anak kita tercinta, anak-anak penerus Wadah Ketuhanan kita. Para pimpinan, Bapak Pandita Citra Surya (waketum DPP Mapanbumi), Bpk. Pdt. Hussar Djamin (Korda 3 Mapanbumi), Bpk. Pdt. Halim Zen Bodhi (Wakil Korda 3 Mapanbumi) memberi dukungan penuh , mereka pun meluangkan waktu memberi sambutan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak-anak, begitu pula para Pandita di lingkungan Korda 3, menyempatkan hadir ikut bergembira dan memberi semangat.
Sekitar pukul 13.00 acara yang melibatkan panitia sekitar 400 orang dari guru-guru Sekolah Minggu Maitreya dan umat-umat dewasa ini pun selesai (benaran loh jumlah 400 orang, karena sebagai ketua panitia saya diberi laporan oleh para kordinator jumlah panitia di tiap bagian). Semua anak-anak yang hadir mendapat oleh-oleh souvenir yang dirancang khusus redaksi Boma. Souvenir berupa permainan (semacam monopoli) yang dirancang untuk meningkatkan iman anak-anak yang disesuaikan dengan tema acara. Para redaksi Boma tidak saja menuliskan skenario dan merancang souvenir tapi juga secara khusus menciptakan satu lagu anak-anak yang diselipkan di dalam drama yaitu :
Jangan Bersedih Kawan
Jangan bersedih hati kawan, Buddha Maitreya di sampingmu
Jangan bersusah hati kawan, Buddha Maitreya bersamamu
Buddha Maitreya, Buddha Maitreya …. Penyelamat Triloka
Buddha Maitreya, Buddha Maitreya …. Penyelamat kita semua
Hati sungguh bahagia, penuh tawa ceria
Buddha Maitreya selalu membawa sukacita
Mari kawan berdoa pada Buddha Maitreya
Buddha Maitreya selalu mengasihi kita semua
Akhirnya, terima kasih tak terhingga kami ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya acara ini, yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu, karena banyaknya pihak yang berpartisipasi baik dalam bentuk pikiran, dana, tenaga dan sebagainya. Biarlah LAOMU dan para Buddha Bodhisatva yang akan mencatat dengan tinta emas semua pengorbanan Anda. Sampai berjumpa tahun depan.
Liputan oleh : Liliyana Waty (Lilimetta)

