<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Maha Tao Maitreya</title>
	<atom:link href="http://www.maitreya.or.id/2010/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.maitreya.or.id/2010</link>
	<description>Buddhisme Maitreya</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Aug 2010 13:35:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Budaya, Peradaban dan Moralitas Baru Part-2</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/budaya-peradaban-dan-moralitas-baru-part-2</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/budaya-peradaban-dan-moralitas-baru-part-2#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 13:34:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=330</guid>
		<description><![CDATA[Inilah semangat yang harus dikembangkan oleh seorang Sesepuh, Pandita, Pandita Muda, Pelaksana, Dharmaduta, dan seluruh umat. Dengan memiliki semangat dunia satu keluarga ini, kita akan menjadi manusia abad-21 yang paling bermartabat dan berkualitas. Kita baru dapat membantu misi Buddha Maitreya dan berpartisipasi pada babak penyatusempurnaan terakhir kelak. Jika tidak demikian, kita akan tereliminasi oleh zaman!
Berkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/08/12144_1090781168810_1804936.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-331" title="12144_1090781168810_1804936" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/08/12144_1090781168810_1804936.gif" alt="" width="275" height="230" /></a>Inilah semangat yang harus dikembangkan oleh seorang Sesepuh, Pandita, Pandita Muda, Pelaksana, Dharmaduta, dan seluruh umat. Dengan memiliki semangat dunia satu keluarga ini, kita akan menjadi manusia abad-21 yang paling bermartabat dan berkualitas. Kita baru dapat membantu misi Buddha Maitreya dan berpartisipasi pada babak penyatusempurnaan terakhir kelak. Jika tidak demikian, kita akan tereliminasi oleh zaman!</p>
<p>Berkat kemajuan transportasi dan teknologi informasi, serta jangkauan internet yang menakjubkan, dimensi waktu dan ruang di bumi menjadi semakin kecil. Dengan satu telepon genggam, kita bisa terhubung ke seluruh pelosok dunia. Sebelum abad-21, konsep ‘dunia bagai satu desa’ telah menjadi tren di masyarakat. Saat itu telah ramai dibicarakan bahwa dimensi ruang semakin kecil dan waktu semakin singkat. Kini memasuki abad-21 yang semakin maju, konsep ‘dunia satu desa’ secara alami tak terbendung, berubah menjadi ‘dunia satu keluarga’.</p>
<p>Sayangnya, walau dimensi ruang dan waktu semakin mengecil, dunia satu keluarga belum juga terwujud. Dunia ini masih terpecah belah! Apa penyebabnya? Penyebabnya adalah masih eksisnya dinding-dinding pemisah yang menjulang tinggi di antara umat manusia, sehingga menghalangi umat manusia untuk hidup harmonis dan saling mengasihi.</p>
<p>Egoisme, prasangka, dan ketidaktahuan umat manusia, membuat dunia satu keluarga menjadi sulit dicapai. Begitu banyak dinding pemisah yang kasat mata. Beda kewarganegaraan menjadi dinding pemisah. Beda agama juga menjadi dinding pemisah yang tinggi. Beda ras, warna kulit, dan bangsa adalah suatu dinding pemisah. Beda budaya dan ideologi juga menjadi dinding pemisah. Adat istiadat dan kebiasaan juga adalah dinding pemisah. Beda aksara dan bahasa juga dinding pemisah. Kaya, miskin, mulia, dan hina juga menjadi dinding pemisah. Pandai, bodoh, cantik, dan buruk rupa juga suatu dinding pemisah. Dan yang lebih trendi lagi, perbedaan partai juga membangun dinding pemisah. Terlalu banyak dinding pemisah!</p>
<p>Dinding-dinding pemisah ini menghalangi rasa persaudaraan umat manusia dan membuat jarak sesama semakin jauh. Sekalipun dimensi waktu dan ruang sudah menyempit, namun jarak antarsesama manusia justru semakin melebar. Terdapat terlalu banyak pertentangan. Terlalu banyak sikap dingin, saling menjauhi, saling berselisih dan bermusuhan. Akhirnya timbul pertikaian, percekcokan, saling menganiaya, dan saling mencelakai. Semakin hari semakin parah. Dan hingga detik ini belum ada tanda-tanda penyelesaiannya. Inilah sisi gelap dari kehidupan umat manusia, sisi yang paling menyedihkan dan memprihatinkan!</p>
<p>Sebagai siswa-siswi Maitreya, kita semua mendapat Titah dari Tuhan dan Buddha Maitreya untuk mewujudkan suara hati Tuhan dan jiwa Buddha Maitreya, yaitu mewujudkan dunia satu keluarga sesegera mungkin. Inilah tujuan hidup yang harus diwujudkan oleh kita semua. Inilah proyek pekerjaan yang paling akbar dalam hidup kita. Inilah intisari dari pembinaan dan pengamalan dalam Maha Tao Maitreya. Terpisah dari intisari ini, semuanya menjadi pembinaan yang sia-sia dan tiada guna. Tugas dan misi siswa-siswi Maitreya adalah melenyapkan dinding-dinding pemisah yang tak terhitung jumlahnya. Apalagi sebagai Pandita dan Dharmaduta, kita harus terus membabarkan kebenaran untuk meruntuhkan dinding-dinding pemisah tersebut!</p>
<p>Puji syukur atas Rahmat Tuhan, Kasih Buddha Maitreya, dan Kebajikan Dwiguru Agung Nurani. Buddha Maitreya telah mengarahkan kita kepada konsep ‘dunia satu keluarga’ untuk meruntuhkan berbagai jenis dinding pemisah. Namun selain memiliki konsep, kita juga membutuhkan tenaga-tenaga manusia untuk menerapkannya, sehingga dinding-dinding pemisah tersebut baru dapat diruntuhkan satu-persatu.</p>
<p><strong> </strong>Makna luhur Tembang Pujian Semesta adalah intisari dari budaya kasih semesta<strong>. </strong>Untuk meruntuhkan dinding-dinding pemisah, hanya dapat dilakukan dengan mengembangluaskan budaya kasih semesta, agar kasih semesta menjadi nilai, kebudayaan, peradaban, dan kebiasaan bersama seluruh umat manusia, menjadi nilai, budaya, dan peradaban baru abad-21. Kasih semesta berarti mengasihi langit-bumi, semua manusia, seluruh makhluk dan segala kehidupan. Jika setiap insan telah melaksanakannya, maka dengan sendirinya dinding-dinding pemisah tersebut akan runtuh dan hilang tak berbekas.</p>
<p><strong>Disadur oleh: LiangYiin</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/budaya-peradaban-dan-moralitas-baru-part-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Budaya, Peradaban dan Moralitas Baru Part-1</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/budaya-peradaban-dan-moralitas-baru</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/budaya-peradaban-dan-moralitas-baru#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Aug 2010 12:47:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[Budaya, peradaban, dan moralitas baru umat manusia dipelopori oleh siswa-siswi Maitreya. Abad-21 yang adalah abad Maitreya, sekaligus juga merupakan abad kebangkitan kecemerlangan hati nurani umat manusia. Jika abad Maitreya sudah benar-benar terwujud, maka seluruh negara akan maju, tidak hanya negara Barat saja! Kita menganggap segala satwa sebagai saudara, karena itu kita bervegetarian. Di negara Barat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/08/backdrop-festival-anak-maitreya-copyed.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-326" title="backdrop-festival-anak-maitreya-copyed" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/08/backdrop-festival-anak-maitreya-copyed.gif" alt="" width="250" height="241" /></a>Budaya, peradaban, dan moralitas baru umat manusia dipelopori oleh siswa-siswi Maitreya. Abad-21 yang adalah abad Maitreya, sekaligus juga merupakan abad kebangkitan kecemerlangan hati nurani umat manusia. Jika abad Maitreya sudah benar-benar terwujud, maka seluruh negara akan maju, tidak hanya negara Barat saja! Kita menganggap segala satwa sebagai saudara, karena itu kita bervegetarian. Di negara Barat juga terdapat sejumlah orang yang menjunjung kemuliaan kehidupan.</p>
<p>Di Eropa, populasi vegetarian yang terbanyak terdapat di Jerman, di mana beberapa juta orang yang telah bervegetarian. Motif mereka bervegetarian adalah menjunjung kemuliaan kehidupan. Populasi vegetarian terbesar kedua adalah di Inggris. Juga beberapa juta jiwa. Menurut perkiraan pakar, pada tahun 2043, seluruh populasi di Inggris akan bervegetarian. Penyebabnya bukanlah faktor agama, melainkan karena menjunjung dan menghargai kemuliaan kehidupan. Sekalipun mereka belum mendapatkan Dhiksa Maitreya ¤, tetapi mereka begitu menghargai kehidupan sehingga pantang mengonsumsi daging dan ikan. Ini adalah bagian dari kebangkitan kesadaran nurani dan kebijaksanaan umat manusia.</p>
<p>Hewan juga mempunyai hak asasinya. Kita tidak boleh merampas hak hidup mereka. Jangan lagi kita mengorbankan hidup mereka, semata demi mengenyangkan perut kita. Karena pada dasarnya kita tidak berhak! Mari kita bertanya ke dalam nurani, atas dasar apa kita sebagai manusia boleh memakan mereka? Sebaliknya bagaimana tanggapan kita jika hewan menjadikan manusia sebagai makanan mereka?</p>
<p>Sekuntum bunga, sehelai rumput, dan sebatang pohon adalah bagian dari anggota keluarga alam semesta. Menghargai kehidupan tidak hanya menganggap segala satwa sebagai saudara, bahkan bunga, rumput, dan pepohonan juga merupakan anggota keluarga kita di rumah alam semesta ini. Kita melihat langit dan bumi sebagai ayah dan bunda. Enam miliar manusia di seluruh dunia adalah saudara. Segala satwa juga saudara, dan segala tumbuhan adalah anggota keluarga kita. Kita menjunjung kemuliaan setiap kehidupan. Gambaran ini telah melukiskan bagaimana kondisi dunia satu keluarga yang sebenarnya. Inilah jiwa Buddha Maitreya, inilah suara hati dan seruan Tuhan &#8211; Sang Bunda Ilahi.</p>
<p>Apa yang dimaksud dengan dunia satu keluarga juga tertuang dalam tembang Pujian Kedamaian Dunia sebagai berikut:</p>
<p><em>Kamu dan aku satu keluarga, bumi satu keluarga</em></p>
<p><em>Semua manusia satu keluarga, dunia satu keluarga</em></p>
<p><em>Kewarganegaraan berbeda-beda, namun tetap satu keluarga</em></p>
<p><em>Beragam agama dan keyakinan, juga adalah satu keluarga</em></p>
<p><em>Beraneka ragam suku bangsa, tetap satu keluarga</em></p>
<p><em>Berbeda warna kulit dan ras, tetapi juga satu keluarga</em></p>
<p><em>Beraneka ragam kebangsaan, semua satu keluarga</em></p>
<p><em>Berbeda budaya namun tetap satu keluarga</em></p>
<p><em>Berbeda adat istiadat juga satu keluarga</em></p>
<p><em>Berbeda kebiasaan, juga satu keluarga</em></p>
<p><em>Berbeda bahasa, juga satu keluarga</em></p>
<p><em>Berbeda aksara, juga satu keluarga</em></p>
<p><em>Seluruh umat manusia satu keluarga</em></p>
<p><em>Semua makhluk hidup satu keluarga</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><strong>Disadur oleh: LiangYiin</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/budaya-peradaban-dan-moralitas-baru/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arus Dunia &#8220;Budaya Kasih Semesta&#8221; Part-2</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/arus-dunia-budaya-kasih-semesta</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/arus-dunia-budaya-kasih-semesta#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 04:03:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[Melalui budaya kasih semesta, dengan memancarkan pesona keindahan kodrati manusia, kita wujudkan dunia satu keluarga! Sabda Hao Che Ta Ti telah terbukti! Kita bukanlah manusia super yang memiliki kekuasaan atau ilmu gaib yang luar biasa. Kita juga tidak memiliki uraian dharma yang tinggi dan gaib. Kita hanya berpegang teguh pada hati Tuhan &#8211; Bunda Semesta, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/07/052.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-320" title="05" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/07/052.gif" alt="" width="300" height="250" /></a>Melalui budaya kasih semesta, dengan memancarkan pesona keindahan kodrati manusia, kita wujudkan dunia satu keluarga! Sabda Hao Che Ta Ti telah terbukti! Kita bukanlah manusia super yang memiliki kekuasaan atau ilmu gaib yang luar biasa. Kita juga tidak memiliki uraian dharma yang tinggi dan gaib. Kita hanya berpegang teguh pada hati Tuhan &#8211; Bunda Semesta, berpegang teguh pada hati Buddha Maitreya, dan kebajikan Dwiguru Agung Nurani. Kita ingin mewujudkan dunia satu keluarga agar dunia surgawi, negeri buddhata, kerajaan Tuhan, bumi suci sukavati dapat terwujud di bumi ini. Kita hanya berteguh pada semangat ini. Jika kita bisa menghayati dan merealisasikannya sepenuh hati, maka yakinlah bahwa dunia ini akan mengikuti derap langkah kita!</p>
<p>Saudara kita bukan hanya 6 miliar umat manusia, bahkan unggas yang beterbangan di angkasa raya, hewan-hewan yang berlarian atau merayap di bumi, dan makhluk yang berenang di lautan luas, juga merupakan anggota keluarga kita. Yang dimaksud sebagai kehidupan, bukanlah sebatas pada kehidupan manusia saja. Kita masih mempunyai banyak sanak saudara. Tanpa sanak saudara ini, dunia pun akan kehilangan kegemilangan dan fungsinya! Jika di dunia ini tidak ada unggas yang beterbangan, hewan yang berlarian, dan satwa-satwa air, dunia tidak lagi semarak penuh warna. Alam semesta kehilangan nilai keindahannya! Mengapa keindahan alam semesta begitu melimpah? Karena selain manusia dan benda-benda yang pasif seperti gunung dan sungai, kita masih mempunyai saudara-saudari, yaitu aneka satwa. Mereka juga makhluk Tuhan. Mereka adalah bagian dari anggota keluarga kita yang tak terpisahkan.</p>
<p>Konsep yang kita miliki melampaui konsep negara-negara Eropa dan Amerika yang sangat mengutamakan perlindungan alam, namun kurang menekankan kasih kepada manusia. Yang mereka utamakan adalah mencintai tumbuhan dan satwa langka, melindungi bumi agar tidak tercemar. Tanah tidak tercemar, air tidak tercemar, udara tidak tercemar, dan makanan tidak tercemar. Inilah konsep kasih alam yang mereka maksud. Sedangkan kasih alam yang kita maksud mencakup semangat mengasihi manusia dan menjunjung segala bentuk kehidupan. Mereka akan takjub dengan konsep yang luar biasa ini. Inilah budaya dan peradaban baru dari belahan Timur dunia, yang akan memperbaharui apa yang dikembangkan di Barat selama ini.</p>
<p>Sebelumnya Maha Sesepuh Yen pernah berpesan untuk membentuk satu tim tari kasih semesta dari Negara Kanada dan Amerika Serikat untuk mengikuti Festival Seni Tari Kasih Semesta Internasional. Saya pun sering menghubungi para Pandita dan asisten pengajar di sana agar segera membentuk tim tersebut. Awalnya ada beberapa orang yang datang namun selalu berhenti di tengah jalan. Jawaban dari Pandita di sana, <em>“Sesepuh</em><em>, orang-orang di sini kurang bisa menerima konsep mengasihi</em><em> alam semesta dengan nyanyian dan tarian</em><em>.</em><em> Yang mereka tahu </em><em>selama ini mengasihi</em><em> alam </em><em>adalah dengan m</em><em>enanam bunga, rumput, pohon, </em><em>ataupun </em><em>memungut sampah. </em><em>Demikianla</em><em>h</em><em> cara mengasihi</em><em> alam bagi mereka.</em><em> Jika k</em><em>ita men</em><em>g</em><em>atakan </em><em>menga</em><em>sih</em><em>i</em><em> alam semesta harus</em><em> dimulai dengan</em><em> mengasihi semua manusia dan segala kehidupan</em><em>, maka</em><em> tanggapan mereka adalah hal itu tidak pernah diajarkan di sekolah</em><em> dan sulit untuk dipahami</em><em>!” </em></p>
<p>Kita menjadikan segala satwa sebagai saudara, namun bagi mereka hal itu tidak masuk akal. Mereka hanya mengutamakan satwa yang dilindungi saja. Sesungguhnya dengan menganggap segala satwa adalah saudara, inilah jiwa kasih Buddha Maitreya dan kasih Bunda Semesta yang universal dan tak berbatas. Mari kita bertanya ke dalam nurani. Apakah hanya kehidupan harimau, singa, dan satwa-satwa langkah saja yang perlu dilindungi dan dihargai? Sedangkan nyawa dari hewan seperti babi, ayam, itik, kambing, dan kerbau tidak bernilai, sehingga pantas untuk disembelih dan disantap? Sikap seperti ini pada dasarnya tidak menjunjung kemuliaan kehidupan secara universal. Nyawa seekor babi ataupun nyawa seekor harimau, dan nyawa seekor kerbau atapun nyawa seekor singa, adalah sama nilainya! Bila demikian, mengapa hanya satwa seperti harimau, singa, dan lainnya harus dilindungi, sementara kerbau, babi, ayam, itik, dan kambing boleh dibunuh untuk dinikmati? Hal ini juga merupakan bentuk diskriminasi, penindasan, dan penyiksaan terhadap kemuliaan kehidupan yang universal.</p>
<p><strong>Disadur oleh: LiangYiin</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/arus-dunia-budaya-kasih-semesta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arus Dunia &#8220;Budaya Kasih Semesta&#8221; Part-1</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/arus-dunia-budaya-kasih-semesta-part-1</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/arus-dunia-budaya-kasih-semesta-part-1#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 14:49:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[Ingin menjadi seorang Dharmaduta atau kader Maitreya yang handal? Jiwailah dengan mendalam semangat &#8220;dunia satu keluarga&#8221;. Dengan demikian kita baru memenuhi syarat menjadi Dharmaduta dan baru layak menyelamatkan dunia. Kita baru benar-benar menyebarluaskan Rahmat Tuhan dan Kebajikan Kasih Buddha Maitreya! Jika tidak demikian, kita hanya membina dengan sia-sia dan menyesatkan umat manusia. Setiap zaman memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/07/03.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-314" title="03" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/07/03-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Ingin menjadi seorang Dharmaduta atau kader Maitreya yang handal? Jiwailah dengan mendalam semangat &#8220;dunia satu keluarga&#8221;<strong>. </strong>Dengan demikian kita baru memenuhi syarat menjadi Dharmaduta dan baru layak menyelamatkan dunia. Kita baru benar-benar menyebarluaskan Rahmat Tuhan dan Kebajikan Kasih Buddha Maitreya! Jika tidak demikian, kita hanya membina dengan sia-sia dan menyesatkan umat manusia. Setiap zaman memiliki kondisi dan situasi yang unik. Mari perbaharui pola pandang kita! Mari segarkan pola pikir kita!</p>
<p>Dengan konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, masih adakah segala perbedaan, perselisihan, pertentangan, dan diskriminasi antarkelompok? Masih adakah perseteruan benar-salah, dendam dan benci di antara kita? Bila masih ada, bukankah kita akan merasa sangat malu! Karena segala perbuatan kita tersebut hanya akan menjatuhkan Buddha Maitreya, dan pasti akan mendatangkan kesedihan bagi Tuhan! Kita semua adalah putra-putri-Nya. Jika masih saling berselisih, bertentangan, berdiskirimasi, dan saling menaruh dendam, betapa hancurnya hati Bunda Semesta. Jika telah mengecewakan Tuhan, tentunya para Buddha dan Bodhisatva juga tidak akan mengampuni kita. Perbuatan yang membuat hati Tuhan sedih tentu berakibat fatal! Para Buddha dan Bodhisatva tidak akan membantu, dan sebaliknya akan memberikan hukuman!</p>
<p>Lalu, bagaimanakah jika kita ingin membahagiakan hati Tuhan? Teladani Buddha Maitreya. Buddha Maitreya adalah anak Tuhan yang sangat berbakti. Beliau senantiasa membahagiakan Bunda Ilahi. Ikrar agung untuk mewujudkan dunia satu keluarga, enam miliar umat manusia menjadi satu keluarga, inilah Dharma Hati yang tiada tara, yang juga merupakan suara hati Tuhan dan seruan-Nya kepada kita semua! Mari kita ikut melangkah bersama dengan-Nya.</p>
<p>Sebagai satu keluarga, adakah yang perlu dibeda-bedakan? Jika masih ada diskriminasi kewarganegaran, kebangsaan, agama, keyakinan, ras, warna kulit, budaya, adat istiadat, bahasa, bahkan kaya-miskin, pintar-bodoh, cantik-jelek, bukankah kita sudah bertindak dungu dan kekanakan! Hal ini jelas membelakangi hati Tuhan, hati Buddha Maitreya, dan kebajikan Dwiguru Agung Nurani! Dwiguru Agung Nurani turun ke dunia dan mentransmisikan Dhiksa Maitreya  adalah untuk membuka pintu hati nurani, pintu ilahi, gerbang buddhata. Dwiguru Agung Nurani turun ke dunia dan membuka pintu nurani kita ¤ adalah sebagai langkah awal untuk mewujudkan dunia satu keluarga.</p>
<p>Oleh karena itu, yang selaras dengan kehendak Tuhan akan berkembang jaya, dan yang berlawanan akan sirna. Yang selaras dengan hati Tuhan dan Buddha Maitreya akan berkembang jaya dan hidup sejahtera. Yang bertentangan dengan hati Tuhan, Buddha Maitreya, dan Dwiguru Agung Nurani, bertolak belakang dengan konsep ‘dunia satu keluarga’, akhirnya akan sirna. Hao Che Ta Ti pernah bersabda, <em>“Membina Ketuhanan</em><em> sesungguhnya mudah</em><em>, </em><em>yang </em><em>sulit adalah mengatasi masalah </em><em>antarmanusia</em><em>!” </em>Namun di abad-21, masalah-masalah antarmanusia ini akan sirna. Karena sekarang adalah abad dunia satu keluarga<strong>, </strong>era Buddha Maitreya. Masih adakah masalah antarmanusia dalam satu keluarga yang tidak dapat diatasi? Bila masih ingin bertentangan dengan kehendak Tuhan dan melawan hati Dwiguru Agung Nurani, hati Buddha Maitreya, maka Tuhan tidak akan memaafkan! Di abad dunia satu keluarga ini, barang siapa yang tidak mau menyesuaikan diri, kelak akan tersisihkan. Sangat sederhana!</p>
<p>Kita semua hendaknya merasa sangat beruntung dan bahagia, karena dapat berjalan di barisan terdepan dunia! Kita sedang mulai mengembangkan <strong>Budaya Kasih Semesta, </strong>untuk mewujudkan dunia satu keluarga – taman sukacita semesta yang terindah. Sekalipun kita baru mulai melangkah, namun patrilah dalam hati secara mendalam dan kembangkanlah secara meluas. Ini adalah kesempatan terbaik untuk beramal kebajikan dan menunaikan ikrar.</p>
<p>Hao Che Ta Ti pernah bersabda bahwa kita tidak boleh terbawa arus masyarakat, namun masyarakatlah yang harus mengikuti derap langkah kita! Dulu saya sendiri kurang memahami, berdasarkan apa kita bisa membuat masyarakat mengikuti kita dan kita tidak mengikuti masyarakat? Sekarang barulah saya pahami dan kini saya telah berkeyakinan penuh. Maha Sesepuh Yen juga sangat berkeyakinan, bahwa kita harus membuat dunia mengikuti langkah kita, yaitu berdasarkan pada semangat &#8220;dunia satu keluarga&#8221;.</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Disadur oleh: LiangYiin</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/arus-dunia-budaya-kasih-semesta-part-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsep &#8220;Dunia Satu Keluarga&#8221; Part-2</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/299</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/299#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 12:13:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[Pendahulu kita mengatakan, ‘satu orang satu zaman’. Memasuki abad-21, tibalah abad Maitreya. Jika kita tidak segera berpadu ke dalam konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, maka dengan sendirinya kita tidak memenuhi persyaratan untuk berpartisipasi di dalamnya. Patriat Cin Kung hidup pada satu zaman. Bapak Guru Agung dengan zamannya dan Ibu Guru Suci juga dengan zamannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/06/dsk23.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-301" title="dsk2" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/06/dsk23.gif" alt="" width="249" height="207" /></a>Pendahulu kita mengatakan, ‘satu orang satu zaman’. Memasuki abad-21, tibalah abad Maitreya. Jika kita tidak segera berpadu ke dalam konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, maka dengan sendirinya kita tidak memenuhi persyaratan untuk berpartisipasi di dalamnya. Patriat Cin Kung hidup pada satu zaman. Bapak Guru Agung dengan zamannya dan Ibu Guru Suci juga dengan zamannya. Yang Suci Maha Sesepuh Kaosan juga berada dalam satu zaman. Setiap zaman mempunyai sebab jodohnya masing-masing. Kini kita telah memasuki era Buddha Maitreya. Bagaimana agar kita bisa berpartisipasi di zaman ini? Apa syaratnya? Sangat sederhana! Asal kita memiliki konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, kita sudah memenuhi syarat untuk berpartisipasi. Bisa berpartisipasi di zaman ini adalah hal yang teragung, termulia, tersukses, dan terbahagia!</p>
<p>Membina di abad-21, haruslah berlandaskan pada pokok iman utama yaitu ‘dunia satu keluarga’. Tanpa berlandaskan pada pokok iman utama ini, pembinaan diri kita menjadi tak berarah, sehingga sebesar apapun dedikasi kita, sekeras apapun perjuangan kita, semuanya takkan mendatangkan manfaat yang berarti. Tanpa memiliki konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, pada akhirnya kita hanya akan terjatuh ke dalam egoisme, menganggap <em>“Ini adalah viharaku, umatku, wilayahku, kelompokku, dan karyaku”</em>. Perbuatan seperti ini tentunya tidak lagi selaras dengan kehendak dan hati Tuhan, hati Buddha Maitreya dan hati Dwiguru Agung Nurani. Sehingga sebesar apapun karya dan vihara kita, semua jadi tidak bernilai! Pada akhirnya diri sendiri pun tersisihkan.</p>
<p>Sesungguhnya Bunda Ilahi, Buddha Maitreya, dan Dwiguru Agung Nurani tidak pernah menilai besar-kecilnya vihara dan banyak-sedikitnya jumlah umat. Yang dinilai adalah hati kita, apakah selaras dengan hati Dwiguru Agung Nurani, hati Buddha Maitreya, dan Hati Tuhan &#8211; Bunda Ilahi kita.</p>
<p>Dengan membabarkan konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, tidak akan ada seorang pun yang menentang. Pada pertemuan dengan sekitar 50 tamu delegasi Tiongkok di Jakarta tersebut, saya juga menyampaikan kembali bahwa tokoh-tokoh besar dalam sejarah Tiongkok terdahulu telah mengajarkan tentang dunia damai sentosa dan menjelaskan tugas-tugas kita sebagai penerus mereka, yaitu mewujudkan dunia satu keluarga. Mendengar penyampaian ini, sekalipun mereka bukan umat Maitreya, tetapi mereka sangat terharu dan tersentuh hatinya. Semoga kita semua bisa mengukirnya di dalam jiwa!</p>
<p><strong>Disadur Oleh: Liang Yiin</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/299/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsep &#8220;Dunia Satu Keluarga&#8221; Part-1</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/konsep-dunia-satu-keluarga-part-1</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/konsep-dunia-satu-keluarga-part-1#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 09:36:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Sepanjang sejarah manusia hingga sekarang, dunia terus terpecah belah dan semakin porak-poranda. Enam miliar insan manusia seluruhnya adalah putra-putri Tuhan. Namun kini sesama manusia saling menjaga jarak, saling menjauhi, dan berdiskriminasi satu sama lain. Selalu berselisih dan bertikai, hingga akhirnya saling mencelakai. Betapa tragisnya! Pada hakekatnya dunia adalah satu keluarga. Namun dengan terbentuknya lebih dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/06/292.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-281" title="29" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/06/292.gif" alt="" width="226" height="188" /></a>Sepanjang sejarah manusia hingga sekarang, dunia terus terpecah belah dan semakin porak-poranda. Enam miliar insan manusia seluruhnya adalah putra-putri Tuhan. Namun kini sesama manusia saling menjaga jarak, saling menjauhi, dan berdiskriminasi satu sama lain. Selalu berselisih dan bertikai, hingga akhirnya saling mencelakai. Betapa tragisnya! Pada hakekatnya dunia adalah satu keluarga. Namun dengan terbentuknya lebih dari 200 negara, justru manusia jadi tersekat satu sama lain. Warna kulit, kebangsaan, agama, keyakinan, budaya, hingga adat istiadat juga menjadi dinding pemisah antarmanusia. Terlebih lagi, antara yang kaya dan yang miskin, yang mulia dan yang hina, yang pintar dan yang bodoh, yang jelita dan yang buruk rupa juga saling berseberangan. Beda partai juga saling menjauhi. Beda ideologi politik juga saling bermusuhan. Pertentangan-pertentangan ini adalah tragedi bagi umat manusia! Mungkinkah Tuhan tidak bersedih hati melihat semua tragedi yang menimpa seluruh putra-putrinya terkasih?</p>
<p>Tujuan hadirnya Maha Tao Maitreya di dunia ini adalah untuk mewujudkan dunia satu keluarga. Inilah misi utamanya! Seorang pembina yang tidak memahami misi, tentu pembinaannya akan menjadi sia-sia! Maha Tao Maitreya merupakan sebuah anugerah yang diturunkan Tuhan. Hadirnya Maha Tao Maitreya adalah hadirnya abad Maitreya, abad dunia satu keluarga! Karenanya, sebelum abad-21, apapun teori dharma yang disampaikan tidaklah menjadi persoalan. Namun kini setiap pembina yang berada di abad-21 harus segera memperbaharui pola pandang, pola pikir, dan pola tindakannya. Menata kembali nilai, tujuan hidup, dan konsep pikiran kita. Memperbaharui menjadi seperti apa? Yaitu menjadi konsep dunia satu keluarga! Abad-21 adalah abadnya dunia satu keluarga. Kalau kita tidak memiliki jiwa dan konsep dunia satu keluarga, kita akan tersisih oleh zaman.</p>
<p>Ikrar Agung Buddha Maitreya adalah mewujudkan dunia satu keluarga, semua bangsa dan negara menjadi satu keluarga, semua agama juga menjadi satu keluarga. Semua adalah satu keluarga. Di abad-21 ini, baik Sesepuh, Pimpinan, Pandita, ataupun para umat harus memiliki konsep dan jiwa ‘dunia satu keluarga’. Hanya dengan demikian, barulah kita dapat mengemban misi agung Buddha Maitreya.</p>
<p>Pada tanggal 14 Agustus 2007,  dalam rangka penyelenggaraan Festival Seni Tari Kasih Semesta Internasional ke-4, saya diundang untuk menjadi pembicara di sebuah diskusi panel yang diadakan oleh delegasi China di Jakarta. Saat membahas konsep dunia satu keluarga, beberapa di antara tamu tersebut mulai meneteskan air mata haru. Walau belum mendapatkan Dhiksa Maitreya, tetapi begitu mendengar konsep dunia satu keluarga ini, mereka sangat tergugah. Bagaimana dengan kita yang menjadi Pandita, Dharmaduta, dan umat Maitreya? Jika kita memiliki konsep dunia satu keluarga, niscaya kita akan memiliki kebesaran jiwa yang luar biasa serta wawasan yang luas. Kita tidak akan lagi terhalang dan terhambat oleh hal-hal kecil. Visi kita menjadi jauh ke depan. Jiwa kita dapat merangkul siapa saja. Dengan demikian kita baru dapat mengemban misi akbar Buddha Maitreya ini. Jika kita tidak memiliki semangat ‘dunia satu keluarga’, kita tidak akan dapat melaksanakan misi agung ini!</p>
<p><strong>Disadur oleh: Liang Yiin</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/konsep-dunia-satu-keluarga-part-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersama Mencapai Tujuan Utama Part-2</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/bersama-mencapai-tujuan-utama-part-2</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/bersama-mencapai-tujuan-utama-part-2#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 07:37:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=269</guid>
		<description><![CDATA[
Buddha Maitreya telah jauh hari menyadari kondisi masyarakat di akhir zaman seperti ini. Karena itulah Beliau disebut-sebut sebagai Buddha Yang Akan Datang. Beliau tidak mengajak kita meninggalkan dunia tempat kita tinggal. Ikrar Agung-Nya adalah mewujudkan negeri Buddhata, bumi suci, surga, nirwana, dan kerajaan Tuhan di bumi, di dunia ini. Tidak perlu pergi ke mana-mana, kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/1_936723550l.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-270" title="1_936723550l" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/1_936723550l.gif" alt="" width="221" height="183" /></a></p>
<p>Buddha Maitreya telah jauh hari menyadari kondisi masyarakat di akhir zaman seperti ini. Karena itulah Beliau disebut-sebut sebagai Buddha Yang Akan Datang. Beliau tidak mengajak kita meninggalkan dunia tempat kita tinggal. Ikrar Agung-Nya adalah mewujudkan negeri Buddhata, bumi suci, surga, nirwana, dan kerajaan Tuhan di bumi, di dunia ini. Tidak perlu pergi ke mana-mana, kita sudah berada di nirwana, sudah berada di bumi suci! Inilah ajaran yang lebih relevan di hati manusia moderen di zaman ini. Dalam Gatra Dhiksa disebutkan, <em>“Nirwana jauh namun tergapai seketika, </em><em>hidup </em><em>abadi </em><em>sepanjang masa</em><em>!”</em> Walau Nirwana sangatlah jauh, namun dapat dicapai seketika tanpa perlu melangkah.<span id="more-269"></span>Maha Tao Maitreya kelak akan diterima di seluruh dunia, karena dapat memenuhi kebutuhan manusia moderen. Di tengah kehidupan yang penuh derita, tekanan hidup yang berat, stres, depresi, penyiksaan diri, dan angka bunuh diri yang terus meningkat, siapa yang tidak mendambakan dunia yang penuh kekacauan menjadi dunia yang damai sentosa, dunia yang kotor menjadi bumi suci, dunia yang penuh kegelapan dan dosa menjadi kerajaan Tuhan, samudera duka menjadi taman sukacita semesta? Mengharapkan meninggalkan dunia ini, dan pergi ke suatu tempat yang jauh dan belum pasti untuk menemukan surga, bumi suci, nirwana, atau kerajaan Tuhan, adalah absurd dan tidak realistis.</p>
<p>Hanya segelintir pembina Maha Tao Maitreya yang memiliki pandangan yang jauh ke depan. Masih banyak yang terperangkap dalam pola pandang, <em>‘yang penting</em><em> saya membina dengan baik</em><em>-baik, maka</em><em> kelak </em><em>akan </em><em>kembali ke </em><em>n</em><em>irwana</em><em>, selamanya tidak akan datang lagi ke dunia untuk mengalami penderitaan’</em>. Mari kita sadari bahwa konsep ini terlalu konservatif dan sudah ketinggalan. Jangan lagi kukuh dengan pandangan seperti ini, karena konsep ini bertolak belakang dengan Dharma Hati Maitreya! Jika kita masih mengharapkan meninggalkan dunia ini dan pergi ke nirwana untuk bertemu Tuhan serta tidak ingin mengalami penderitaan di dunia ini lagi, berarti kita tidak berbeda dengan pembina awam yang egois. Kita tidak layak disebut sebagai siswa-siswi Maitreya, karena kita hanya memikirkan diri sendiri, tidak memancarkan cinta kasih dan welas asih.</p>
<p>Buddha, Bodhisatva, dan para Nabi tidaklah memiliki pandangan yang egosentris. Marilah kita renungkan bersama. Jika kita seorang diri pulang ke nirwana dan hidup bebas leluasa, pernahkah kita memikirkan nasib 6 miliar lebih saudara kita yang masih tinggal di dunia dan tengah menderita? Begitu tegakah hati kita untuk tidak peduli kepada sesama? Sungguh tak terlukiskan keagungan Buddha Maitreya. Beliau akan menyelesaikan permasalahan secara tuntas dengan mengubah dunia yang penuh kekacauan menjadi dunia damai sentosa, dunia yang kotor menjadi bumi suci, dunia yang penuh kegelapan dan dosa menjadi kerajaan Tuhan, samudera duka menjadi taman sukacita semesta. Inilah jalan keluarnya! Kita tidak perlu meninggalkan bumi, karena bumi akan menjadi taman sukacita semesta. Kita tidak perlu meninggalkan dunia ini karena di dunia akan terwujud bumi suci, dunia surgawi yang damai sentosa!</p>
<p>Intisari dari Tembang Pujian Semesta menjadi pembuka jalan bagi terwujudnya Ikrar Agung Maitreya, yaitu dunia satu keluarga, dunia surgawi, negeri buddhata, bumi suci sukavati. Semua dharma yang kita babarkan telah terkandung di dalam syair lagu tersebut. Mewujudkan keluarga, masyarakat, negara, dan dunia yang harmonis dengan alam adalah tugas ilahi dan panggilan zaman yang harus segera kita laksanakan. Inilah pola pandang yang harus kita miliki bersama. Tidak lagi bercita-cita untuk pergi ke alam abadi nun jauh di sana, karena nirwana yang sejati tidaklah jauh, apalagi sampai terpisah dari bumi ini. Jika nurani setiap manusia berpancar cemerlang, seketika bumi ini adalah nirwana! Ternyata alam abadi – nirwana berada di sini. Ke mana lagi kita mencari?</p>
<p><strong>Langit Bumi Bagai Ayah Bunda</strong></p>
<p><strong>Seruan Tuhan kepada 6 miliar </strong><strong>umat </strong><strong>manusia, sudahkah kita mendengarnya?</strong></p>
<p>Langit bumi adalah ayah bunda. Langit bagaikan ayah, dan bumi ibarat bunda. Langit bumi menghidupkan semua makhluk. Tanpa langit dan bumi, kita semua tidak dapat melangsungkan kehidupan kita. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa ayah dan bunda semesta dari 6 miliar umat manusia adalah langit dan bumi. Tanpa langit dan bumi, kita semua tak dapat eksis. Namun, sampai di zaman di mana teknologi mencapai puncaknya, berapa banyakkah orang yang tahu bersyukur dan mengasihi langit bumi? Semakin hari semakin langka! Manusia sudah lupa akan perannya, malah seakan menjadi budak teknologi. Seumur hidupnya hanya disibukkan untuk mengejar kekayaan, harta, nama, dan kenikmatan. Sungguh hidup yang jauh dari kebahagiaan sejati! Lirik pertama dari Tembang Pujian Semesta yaitu<strong> ‘Langit bumi bagai ayah bunda’</strong><strong> </strong>adalah suara hati Tuhan. Adalah seruan Tuhan kepada kita semua, putra-putri-Nya.</p>
<p><strong>Disadur oleh: LiangYiin</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/bersama-mencapai-tujuan-utama-part-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbagi kasih dengan sesama melalui kegiatan bakti sosial</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/berbagi-kasih-dengan-sesam</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/berbagi-kasih-dengan-sesam#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 04:44:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[LATEST NEWS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai seorang manusia awam, hal yang yang paling membahagiakan didalam hidupnya adalah pada saat ia mendapatkan sanjungan, memperoleh nama baik, reputasi, kedudukan, kekayaan, kemewahan dan masih banyak lagi yang membuat nurani tidak pernah merasa puas dengan apa yang didapatkan sekarang ini. Karena ketercekatan inilah yang membuat kita tidak pernah bisa berbahagia dan bersuka-cita. Merasa hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/PIC_0254.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-239" title="PIC_0254" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/PIC_0254.gif" alt="" width="243" height="203" /></a>Sebagai seorang manusia awam, hal yang yang paling membahagiakan didalam hidupnya adalah pada saat ia mendapatkan sanjungan, memperoleh nama baik, reputasi, kedudukan, kekayaan, kemewahan dan masih banyak lagi yang membuat nurani tidak pernah merasa puas dengan apa yang didapatkan sekarang ini. Karena ketercekatan inilah yang membuat kita tidak pernah bisa berbahagia dan bersuka-cita. Merasa hidup ini begitu singkat dan tidak berarti sehingga nurani tidak pernah merasakan kebahagiaan dan suka-cita yang sebenarnya.<span id="more-238"></span>Sebagai cucu murid dari Buddha Maitreya hendaklah menginsafi dan memahami inti sari dari ajaran Maha Tao Maitreya, bahwa hidup yang paling bermakna dan penuh arti adalah hidup yang tidak mementingkan dirinya sendiri yaitu hidup yang dapat memberikan kebahagiaan, harapan, suka-cita kepada orang lain. Hidup yang demikian adalah hidup yang saling berbagi kasih dengan sesama. Jadi, kita hidup dan datang ke dunia ini tidak sia-sia tetapi memiliki tujuan hidup dan membawa harapan, suka cita, kebahagiaan kepada semua mahkluk yaitu mewujudkan dunia satu keluarga.</p>
<p>Seperti yang sudah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya menjelang hari <strong>“Tri Suci Waisak“</strong> <em>Pusdiklat Buddhis Maitreyawira komplek Duta Mas Jakarta</em>, mengadakan kegiatan kunjungan bakti sosial ke beberapa tempat sosial seperti <em>panti sosial Bina Grahita, panti sosial Bina Laras dan panti sosial Tresna Werdha</em> yang berada di daerah Cengkareng</p>
<p>Kegiatan ini didukung oleh para pandita yaitu Pandita Jondras Kasrian, Pandita Tjie Siu Sun, Pandita Yulianti dan beberapa Pandita lainnya serta dibantu oleh para Thancu serta para umat dan aktifis dari berbagai vihara di Jakarta.</p>
<p>Tujuan dari kegiatan bakti sosial ini adalah <strong><em>“Berbagi kasih dengan sesama</em></strong><em>“</em> saling peduli, memahami serta merasakan bahwa mereka tidak hidup sendiri, walaupun hidup mereka tidak memiliki keluarga, sanak-saudara serta teman yang dapat menghibur dan memperhatikan mereka. Sebaliknya membuat kita yang hidup serba berkecukupan haruslah merasa bersyukur dengan apa yang kita dapatkan sekarang ini. Keluarga yang harmonis, memiliki sanak-saudara bahkan teman yang bisa menghibur dan memberikan semangat kepada kita.</p>
<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/PIC_0245.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-241" title="PIC_0245" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/PIC_0245.gif" alt="" width="191" height="161" /></a>Beberapa tempat kegiatan sosial di daerah Cengkareng yang berhasil dikunjungi salah satunya adalah <em>panti sosial Bina Grahita</em> yang berlokasi di <em>jalan Peta Utara 29 A Pegadungan Jakarta Barat</em>. Panti sosial Bina Grahita adalah salah satu panti instansi pemerintah  yang membantu dan mengurusi anak-anak serta orang dewasa yang mengalami keterbelakangan mental serta keterbelakangan mental ganda (selain mengalami keterbelakangan mental, fisik mereka juga mengalami kekurangan seperti buta, tuli bahkan bisu). Panti sosial Bina Grahita berdiri pada tahun 1997 yang dipimpin oleh H. Hudiyono, S.Pd. <a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/PIC_02663.gif"><img class="alignright size-full wp-image-248" title="PIC_0266" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/PIC_02663.gif" alt="" width="195" height="164" /></a>Dana untuk membiayai operasional panti tersebut berasal dari pemerintah serta para donatur yang ikut berpartisipasi membantu pembiayaan operasional tersebut. Petugas yang menanganinya berjumlah 28 orang. Jumlah anak-anak serta orang dewasa yang mengalami keterbelakangan mental berjumlah 98 orang yang terdiri dari 20 wanita dan 76 pria. Hampir 99% mereka tidak memiliki orang tua dan berasal dari kehidupan jalanan kota Jakarta. Mereka mendapatkan pendidikan di SLB (sekolah luar biasa) dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang bekerjasama dengan RS.Atmajaya dan RSCM (rumah sakit Cipto Mangunkusumo).</p>
<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/PIC_02761.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-249" title="PIC_0276" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/PIC_02761.gif" alt="" width="180" height="149" /></a>Kemudian berlanjut kunjungan ke <em>panti sosial Bina Laras yang berlokasi di jalan Kemuning No.17 Cengkareng Jakarta Barat.</em> Panti sosial Bina Laras ini adalah salah satu panti instansi pemerintah yang membantu dan mengurusi mereka yang mengalami gangguan kejiwaan. Panti sosial Bina Laras ini berdiri pada tahun 1972 dengan jumlah petugas sebanyak 48 orang. <a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/PIC_03061.gif"><img class="alignright size-full wp-image-250" title="PIC_0306" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/PIC_03061.gif" alt="" width="184" height="154" /></a>Kebanyakan mereka yang mengalami gangguan kejiwaan berasal dari keluarga yang ekonominya benar-benar tidak mampu dan berasal dari kehidupan jalanan kota Jakarta. Dana untuk membiayai operasional panti tersebut berasal dari pemerintah serta para donatur yang ikut berpartisipasi membantu pembiayaan operasional tersebut. Mereka juga mendapatkan pendidikan moral, keagamaan serta pendidikan keterampilan berupa hasil kerajinan tangan dan mendapatkan pelayanan kesehatan dari instansi pemerintah yang telah di tunjuk.<a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/PIC_03081.gif"></a></p>
<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/PIC_0317.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-257" title="PIC_0317" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/PIC_0317.gif" alt="" width="184" height="154" /></a>Beralih kunjungan ke <em>panti sosial Tresna Werdha yang berlokasi di jalan Cendrawasih V No.8 Kel.Cengkareng Barat Jakarta Barat.</em> Panti sosial Tresna Werdha ini berdiri pada tahun 1988 yang dipimpin oleh bapak Ahmad Dumyani, SE, MM dengan jumlah pengurus sebanyak 29 orang. <a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/23052010044.gif"><img class="alignright size-full wp-image-258" title="23052010044" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/23052010044.gif" alt="" width="175" height="145" /></a>Panti sosial Tresna Werdha ini adalah salah satu panti instansi pemerintah juga yang membantu dan mengurusi serta menjaga para lansia (orang yang lanjut usia) yang kebanyakan berasal dari orang yang benar tidak mampu dan orang yang berasal dari kehidupan jalanan kota Jakarta yang berjumlah 187 orang yang terdiri dari 70 pria dan 119 wanita. Dana untuk membiayai operasional panti tersebut berasal dari pemerintah serta para donatur yang ikut berpartisipasi membantu pembiayaan operasional tersebut. Mereka juga mendapatkan pendidikan moral, keagamaan serta pendidikan keterampilan berupa hasil kerajinan tangan dan mendapatkan pelayanan kesehatan dari instansi pemerintah yang telah di tunjuk.</p>
<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/PIC_0274.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-259" title="PIC_0274" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/PIC_0274.gif" alt="" width="183" height="132" /></a>Semoga dengan diadakannya kegiatan bakti sosial ini membuat kita lebih menyadari pentingnya memahami hidup untuk saling berbagi dengan sesama, berbagi tawa, berbagi suka-cita serta berbagi kebahagiaan kepada semua orang tanpa memandang status sosial yang mereka miliki. Dengan begitu hidup kita akan lebih bernilai dan bermakna. Hidup yang tidak mementingkan diri sendiri tetapi hidup yang peduli dengan orang lain. Jadikanlah kegiatan sosial ini sebagai intropeksi dan menilik ke dalam diri untuk selalu bersyukur atas Rahmat Kasih LaoMu, Kasih Buddha Maitreya, Kasih dari Bapak dan Ibu Guru Suci serta kasih dari para Buddha atas segala rahmat, berkah dan anugerah yang kita miliki sekarang ini.</p>
<p>Written by. LiangYiin</p>
<p>Reporter by. Belky</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/berbagi-kasih-dengan-sesam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersama Mencapai Tujuan Utama Part-1</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/bersama-mencapai-tujuan-utama</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/bersama-mencapai-tujuan-utama#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 04:53:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini wadah Ketuhanan belum menekankan tujuan, sasaran, pedoman, dan prinsip utama yang jelas, yang berfungsi sebagai kompas pembinaan. Karena itu muncullah beragam pandangan dan pendapat yang berbeda. Ini merupakan sebuah pola pembinaan yang tak terarah. Untuk menyatukan wadah Ketuhanan, terlebih dahulu kita harus memiliki pandangan, pola pikir, dan tindakan yang seragam.
Tembang Pujian Semesta merupakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/1_305281822l.jpg"><img class="size-medium wp-image-219 alignleft" title="1_305281822l" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/05/1_305281822l-300x225.jpg" alt="milefo part-1" width="235" height="183" /></a>Selama ini wadah Ketuhanan belum menekankan tujuan, sasaran, pedoman, dan prinsip utama yang jelas, yang berfungsi sebagai kompas pembinaan. Karena itu muncullah beragam pandangan dan pendapat yang berbeda. Ini merupakan sebuah pola pembinaan yang tak terarah. Untuk menyatukan wadah Ketuhanan, terlebih dahulu kita harus memiliki pandangan, pola pikir, dan tindakan yang seragam.</p>
<p>Tembang Pujian Semesta merupakan sarana yang sangat tepat untuk menyatukan pandangan dan pola pikir kita. Tembang Pujian Semesta sekaligus menjadi intisari di dalam membabarkan kebenaran, membina, dan mengamalkan Maha Tao Maitreya. Patrilah senantiasa di dalam sanubari kita.<span id="more-211"></span>Sepanjang hayat membina dan melaksanakan Ketuhanan, berjuang keras dan menanggung segala beban derita, bahkan rela menghadapi berbagai ujian dan cobaan, apakah tujuannya? Semua telah tercantum dalam syair Tembang Pujian Semesta.</p>
<p>Karena belum digariskannya tujuan yang jelas untuk diwujudkan bersama, akhirnya 100 orang Pandita atau 100 orang Dharmaduta akan menyampaikan 100 pandangan yang berbeda saat berceramah. Dengan pola pikir dan pandangan yang berbeda-beda, bagaimana dapat menyatukan hati dan tindakan selanjutnya?</p>
<p>Hingga hari ini, tidak sedikit pembina yang tidak memahami tujuan dari pembinaan Maha Tao Maitreya. Apa tujuan Buddha Maitreya dan Dwiguru Agung Nurani datang ke dunia? Apa tujuan Tuhan menurunkan Jalan Firmani ini ke dunia? Dan apakah sesungguhnya jalan yang sedang kita bina dan amalkan sekarang ini? Sembilan puluh persen pembina Ketuhanan tidak paham sehingga masih menerapkan pola pembinaan yang awam! Terkungkung dalam konsep yang egosentris, sehingga semangat dan visinya sangat terbatas dan tidak universal.</p>
<p>Maha Tao Maitreya mengutamakan semangat mendatangkan berkah bagi orang lain yang pada akhirnya juga akan mendatangkan faedah bagi diri sendiri. Karena melalui proses mendatangkan berkah kepada orang lain, sesungguhnya kita sedang menyelamatkan diri sendiri. Inilah kebenaran yang kita amalkan<strong>.</strong> Berbeda dengan pembinaan yang awam, yang mengutamakan keselamatan diri sendiri terlebih dahulu, baru kemudian mengembangkan semangat penyelamatan orang lain.</p>
<p>Apakah ikrar agung Maitreya? Hanya segelintir orang saja yang menghayatinya! Kita masih berpandangan bahwa asalkan kita membina hingga kebajikan sempurna, maka kelak kita akan kembali ke nirwana, untuk bertemu dan berpadu dengan Tuhan selamanya. Ini adalah sebuah cara pandang awam yang terdapat di dalam religi pada umumnya.</p>
<p>Sesungguhnya tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi oleh agama-agama di jaman sekarang. Sekitar dua tahun yang lalu, surat kabar memberitakan bahwa di Eropa &#8211; kecuali Italia &#8211; 50% penduduknya telah menjadi kaum atheis. Sehingga banyak tempat ibadah di Eropa terpaksa ditutup. Bahkan di London, 2/3 populasinya juga menganut sikap atheis. Bila sudah atheis, masihkah mau mengunjungi tempat ibadah?</p>
<p>Dewasa ini di beberapa negara maju, rumah ibadah dari beberapa agama hanya berfungsi sebagai tempat pariwisata. Seiring dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan jaman pun semakin pesat. Demikian pula dengan perubahan pola pikir manusia moderen, seakan tidak sesuai lagi dengan konsep religi yang terbatas. Misalnya konsep agama yang mengajarkan: ‘Asalkan menjalankan ritual agama di dunia tanpa perlu mengembangkan semangat kasih universal, kelak setelah meninggalkan dunia ini akan memasuki alam surga atau sebuah negeri yang indah’. Konsep demikian tampaknya sudah tidak relevan lagi. Nyatanya, dalam kehidupan ini saja banyak yang merasa sudah cukup menderita, stres dan penuh tekanan. Jika  kemudian masih harus membina agar kelak bisa masuk surga, betapa sulitnya! Karena itu banyak orang yang sudah tidak peduli lagi dengan dogma seperti ini.</p>
<p><strong>Disadur oleh:  LiangYiin</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/bersama-mencapai-tujuan-utama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tembang Pujian Semesta</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/tembang-pujian-semesta-2</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/tembang-pujian-semesta-2#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 03:19:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>darwin</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Melalui Tembang Pujian Semesta, kita akan memahami tujuan, sasaran, pedoman, dan prinsip utama Maha Tao Maitreya.

Tujuan utama yaitu bersama membangun:

Keluarga yang harmonis dengan alam, yaitu keluarga yang bahagia, rukun, dan sejahtera.
Masyarakat yang harmonis dengan alam, yaitu masyarakat yang tenteram, damai, dan berkembang maju.
Negara yang harmonis dengan alam, yaitu negara yang makmur, maju, dan jaya. Dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/01/alam-semesta-1ED.jpg"><img class="size-full wp-image-221 alignright" title="alam-semesta-1ED" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/01/alam-semesta-1ED.jpg" alt="tembang suci alam semesta" width="222" height="169" /></a>Melalui Tembang Pujian Semesta, kita akan memahami tujuan, sasaran, pedoman, dan prinsip utama Maha Tao Maitreya.</p>
<ol style="text-align: left;">
<li>Tujuan utama yaitu bersama membangun:
<ul>
<li>Keluarga yang harmonis dengan alam, yaitu keluarga yang bahagia, rukun, dan sejahtera.</li>
<li>Masyarakat yang harmonis dengan alam, yaitu masyarakat yang tenteram, damai, dan berkembang maju.</li>
<li style="text-align: left;">Negara yang harmonis dengan alam, yaitu negara yang makmur, maju, dan jaya. Dunia yang harmonis dengan alam, yaitu dunia satu keluarga, dunia damai sentosa, dunia surgawi, bumi suci sukavati.<span id="more-122"></span></li>
</ul>
</li>
<li> Sasaran utama yaitu:  Bersatu padu berjuang mewujudkan dunia satu keluarga.</li>
<li>Pedoman utama yaitu:
<ul>
<li>Melindungi kehidupan diri sendiri serta melindungi kehidupan orang lain.</li>
<li>Mengasihi kehidupan diri sendiri serta mengasihi kehidupan orang lain.</li>
<li>Memuliakan kehidupan diri sendiri serta memuliakan kehidupan orang lain. Berpegang teguh pada pedoman utama dan melangkah mantap menapaki sasaran utama untuk mencapai tujuan utama.</li>
</ul>
</li>
<li>Prinsip utama yaitu:  Menjunjung segala kehidupan. Langit dan bumi adalah ayah bunda, seluruh umat manusia adalah satu keluarga, semua satwa adalah saudara, serta bunga, rerumputan, dan pepohonan adalah bagian dari kerabat keluarga alam semesta.Dengan berteguh pada prinsip utama, lahirlah jiwa besar yang penuh kasih, hingga mampu merealisasikan tujuan utama.Abad-21 adalah abad mengasihi alam semesta, abad dunia satu keluarga. Jika setiap insan manusia mengasihi alam semesta dan memandang dunia sebagai satu keluarga, maka terwujudlah sebuah budaya, peradaban, dan moralitas yang baru bagi seluruh umat manusia.</li>
</ol>
<p style="text-align: left;"><strong>Tembang Pujian Semesta</strong></p>
<p style="text-align: left;">Langit bumi bagai ayah bunda<br />
Semua manusia di dunia satu keluarga<br />
Burung di angkasa, aneka satwa yang hidup di daratan dan di lautan<br />
semua adalah saudara kita<br />
Bunga, rumput, pepohonan<br />
Bagian dari keluarga taman semesta</p>
<p style="text-align: left;">Junjung semua kehidupan<br />
Lindungi hidup kita, lindungi hidup mereka<br />
Cintai hidup kita, Cintai hidup mereka<br />
Muliakan hidup kita, muliakan hidup mereka</p>
<p style="text-align: left;">Bersama mari membangun<br />
Keluarga yang harmonis dengan alam<br />
Masyarakat yang harmonis dengan alam<br />
Bangsa yang harmonis dengan alam<br />
Dunia, manusia, alam berpadu menuju damai</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Disadur oleh:  Liangyiin</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/tembang-pujian-semesta-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
