<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Maha Tao Maitreya</title>
	<atom:link href="http://www.maitreya.or.id/2010/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.maitreya.or.id/2010</link>
	<description>Buddhisme Maitreya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Dec 2011 15:59:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>TIGA RACUN UTAMA Oleh : MS Gautama Harjono (Part 2 / END)</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/tiga-racun-utama-oleh-ms-gautama-harjono-part-2-end</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/tiga-racun-utama-oleh-ms-gautama-harjono-part-2-end#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 15:57:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL MAJALAH]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=564</guid>
		<description><![CDATA[2. Dosa atau Kebencian 
Kebencian berarti tidak suka kepada seseorang, cemburu pada seseorang, iri hati, sikap curiga , takut , dendam, dan segala sesuatu yang tergolong keinginan untuk menolak sesuatu. Kebencian juga menyangkut kebencian pada diri sendiri. Kebencian merupakan juga racun bagi tubuh dan juga bagi hati/jiwa kita. Ada sebuah kisah sepasang suami istri suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/12/TIGA-RACUN-UTAMA-Oleh-MS-Gautama-Harjono-Part-2-END.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-565" title="TIGA RACUN UTAMA Oleh  MS Gautama Harjono (Part 2  END)" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/12/TIGA-RACUN-UTAMA-Oleh-MS-Gautama-Harjono-Part-2-END-300x225.jpg" alt="" width="206" height="153" /></a>2. </strong><strong>Dosa atau Kebencian </strong></p>
<p>Kebencian berarti tidak suka kepada seseorang, cemburu pada seseorang, iri hati, sikap curiga , takut , dendam, dan segala sesuatu yang tergolong keinginan untuk menolak sesuatu. <span id="more-564"></span>Kebencian juga menyangkut kebencian pada diri sendiri. Kebencian merupakan juga racun bagi tubuh dan juga bagi hati/jiwa kita. Ada sebuah kisah sepasang suami istri suatu hari bertengkar hebat, istri marah dan merasa sangat membenci suaminya. Tiba-tiba  bayinya menangis karena lapar. Lalu ibunya segera menyusui bayinya. Tak lama setelah menyusui, tiba-tiba bayi itu demam tinggi, Dengan perasaan khawatir, sang ibu membawa anak ini ke RS. Dokter menanyakan peristiwa apa yang terjadi sebelumnya. Ibupun menceritakan masalah pertengkarannya dengan suaminya dan bagaimana perasaan dia yang sangat membenci suaminya. Mendengar cerita ibuini, dokter memahami sumber masalahnya, Ketika ibu marah dan benci, maka zat-zat yang tak baik akan meningkat  dalam tubuh ibu dan masuk ke dalam ASI. Hal inilah yang membuat bayi itu menjadi demam. Jadi kalau kita memupuk kebencian, kemarahan, iri, dan sifat buruk dalam diri, sesungguhnya kita sedang memupuk racun dalam tubuh. Akibatnya hal ini akan mempengaruhi bukan hanya hati kita tapi juga tubuh kita. Ini sungguh sangat tak baik bagi diri kita.  Karena itu, janganlah memupuk kebencian dalam hati kita. Lebih baik memupuk kebaikan.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Moha atau Kebodohan Batin </strong></p>
<p>Kebodohan batin yang dimaksud adalah tidak bisa membedakan perbuatan baik yang harus dilakukan dan perbuatan jahat yang seharusnya ditinggalkan. Orang yang bodoh batinnya malah cenderung melakukan perbuatan jahat. Dia akan menganggap kejahatan yang dilakukan adalah wajar dan biasa. Orang yang bodoh batinnya adalah juga yang malas melakukan kebajikan, egois, sombong,angkuh, munafik dan gengsian. Orang yang demikian pasti akan terus berada dalam kejahatan dan akhirnya jatuh dalam kesesatan. Bukankah ini adalah juga racun bagi diri kita?</p>
<p>Inilah tiga racun utama yang menjadi akar dari kejahatan. Karena adanya racun ini, maka manusia kemudian melakukan kejahatan. Sungguh tiga racun ini akan mencelakai diri kita. Demikianlah Bodhidharma membina, berjuang menyingkirkan tiga racun utama ini sehingga beliau tiada kilesa, tiada beban dalan jiwa. Bila tidak ada tiga racun ini maka hati tenang jiwapun damai.</p>
<p>Untuk membuang ketiga racun ini yang harus kita lakukan adalah dengan sujud nurani, tobat nurani, dan penyelamatan nurani. Membuang racun ini, tentu tak semudah yang dibayangkan karena sudah terlalu lama melekat dalam jiwa. Karena itu kita perlu sujud dan tobat nurani. Sujud dan tobat yang dilakukan dengan kesungguhan dan ketulusan hati akan mendatangkan kekuatan para Buddha untuk membantu membersihkan racun-racun ini.  Penyelamatan nurani artinya senantiasa menguntungkan orang lain. Orang yang selalu berpikir untuk menguntungkan orang lain pasti tidak akan serakah, akan jauh dari kebencian dan selalu menanam kebaikan. Dengan demikian dia telah berusaha membuang tiga racun ini dari dalam dirinya. Karena itu senantiasalah melakukan tiga hal ini yaitu sujud,tobat dan penyelamatan nurani agar racun-racun dalam tubuh kita bisa habis dibersihkan dan hidup sehat jiwa dan raga. Jiwa dan raga yang sehat akan mendatangkan kebahagiaan dalam hidup. Bukankah pada akhirnya kita mengharapkan hidup yang bahagia….untuk itu bersihkan dulu racun dalam tubuh ini.</p>
<p><strong>Disadur Oleh: RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/tiga-racun-utama-oleh-ms-gautama-harjono-part-2-end/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TIGA RACUN UTAMA Oleh : MS Gautama Harjono (Part 1)</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/tiga-racun-utama-oleh-ms-gautama-harjono-part-1</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/tiga-racun-utama-oleh-ms-gautama-harjono-part-1#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 15:31:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL MAJALAH]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=557</guid>
		<description><![CDATA[Racun adalah zat yang berbahaya bagi tubuh dan bisa merusak tubuh. Namun ada racun yang juga merusak hati atau jiwa. Sang Buddha mengatakan racun itu adalah lobha, dosa dan moha. Inilah tiga racun utama yang merusak diri manusia, yang membuat manusia jatuh dalam kesesatan dan kegelapan batin. Yang membuat manusia jatuh dalam lingkaran samsara yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/11/TIGA-RACUN-UTAMA-part-1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-559" title="TIGA RACUN UTAMA part 1" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/11/TIGA-RACUN-UTAMA-part-1-197x300.jpg" alt="" width="118" height="160" /></a>Racun adalah zat yang berbahaya bagi tubuh dan bisa merusak tubuh. Namun ada racun yang juga merusak hati atau jiwa. Sang Buddha mengatakan racun itu adalah lobha, dosa dan moha. <span id="more-557"></span>Inilah tiga racun utama yang merusak diri manusia, yang membuat manusia jatuh dalam kesesatan dan kegelapan batin. Yang membuat manusia jatuh dalam lingkaran samsara yang berkepanjangan. Tiga racun ini disebut juga tiga akar kejahatan. Kejahatan berawal dari adanya tiga racun ini dalam diri manusia. Apa yang dimaksud dengan lobha, dosa dan moha?</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Lobha atau Keserakahan</strong></p>
<p>Lobha atau keserakahan adalah tidak puas dengan apa yang sudah dimiliki sehingga berusaha untuk memiliki sebanyak-banyaknya. Untuk bisa memenuhi keinginan-keinginan ini atau memuaskan keinginannya maka manusia menggunakan berbagai cara bahkan cara itu bisa saja merugikan orang lain. Sikap serakah juga mendatangkan kemelekatan akan jiwa yang akhirnya membawa manusia jatuh dalam ikatan samsara.</p>
<p>Banyak yang serakah akan nama dan kedudukan sehingga menggunakan segala cara agar dapat mendapatkan kedudukan. Suap menyuap dan membeli suara adalah sesuatu yang biasa dilakukan untuk meraih kedudukan. Banyak yang serakah akan harta, mengejar harta untuk memupuk kekayaan pribadi. Demi untuk itu semua, bahkan menindas sesama dan makhluk lainnya. Manusia serakah akan kecantikan, sehingga melakukan operasi plastik untuk mempercantik diri. Ini adalah contoh-contoh keserakahan manusia. Semua keserakahan ini membuat manusia jatuh dalam kejahatan dan akhirnya jatuh dalam kegelapan. Jadi lobha adalah racun yang sangat berbahaya bagi manusia.</p>
<p>Hidup yang terbaik adalah tidak berlebihan. Hiduplah sesuai dengan kemampuan dan ekonomi kita. Hidup yang berlebihan dan selalu merasa tak cukup, akhirnya yang ada adalah kilesa.</p>
<p><strong>Disadur Oleh: RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/tiga-racun-utama-oleh-ms-gautama-harjono-part-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGISI HARI DENGAN KEBAIKAN NURANI</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/mengisi-hari-dengan-kebaikan-nurani</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/mengisi-hari-dengan-kebaikan-nurani#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2011 16:32:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL MAJALAH]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=551</guid>
		<description><![CDATA[Meski waktu yang dimiliki tinggal satu hari saja, tetapi ketika mampu dimaknai dengan Nurani niscaya satu hari itupun akan lebih baik dari hari-hari sebelumnya yang penuh kesesatan. Ketika mampu mengisi hari-hari yang ada dengan segala kebaikan Nurani, barulah kita tak akan diliputi penyesalan di akhir kehidupan. Lebih baik memiliki satu hari yang baik lantaran diisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/11/MENGISI-HARI-DENGAN-KEBAIKAN-NURANI.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-554" title="MENGISI HARI DENGAN KEBAIKAN NURANI" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/11/MENGISI-HARI-DENGAN-KEBAIKAN-NURANI-300x225.jpg" alt="" width="174" height="116" /></a>Meski waktu yang dimiliki tinggal satu hari saja, tetapi ketika mampu dimaknai dengan Nurani niscaya satu hari itupun akan lebih baik dari hari-hari sebelumnya yang penuh kesesatan.<span id="more-551"></span> Ketika mampu mengisi hari-hari yang ada dengan segala kebaikan Nurani, barulah kita tak akan diliputi penyesalan di akhir kehidupan. Lebih baik memiliki satu hari yang baik lantaran diisi dengan kebaikan demi kebaikan, pertobatan demi pertobatan, dan rasa syukur tak terhingga. Ketimbang memiliki banyak hari yang selalu merugikan sesama juga diri sendiri. Lebih baik terlambat menyadari segala kesalahan dan kesesatan, yang kemudian diikuti pertobatan dan perbaikan diri, daripada tak pernah sadar seumur hidup. Toh tak ada yang lebih indah dari hari-hari yang selalu diisi dengan kesadaran Nurani dan pertobatan yang tiada henti.</p>
<p>Segala keangkuhan akan mencair menjadi lautan kerendahan hati ketika menyadari betapa selama ini kita begitu tersesat di dalam kepicikan dan ego diri yang begitu tinggi. Merasa diri begitu hebat seolah-olah tidak memiliki masa lalu yang mesti dikoreksi. Padahal sepanjang hidup hanya bisa berkubang di dalam kesalahan demi kesalahan dan kekhilafan yang tak pernah disadari. Ketika mampu menjadikan satu hari lebih baik dari sebelumnya, itulah awal dari kebangkitan Nurani menuju kesadaran dan kecemerlangan. Diri baru menyadari betapa selama ini hanya bisa membuat LAOMU menangis menyaksikan segala sepak-terjang kita yang penuh dosa dan kesesatan. Betapa tersiksanya diri menyadari ternyata hari-hari yang telah dilewati tak pernah ada coretan keindahan yang bisa dibanggakan sekalipun.  Betapa kita telah menelantarkan berkah kasih-Nya kepada kita dengan ukiran-ukiran sejarah kelam yang jauh dari Hati Nurani dan kehendak-Nya. Ketika telah menyadari semuanya, barulah kita akan terpacu untuk membuat sedikitnya satu hari lebih baik sehingga hari-hari yang kemudian dilewati akan selalu diisi dengan kebaikan dan hanya kebaikan. Hingga akhirnya satu hari lebih baik dari sebelumnya akan menjadi lembaran sejarah terindah yang membanggakan sepanjang masa. Semoga!</p>
<p><strong>Disadur Oleh: RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/mengisi-hari-dengan-kebaikan-nurani/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HARI BAIK SELALU ADA</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/hari-baik-selalu-ada</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/hari-baik-selalu-ada#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2011 17:45:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL MAJALAH]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=546</guid>
		<description><![CDATA[Selalu ada hari baik ketika diisi dengan niat-niat baik yang sesuai Hati Nurani dan kehendak Tuhan. Bagi mereka yang beriman dan bersyukur maka hari baik itu selalu ada. Bahkan setiap hari yang dimiliki adalah hari baik. Meski kelihatannya begitu tidak lancar dan sempurna, tetapi apabila mampu disikapi dengan bijak dan penuh rasa syukur, niscaya hari-hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/09/hari-yang-baik-selalu-ada.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-547" title="hari yang baik selalu ada" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/09/hari-yang-baik-selalu-ada.gif" alt="" width="220" height="220" /></a>Selalu ada hari baik ketika diisi dengan niat-niat baik yang sesuai Hati Nurani dan kehendak Tuhan. Bagi mereka yang beriman dan bersyukur maka hari baik itu selalu ada. Bahkan setiap hari yang dimiliki adalah hari baik. Meski kelihatannya begitu tidak lancar dan sempurna, tetapi apabila mampu disikapi dengan bijak dan penuh rasa syukur, niscaya hari-hari baik selalu ada. <span id="more-546"></span></p>
<p>Harapan setiap orang adalah selalu menginginkan yang terbaik untuk hidupnya. Walau sungguh sangatlah sulit untuk mewujudkan hari yang selalu baik. Tetapi bagi mereka yang tahu bersyukur dan senantiasa memaknai hidupnya dengan Nurani, pastilah selalu ada hari-hari yang baik. Sebab hari-hari yang dijalani akan selalu diisi dengan segala kebaikan dan kemenangan Nurani. Tak ada yang lebih indah dari hari-hari yang mampu dimaknai dengan kecemerlangan Nurani.</p>
<p>Hari baik selalu ada bagi mereka yang mampu memaknai setiap kekalahan atau kegagalan sebelumnya. Hari baik menjadi ada ketika kita terus berjuang menata diri menjadi lebih baik dan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran. Bukannya terus berkubang di dalam lumpur kegagalan dan kesalahan masa lalu, tetapi selalu berupaya menatap hari esok yang lebih baik dengan mengurai harapan menjadi kenyataan. Inilah hari-hari baik dan kehidupan yang bermakna ketika setiap orang mampu menjadikan hari-hari yang dimilikinya selalu berada di rel kebenaran dan kebaikan sesuai kehendak Tuhan.</p>
<p><strong>Disadur Oleh: RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/hari-baik-selalu-ada/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satu Hari Lebih Baik</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/satu-hari-lebih-baik</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/satu-hari-lebih-baik#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 16:43:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL MAJALAH]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=542</guid>
		<description><![CDATA[Hari demi hari terus kita lewati. Tanpa sadar kita telah begitu jauh meninggalkan hari-hari kemarin, menoreh sejarah demi sejarah. Sampai akhirnya kita begitu terpana menatap momen-momen yang telah menjadi masa lalu. Tertegun memikirkan apa yang telah dilewati tanpa mampu merengkuhnya kembali. Bahkan untuk kejadian sedetik yang lalupun kita tak kuasa meraihnya kembali apalagi mengurainya untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/08/one-day.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-543" title="one day" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/08/one-day-300x207.jpg" alt="" width="222" height="153" /></a>Hari demi hari terus kita lewati. Tanpa sadar kita telah begitu jauh meninggalkan hari-hari kemarin, menoreh sejarah demi sejarah. Sampai akhirnya kita begitu terpana menatap momen-momen yang telah menjadi masa lalu. Tertegun memikirkan apa yang telah dilewati tanpa mampu merengkuhnya kembali. Bahkan untuk kejadian sedetik yang lalupun kita tak kuasa meraihnya kembali apalagi mengurainya untuk diutak-atik menjadi lembaran sejarah yang kita inginkan. Andai waktu bisa diulang,tentunya kita akan mampu mengukir hari-hari yang selalu berkilau, sesuai harapan dan keinginan, tanpa coretan kesalahan sekalipun. <span id="more-542"></span></p>
<p>Tetapi waktu memang tak pernah bisa diulang. Dan hari-hari yang kita rangkai setiap kali, apakah akan menjadi memori terindah yang sulit dilupakan dan kenangan yang membanggakan sepanjang masa, atau justru malah menjadi mimpi buruk yang tak habis diratapi dan disesali, semuanya tergantung bagaimana kita mengisi hari-hari yang ada. Kita memang tak mungkin bisa mengejar hari yang telah berlalu untuk dikoreksi kembali. Tidak juga mampu mengulang hari yang sempurna tanpa kesalahan dan kesilapan. Sebaliknya kita hanya mampu mengisi hari demi hari dengan sebaik-baiknya. Meski kadang tidak luput dari kesilapan dan kesalahan yang tidak kita inginkan. Sebab kita hanya manusia awam yang penuh keterbatasan dan kekurangan, meski sesungguhnya kita sudah memiliki kesempurnaan Hati Nurani di dalam diri ini, yang tak mampu disadari sepenuhnya akibat kesesatan diri.</p>
<p>Meski kita tak mampu mengubah hari yang telah berlalu menjadi lebih baik dari yang ada. Tetapi kita masih punya harapan untuk membuat satu hari lebih baik ke depan. Satu hari yang lebih baik dari hari kemarin. Satu hari yang sebelumnya masih penuh guratan kesilapan dan kesalahan, tetapi berkat introspeksi diri yang konsisten dan kemauan untuk merubah diri, maka menjadi lebih baik. Maka dengan bertobat dan terus bertobat sepenuh hati, pastinya kita akan mampu membuat satu hari lebih baik. Meski hanya satu hari, tetapi sangat bermakna bila  diisi dengan Hati Nurani.</p>
<p>Meski kita tak mungkin bisa mengubah masa lalu yang kelam dan penuh dosa kesesatan,tetapi kita bisa menata hari esok yang lebih baik dengan menjadi seorang yang ber-Nurani hari ini, dan pada momen ini juga. Satu hari lebih baik akan lebih bermakna ketimbang hari-hari yang selalu dipenuhi kesesatan dan kesuraman. Kita memang tak akan bisa mengubah masa lalu. Tetapi kita bisa membuat hari ke depan lebih baik dari sebelumnya. Karena itu jangan terus melihat ke masa lalu. Itu hanya akan membuat kita berhenti dan tak mampu melangkah ke depan untuk membuat sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Meski masa lalu tak bisa diulang dan diperbaiki, tetapi ketika kita bisa melihat ke depan dan berbuat yang lebih baik dari sebelumnya niscaya semua itu akan merubah keadaan. Mungkin ada sebagian orang yang terus terbenam di masa lalu dan merasa begitu terikat dengan masa lalunya. Berandai-andai sekiranya tidak begini atau begitu. Atau merasa begitu kecewa lantaran harus menjadi bagian dari masa lalu keluarga yang kurang menyenangkan. Menjadi bagian sejarah kehidupan yang tidak sempurna sesuai harapan. Atau sejuta ketidaksempurnaan hidup yang terus ditangisi dan disesali. Toh semua itu tak akan pernah bisa merubah apapun. Menangisi masa lalu tak akan membuat masa lalu itu  kembali. Mengapa justru tidak membuat sejarah baru yang lebih baik? Meski semua itu butuh ketegaran dan sikap bijak untuk memaknai segalanya.</p>
<p><strong>Oleh: Eny Candra</strong></p>
<p><strong>Disadur Oleh: RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/satu-hari-lebih-baik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berkah Lupa (Part 3 End &#8211; Berkah Lupa)</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/berkah-lupa-part-3-end-berkah-lupa</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/berkah-lupa-part-3-end-berkah-lupa#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 10:05:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL MAJALAH]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=537</guid>
		<description><![CDATA[Perjuangan untuk melupakan memang tak mudah. Namun jika itu kita perjuangkan terus, pasti akan ada hasilnya. Kita akan mengalami kebahagiaan yang luar biasa berupa pembebasan jiwa yang sulit kita lukiskan dengan ucap dan kata. Seolah selama ini kita telah membawa beban bera, batu yang sangat berat dan kini beban batu itu sudah hilang dan musnah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/07/belajar-lupa-part-3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-538" title="belajar lupa part 3" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/07/belajar-lupa-part-3-300x225.jpg" alt="" width="244" height="183" /></a>Perjuangan untuk melupakan memang tak mudah. Namun jika itu kita perjuangkan terus, pasti akan ada hasilnya. Kita akan mengalami kebahagiaan yang luar biasa berupa pembebasan jiwa yang sulit kita lukiskan dengan ucap dan kata. Seolah selama ini kita telah membawa beban bera, batu yang sangat berat dan kini beban batu itu sudah hilang dan musnah untuk selamanya. Seolah kita telah membawa sampah yang menjijikkan di dalam tubuh dan kini sampah itu telah pergi untuk selamanya.  Badan menjadi sehat hatipun selalu berbahagia.  Kebahagiaan yang berupa pelepasan ini sungguh sangat luar biasa. <span id="more-537"></span><br />
Satu kemenangan di dalam diri telah berhasil kita raih. Tidak hanya kemenangan namun juga satu pertumbuhan jiwa yang luar biasa yang tidak bisa dibeli dengan benda yang paling berharga sekalipun di dunia ini. Hari berganti hari dengan satu kemajuan di dalam membina Ketuhanan. Menjadi orang yang berjiwa besar, lapang dada dan tentu bercinta kasih. Semua prilaku, sikap, dan cara kita melangkah, semua ini juga mengambil bagian memberikan satu teladan mulia bagi semua umat. Tentu ini juga merupakan salah satu peluang kita untuk melakukan amal secara tidak langsung dan ini juga merupakan momen kita dalam  mengikis dosa dan karma kita. Hubungan dengan orang yang telah menabur kata-kata yang menyakitkanpun tetap terpelihara dengan harmonis.<br />
Begitulah, segala yang berlalu biarlah berlalu. Kita belajar untuk melupakannya dan memaafkannya.  Kembali membuka lembaran baru dengan tunas-tunas kebahagiaan yang siap merekah.<br />
Kebencian dan dendam tidak jadi berbaris di medan tempur, namun memilih mengambil  langkah mundur karena perang tidak akan pernah terjadi. Juga karena tentu kebahagiaan, keharmonisan dan kedamaian tidak pernah memberi  ijin untuk masuk dan memporak-porandakan semuanya. Dengan demikian hubungan antar sesama akan selalu harmonis, rukun, tenteram dan bahagia. Dan pada akhirnya dunia satu keluarga akan semakin cepat menjadi kenyataan. Mari berjuang bersama, jiayou!</p>
<p><strong>Disadur Oleh: RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/berkah-lupa-part-3-end-berkah-lupa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mapanbumi Korda 3 &amp; INLA memberikan sumbangan ke 3 panti sosial</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/mapanbumi-korda-3-inla-memberikan-sumbangan-ke-3-panti-sosial</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/mapanbumi-korda-3-inla-memberikan-sumbangan-ke-3-panti-sosial#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 07:36:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[LATEST NEWS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[Dalam memperingati hari waisak 2555 BE, Mapanbumi ( Majelis Pandita Buddha Maitreya ) Koordinator Wilayah 3 bekerja sama dengan INLA ( International Nature Loving Association ) mengadakan kunjungan social pada hari Minggu, 29 Mei 2011 ke panti asukan, panti jompo, dan panti syaraf di daerah cengkareng, Jakarta Barat. 
Dalam baksos kali ini sumbangan – sumbangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-tresna-werda.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-523" title="panti tresna werda" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-tresna-werda-300x225.jpg" alt="" width="211" height="158" /></a>Dalam memperingati hari waisak 2555 BE, Mapanbumi ( Majelis Pandita Buddha Maitreya ) Koordinator Wilayah 3 bekerja sama dengan INLA ( International Nature Loving Association ) mengadakan kunjungan social pada hari Minggu, 29 Mei 2011 ke panti asukan, panti jompo, dan panti syaraf di daerah cengkareng, Jakarta Barat. <span id="more-522"></span></p>
<p>Dalam baksos kali ini sumbangan – sumbangan yang telah terkumpul berupa beras dengan total 10 ton, 100 dus mie instant Alhami, 10 dus obat – obatan, 10 dus pakaian baru dan 200 buah mainan anak – anak.</p>
<p>Penyerahan sumbangan tersebuh dilakukan oleh Wakil Ketua Umum INLA yaitu Pdt. Jondras Kasrian, Kasi Sosial Masyarakat Pdm. Sukamto, Pimpinan Pusdiklat Maitreyawira Pdt. Liu, Kadiv Sosial Masyarakat, Direktur Hammer Group Alexandrias Hartono dan 56 anggota lainnya.</p>
<p>Kunjungan pertama dilakukan di Panti Sosial Bina Grahita (panti asuhan anak – anak cacat ganda), diberikan kepada pemimpin panti asuhan Legiman yang berupa 3 ton beras, mainan anak – anak, baju baru, 50 dus mis instant Alhamie, 10 dus agar – agar Kanten cap Swallow dari PT Dunia Bintang Wallet ( Effendi Tjoeng).</p>
<p>Seusai dari panti Bina Grahita, Pdt. Jondras beserta rombongan melanjutkan kungjungannya ke panti social Bina Laras Harapan Sentosa I, disana para rombongan di sambut hangat oleh pimpinan panti Erik Simarmoto, yang menerima sumbangan berupa 3,5 ton beras, 5 dus baju baru, 700 buah roti untuk sekotar 680 pasien terbelakang.</p>
<p>Kegiatan kunjungan ini diakhiri dengan berkunjung ke panti social Tresna Werdha Budi Mulia 2 Cengkareng (panti jompo). Sumbangan berupa 3,5 ton beras, handuk, obat – obatan, serta mie instant Alhami dari Djusianto Law yang diserahkan ke pimpinan panti Hartati.</p>
<p>Bakti social seperti di atas telah dilakukan secara rutin setiap tahunnya dan ada pula aksi social seperti pengobatan gratis yang di rutin dilakukan setiap bulannya.</p>
<p style="text-align: center;">berikut foto &#8211; foto dokumentasi</p>
<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-bina-laras.jpg"></a><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-tuna-grahita2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-532" title="panti tuna grahita2" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-tuna-grahita2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-tuna-grahita1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-531" title="panti tuna grahita1" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-tuna-grahita1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-tuna-grahita.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-530" title="panti tuna grahita" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-tuna-grahita-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-tresna-werda2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-529" title="panti tresna werda2" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-tresna-werda2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-tresna-werda1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-528" title="panti tresna werda1" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-tresna-werda1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-bina-laras3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-527" title="panti bina laras3" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-bina-laras3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-bina-laras2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-526" title="panti bina laras2" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-bina-laras2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-bina-laras1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-525" title="panti bina laras1" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-bina-laras1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-bina-laras.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-524" title="panti bina laras" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/panti-bina-laras-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><strong>Disadur Oleh: RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/mapanbumi-korda-3-inla-memberikan-sumbangan-ke-3-panti-sosial/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Lupa (part 2 &#8211; Cara Lupa)</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/belajar-lupa-part-2-cara-lupa</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/belajar-lupa-part-2-cara-lupa#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jun 2011 04:28:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL MAJALAH]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Melupakan kata-kata dan sikap yang menyakitkan tentu tidaklah mudah. Namun bukan berarti tidak bisa. Kekuatan dan kemampuan manusia memang ada batasnya, namun percayalah bahwa ada sebuah kekuatan yang tiada batas yaitu kekuatan LAOMU dan Buddha Maitreya. Karena itu langkah pertama kita untuk belajar melupakan adalah berdoa dan bersujud, memohon LAOMU membukakan kearifan dan memohon kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/belajar-lupa-part-2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-499" title="belajar lupa part 2" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/belajar-lupa-part-2.jpg" alt="" width="198" height="156" /></a>Melupakan kata-kata dan sikap yang menyakitkan tentu tidaklah mudah. Namun bukan berarti tidak bisa. Kekuatan dan kemampuan manusia memang ada batasnya, namun percayalah bahwa ada sebuah kekuatan yang tiada batas yaitu kekuatan LAOMU dan Buddha Maitreya. Karena itu langkah pertama kita untuk belajar melupakan adalah berdoa dan bersujud, memohon LAOMU membukakan kearifan dan memohon kepada Buddha Maitreya agar bisa melapangkan dada untuk melupakan apa yang telah kita alami. Kekuatan LAOMU dapat mengubah segala yang tidak mungkin menjadi mungkin melampaui semua batas logika.Langka kedua adalah belajarlah untuk memaafkan. Membuka pintu maaf dalam diri akan membuat kita melupakan semua peristiwa yang menyakitkan ini.<span id="more-498"></span>Menyimpan dan mengingat terus semua hal yang menyakitkan hanya akan menjadi duri dalam jiwa kita yang mendatangkan penderitaan dan akhirnya yang rugi adalah diri sendiri. Ketika kata-kata yang menyakitkan itu meluncur dari mulut seseorang, itu sudah bagaikan jarum yang meluncur dan menusuk hati kita. Lalu kita lakukan lagi aksi menyimpan semua kata-kata yang menyakitkan itu ibaratnya kita sudah jatuh ditimpa tangga pula. Artinya kita semakin menambah kesakitan di dalam diri.</p>
<p>Mengingatnya dan menyimpannya di dalam hati, pada akhirnya akan menjadi bumerang bagi diri sendiri.  Badan menjadi tidak sehat, kepala selalu sakit dan jantung selalu berdebar-debar karena depresi yang harus ditanggung oleh diri sendiri. Apakah semua ini pantas untuk kita terima dengan terus menyakiti diri sendiri? Kapan kita bisa memberikan kebahagiaan kepada diri kita sendiri? Mungkin kita berpikir apakah hidup ini tidak adil? Sebenarnya kitalah yang membuat hidup kita terasa tidak adil. Karena sesungguhnya kitalah yang membawa penderitaan itu hadir dalam jiwa dan hati kita.</p>
<p>Buddha Maitreya telah membawa sebuah resep yang paling manjur yaitu lapangkan hati dan bukalah lebar-lebar pintu maaf dalam hatimu.  Memaafkan akan membuat kita melupakannya.  Memaafkan berarti kita tidak membiarkan hidup kita dalam kesakitan, dengan kata lain kita mengasihi hidup kita.  Dipandang dari segi bisnis, tentu kita tak mau rugi kan? Kalau kita terus memberi feedback negatif ke dalam diri, maka kita sudah berada dalam posisi rugi. Jadi mana yang kita pilih, untung atau menderita kerugian?</p>
<p><strong>Creator: embun pagi</strong></p>
<p><strong>Disadur Oleh: RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/belajar-lupa-part-2-cara-lupa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Lupa (part-1)</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/belajar-lupa-part-1</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/belajar-lupa-part-1#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jun 2011 16:01:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL MAJALAH]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[Lupa sering dikonotasikan dengan sifat yang negatif. Biasanya  orang yang mudah lupa sering dianggap pikun.  Namun dalam tulisan ini justru mengajak kita untuk belajar lupa. Sebuah pertanyaan yang muncul dalam diri kita adalah mengapa harus belajar lupa? Apa yang harus dilupa dan apa yang tak boleh dilupakan?
Apa yang harus kita lupakan? Belajar lupa atas kata-kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/belajar-lupa-part-1.jpg"><img class="size-medium wp-image-494 alignleft" title="belajar lupa part 1" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/06/belajar-lupa-part-1-300x237.jpg" alt="" width="175" height="166" /></a>Lupa sering dikonotasikan dengan sifat yang negatif. Biasanya  orang yang mudah lupa sering dianggap pikun.  Namun dalam tulisan ini justru mengajak kita untuk belajar lupa. Sebuah pertanyaan yang muncul dalam diri kita adalah mengapa harus belajar lupa? Apa yang harus dilupa dan apa yang tak boleh dilupakan?</p>
<p>Apa yang harus kita lupakan? Belajar lupa atas kata-kata yang menyakitkan yang pernah ditumpahkan kepada kita baik dalam kondisi disengaja ataupun tidak disengaja, kata-kata dan sikap yang melukai hati yang bersifat untuk menggembleng pertumbuhan jiwa kita maupun kata-kata dan sikap penghinaan, kata-kata yang kasar dan menusuk lubuk hati yang terdalam. Lalu apa yang tak boleh dilupakan? Budi kebajikan LAOMU, Buddha Maitreya, Shi Zhun Shi Mu, para sesepuh dan pandita, orang-orang yang ada di sekitar kita, misi dan tanggung jawab yang harus diemban. Namun kebanyakan dari kita sering mengingat apa yang harus dilupakan dan melupakan apa yang harus dingat. Karena itu ternyata belajar lupa untuk hal yang satu ini ternyata tak mudah.</p>
<p>Ibarat luka yang sudah berdarah, kesakitan yang amat sangat, bahkan bila telah mencapai klimaks akan berakibat pada kebencian dan dendam yang tidak akan pernah putus kalau tidak diputuskan. Apalagi jika yang mencaci maki, yang melukai hati dengan kata-kata yang menyakitkan adalah orang yang dekat dengan kehidupan kita, tentu rasa sakit di hati menjadi berlipat. Lalu bagaimana proses untuk lupa bekerja dan memberikan efek yang efektif? Bagaimana bisa? Apakah bisa? Tentu BISA!</p>
<p><strong>Creator: embun pagi</strong></p>
<p><strong>Disadur Oleh: RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/belajar-lupa-part-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengasihi alam, Mengasihi kehidupan sendiri (Part 3 &#8211; End)</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/mengasihi-alam-mengasihi-kehidupan-sendiri-part-3-end</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/mengasihi-alam-mengasihi-kehidupan-sendiri-part-3-end#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 09:02:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Gugusan gunung yang asri, bumi yang hening-diam, rerumputan yagn menghijau, pepohonan yang rindang, langit biru yang luas tanpa batas, awan yang indah dengan sejuta bentuk, telaga yang hening bagaikan cermin, dan langit dengan bintang-bintang yang gemerlapan, adalah keindahan alam yang hening. Sementara burung yang beterbangan, ikan yang berenang ke sana ke mari, hewan yang berlarian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/05/Mengasihi-alam-Mengasihi-kehidupan-sendiri-Part-3-End.jpg"><img class="size-medium wp-image-491 alignleft" title="Mengasihi alam, Mengasihi kehidupan sendiri (Part 3 - End)" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/05/Mengasihi-alam-Mengasihi-kehidupan-sendiri-Part-3-End-240x300.jpg" alt="" width="200" height="223" /></a>Gugusan gunung yang asri, bumi yang hening-diam, rerumputan yagn menghijau, pepohonan yang rindang, langit biru yang luas tanpa batas, awan yang indah dengan sejuta bentuk, telaga yang hening bagaikan cermin, dan langit dengan bintang-bintang yang gemerlapan, adalah keindahan alam yang hening. Sementara burung yang beterbangan, ikan yang berenang ke sana ke mari, hewan yang berlarian dalam keriangan, dan gemericik mata air, sungai yang mengalir deras, samudera yang bergelora, serta berdesirnya angin, rintik-rintik hujan, gemuruh guntur, kicauan burung, kokok ayam, dan nyanyian serangga, adalah keindahan alam yang dinamis.</p>
<p>Alam semesta, langit, bumi, makhluk dan benda tidak berbicara, dan manusialah yang menjadi penyampai kata. Manusialah yang berkewajiban menerjemahkan segala keindahan alam. Manusialah yang harus menjadi ‘juru bicara’ alam semesta. Tetapi bukan berarti manusia menjadi juru alam dalam segala-galanya. Manusia tidak berhak menentukan masa depan dan nasib makhluk lain. Hidup-matinya semua makhluk tidak berada di tangan manusia.</p>
<p>Manusia harus hidup berdampingan dengan makhluk lain di bumi yang satu dan sama ini. Manusia harus menyadari betapa ia dan makhluk lain berasal dari satu akar yang sama, sehingga tidak semestinya saling membinasakan. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang berakal budi dan termulia, sudah semestinya manusia memiliki rasa cinta dan belas kasih terhadap semua makhluk. Dengan demikian barulah manusia pantas dihormati sebagai makhluk yang berbudi dan termulia. Janganlah manusia menempatkan diri di atas segala-galanya, lalu dengan sekehendak hati membunuh makhluk lain. Konsep pengagungan diri demikian adalah sangat keliru dan tidak etis. Jangan lupa bahwa langit dan bumi bagaikan kedua orang tua kita, sementara makhluk lain adalah saudara. Oleh sebab itu mengasihi alam adalah sama dengan mengasihi kedua orang tua dan saudara kita, bahkan adalah mengasihi kehidupan kita sendiri!</p>
<p><strong>Disadur Oleh: RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/mengasihi-alam-mengasihi-kehidupan-sendiri-part-3-end/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

