November 22nd, 2010
Memuliakan Kehidupan Part 2
Hidup sangatlah singkat. Puluhan tahun berkelebat dalam sekejap mata. Saya merasa hidup saya selama enam puluhan tahun begitu singkat dan waktu berjalan dengan sangat cepat. Hidup tidak boleh disia-siakan. Baik para Pandita maupun umat biasa, semuanya harus berjuang bersama. Jika hidup tidak digunakan untuk mewujudkan dunia satu keluarga dalam misi Buddha Maitreya, hidup akan menjadi sia-sia. Sungguh amat disayangkan!
Mengapa tugas ini disebut misi agung penyempurnaan trilokya? Karena sepanjang sejarah, misi ini adalah peristiwa yang terbesar dan terabadi. Mari kita lihat. Berdiri dan hancurnya suatu dinasti besar pun kini tinggal sejarah. Kekaisaran Roma yang besar telah menjadi sejarah. Dinasti Mongol, kekaisaran yang begitu mahsyur, juga tinggal sejarah. Semua urusan dinasti kekaisaran yang dahulu begitu semarak kini telah tiada. Oleh karenanya, urusan di luar misi ini adalah hal-hal kecil yang muncul dan sirna seiring berjalannya waktu. Hanya misi agung Buddha Maitreya, misi untuk mewujudkan bumi suci sukavati, negeri buddhata, dunia surgawi, yang merupakan peristiwa terbesar tiada duanya! Mari persembahkan hidup untuk peristiwa maha agung ini. Hanya dengan demikian hidup baru bernilai dan bermakna. Jangan lagi memboroskan dan menyia-nyiakan waktu. Tiada penyesalan yang berarti bila segalanya telah terlambat.
Hidup yang hanya puluhan tahun harus kita gunakan untuk hal yang paling bernilai dan bermakna di dalam misi penyempurnaan Buddha Maitreya. Melindungi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain adalah demi peristiwa besar ini. Mengasihi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang juga demi peristiwa besar ini. Memuliakan kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain adalah demi peristiwa besar ini. Jika bukan untuk peristiwa besar misi penyempurnaan Maitreya, misi dunia satu keluarga ini, maka misi ini tidak disebut sebagai ‘melindungi, mengasihi, dan memuliakan hidup’. Hanya dengan berdedikasi dalam misi Buddha Maitreya untuk mewujudkan dunia satu keluarga, dunia surgawi, barulah kita menemukan hidup yang mulia dan penuh makna. Inilah yang disebut sebagai ‘melindungi, mencintai, dan memuliakan hidup’.
Lepas dari misi penyempurnaan trilokya, maka tiada hal penting lainnya. Berpartisipasi dalam misi penyempurnaan trilokya dan misi dunia satu keluarga, segalanya jadi bernilai abadi. Kesempatan emas ini sudah kita temukan, selanjutnya harus kita raih dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tiada hal yang paling disayangkan selain kehilangan kesempatan ini. Saat ini kita belum terlambat, dan kesempatan juga belum terlewatkan. Kita berada tepat pada waktunya. Dengan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, barulah hidup tidak sia-sia. Sehingga kita bisa bertanggung jawab pada diri sendiri, pada Tuhan, Buddha Maitreya, dan Dwiguru Agung Nurani. Juga bertanggung jawab pada orang tua dan leluhur kita. Kita harus mempunyai panggilan yang luhur ini. Sebelum abad-21, bagaimanapun konsep pemikiran kita untuk membina dan melaksanakan Ketuhanan tidaklah menjadi persoalan. Namun setelah memasuki abad-21 ini, fokus kita harus tertuju pada misi penyempurnaan Buddha Maitreya ini.
Disadur Oleh : RC
November 11th, 2010
Memuliakan Kehidupan Part 1
Mulai dari melindungi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain, maju selangkah mengasihi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain. Sampai di tahap ini, hati bebas dari rasa benci, rasa iri atau cemburu, dan amarah. Setiap ucapan, perbuatan, dan tindak-tanduk tidak akan menyinggung dan menyakiti orang lain, sebaliknya selalu membawakan berkah dan manfaat untuk orang lain. Dari sini terwujudlah ‘memuliakan kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain’. Mulai dari melindungi kehidupan, kemudian mengasihi kehidupan, dan selanjutnya memuliakan kehidupan. Memuliakan kehidupan adalah bagaikan lilin yang bersinar menerangi orang lain. Memancarkan cahaya terang kehidupan diri sendiri untuk membawakan berkah dan manfaat bagi orang lain, bagi masyarakat, bagi wadah Ketuhanan, keluarga, negara, dunia, bahkan Trilokya.
Sampai tahap ini, diri kita lantas tidak akan cepat merasa puas. Terus-menerus tiada henti mengembangjayakan cahaya kehidupan. Kita masih harus selangkah lebih maju lagi, yaitu merealisasikan ‘memuliakan kehidupan orang lain’, karena kemuliaan ini belumlah sempurna jika hanya menjadi milik diri kita sendiri. Tahap ini memang secara alami akan kita lakukan sebagai langkah kelanjutannya. Apa yang dimaksud dengan memuliakan kehidupan orang lain? Belum cukup bila hanya diri kita sendiri yang membawakan kebaikan bagi orang lain. Lebih jauh kita harus membantu lebih banyak orang untuk menjadi sumber kebaikan bagi banyak orang lainnya.
Ruang lingkup ‘melindungi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain’ sangatlah luas, yaitu saat melindungi kehidupan diri sendiri, pada saat yang sama juga melindungi kehidupan sesama yang berbeda kewarganegaraan, berbeda ras, berbeda warna kulit, berbeda agama, berbeda keyakinan, berbeda budaya, berbeda ideologi, berbeda adat istiadat, berbeda bahasa dan aksara. Juga melindungi kehidupan yang kaya atau miskin, yang mulia atau hina, yang pintar atau bodoh, yang cantik atau jelek. Tentunya kita juga harus melindungi hidup segala satwa dan tumbuhan. Melindungi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain, mencintai kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain, memuliakan kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain. Jika ketiga kalimat ini terealisasi, tercapailah hidup yang terang gemilang, yang kekal abadi, di luar kelahiran dan kematian.
Dengan mengasihi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain, kita juga mengasihi kehidupan sesama yang berbeda kewarganegaraan, berbeda ras, berbeda warna kulit, berbeda agama, berbeda keyakinan, berbeda budaya, berbeda ideologi, berbeda adat istiadat, berbeda bahasa dan aksara. Juga mengasihi kehidupan mereka yang kaya maupun miskin, yang mulia atau hina, yang pintar atau bodoh, yang cantik atau jelek. Tentunya kita juga harus mengasihi satwa yang hidup di angkasa, daratan, dan lautan serta segala tumbuhan. Melindungi kehidupan diri sendiri dan hidup orang lain, mengasihi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain, memuliakan kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain. Kebenaran bukanlah untuk terlalu banyak dikhotbahkan atau didengarkan. Tiga kalimat ini saja sudah tidak habis untuk kita amalkan seumur hidup.
Mulai dari memuliakan kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain, dan selanjutnya memuliakan kehidupan sesama yang berbeda kewarganegaraan, berbeda ras, berbeda warna kulit, berbeda agama, berbeda keyakinan, berbeda budaya, berbeda ideologi, berbeda adat istiadat, berbeda bahasa dan aksara. Juga memuliakan kehidupan mereka yang kaya maupun miskin, yang mulia atau hina, yang pintar atau bodoh, yang cantik atau buruk rupa. Tentunya kita juga harus memuliakan hidup satwa yang kehidupan di angkasa, daratan dan lautan, serta segala tumbuhan. Mampu mengamalkan semua ini berarti kita telah mengamalkan jiwa Maitreya dan berpadu dengan hati Tuhan. Inilah hati nurani!
Tiga poin di atas nampaknya sangat sederhana, namun maknanya sangat luas dan mendalam. Sudah mencukupi, bahkan berlimpah untuk kita renungkan dan amalkan sepanjang hidup. Inilah motto pembinaan dan pengamalan Ketuhanan. Inilah prinsip utama, pedoman utama, sasaran utama, dan tujuan utama dalam membina, mengamalkan, dan membabarkan Maha Tao Maitreya.
Disadur Oleh: RC
October 26th, 2010
Melindungi Dan Mengasihi Kehidupan Part-2
Bagaimana kita merealisasikan semangat ‘mengasihi kehidupan diri sendiri dan mengasihi kehidupan orang lain’? Yaitu di mulai dari melindungi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain, kemudian mengasihi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain. Seseorang yang bisa melindungi kehidupannya, dia pasti mengasihi kehidupannya. Jika tidak tahu melindungi kehidupan dirinya, bagaimana mungkin dia mengasihi kehidupannya? Karena itu, seseorang yang bisa melindungi kehidupannya, dia pasti mengasihi kehidupannya. Seseorang yang bisa melindungi kehidupan orang lain, dia pasti bisa mengasihi kehidupan orang lain.
Orang yang mengasihi kehidupannya akan senantiasa ceria, bahagia, optimis, percaya diri, proaktif, gigih, dan pantang menyerah. Dia hidup dalam keriangan dan kebesaran jiwa yang menakjubkan. Begitulah yang dimaksud mengasihi kehidupan. Karena kita memahami bahwa hidup ini hanya sekali, maka kita harus hidup dengan bahagia. Karena mengasihi kehidupan, kita harus hidup dengan sukacita, ceria, dan penuh senyuman. Karena mengasihi kehidupan ini, kita harus senantiasa merasa nyaman dan percaya diri. Setiap hari jiwa bebas leluasa tanpa ikatan dan beban. Seseorang yang mengasihi kehidupan ini, akan selalu optimis dan tidak pernah putus asa.
Sebaliknya orang yang tidak mengasihi kehidupan akan mudah merasa pesimis, putus asa, patah semangat, berpikiran negatif, minder, dan rendah diri. Untuk selanjutnya dia akan bergabung dengan ‘barisan sakit hati’ yang selalu menyalahkan seluruh dunia. Setiap hari hidupnya penuh dengan keluhan, ini salah, dan itu salah. Ini akibat dari tidak mengasihi kehidupan diri sendiri.
Seseorang yang mengasihi kehidupan, dia menyadari bahwa hidup ini sangat indah, sangat membahagiakan, dan penuh sukacita. Karena itu pula, dia terdorong untuk mengasihi kehidupan orang lain! Seseorang yang mengasihi kehidupan orang lain, dia tentunya harus lebih bahagia. Dia akan berbagi kebahagiaan dan menikmatinya bersama orang lain. Dia akan menyebarkan getaran sukacita dan keceriaan kepada orang lain, mendatangkan optimisme, kepercayaan diri, dan senyuman untuk orang lain.
Ikrar Agung Buddha Maitreya adalah mewujudkan dunia surgawi, negeri buddhata, kerajaan Tuhan, bumi suci sukavati, taman sukacita semesta. Hidup dalam bumi suci sukavati tentunya sangat membahagiakan, penuh sukacita dan senyuman. Setiap hari tentu bebas leluasa, ceria, dan riang gembira. Setiap orang di dalamnya senantiasa merasakan optimisme dan kepercayaan diri. Ini adalah sebuah kondisi yang sudah pasti.
Seseorang yang mengasihi hidup adalah seseorang yang benar-benar berdedikasi dalam misi Buddha Maitreya. Seumur hidup mempersembahkan kasih, membawakan kebahagiaan, sukacita, keceriaan, dan senyuman untuk wadah Ketuhanan, masyarakat, keluarga, negara, dunia dan segala makhluk hidup. Dengan demikian, kita baru benar-benar berdedikasi dalam misi Maitreya untuk mewujudkan dunia satu keluarga, negeri buddhata, bumi suci sukavati, taman sukacita Semesta.
Disadur oleh: RC
October 11th, 2010
Melindungi Dan Mengasihi Kehidupan Part-1
Betapa pentingnya melindungi dan menghargai kehidupan! Seseorang yang bisa melindungi kehidupan, dia pasti mengembangkan nilai, makna, dan manfaat hidupnya dengan maksimal. Tidak ada waktu untuk stres dan depresi. Terlebih tidak ada waktu untuk penyiksaan dan penganiayaan diri sendiri! Dalam hidup puluhan tahun yang sangat terbatas ini, bagaimana kita melaksanakan hal-hal yang paling bernilai dan bermakna? Selain melindungi kehidupan diri sendiri, kita juga harus melindungi kehidupan orang lain.
Ruang lingkup melindungi kehidupan orang lain sangatlah luas. Telah disebutkan sebelumnya bahwa seseorang yang bisa melindungi kehidupan, dia pasti memiliki tujuan hidup dan cita-cita yang mulia. Seluruh semangat dan hidupnya dipergunakan untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita tersebut.
Kini kesempatan emas yang langka telah tiba. Inilah karunia Tuhan yang terbesar, inilah kesempatan yang tidak pernah ada sebelum maupun sesudahnya. Sekalipun kita mampu mempersembahkan hidup untuk mendirikan sebuah negara atau membangun sebuah zaman, itu bukanlah nilai dan makna hidup yang paling maksimal. Dari sudut pandang wadah Ketuhanan, sepanjang sejarah manusia dalam siklus 129.600 tahun, hanya di titik inilah era terwujudnya zaman Buddha Maitreya. Di saat Buddha Maitreya hadir untuk merampungkan ikrar agung-Nya, kita justru bertemu dengan kesempatan ini, sehingga di kehidupan ini kita bisa turut menggapai berkah dan makna yang tertinggi. Tanpa datangnya zaman Buddha Maitreya, tanpa Rahmat Tuhan dan Kebajikan Dwiguru Agung, tanpa turunnya Maha Tao Maitreya ke dunia, kita tidak mempunyai kesempatan untuk menunjukkan makna dan nilai hidup yang paling berharga ini. Mari kita manfaatkan hidup kita agar memperoleh nilai, makna, dan manfaat yang maksimal.
Dengan mendedikasikan seluruh hidup kita dalam misi akbar Buddha Maitreya untuk mewujudkan ‘dunia satu keluarga, segala agama satu keluarga, segala bangsa satu keluarga’, nilai dan makna hidup kita mencapai puncak kemuliaan. Hidup menjadi begitu cemerlang dan indah tak terlukiskan. Inilah hidup yang menerangi dunia dan abadi!
Kini kita telah menemukan satu-satunya kesempatan yang ada, karena itu harus kita manfaatkan dengan baik! Jika tidak kita manfaatkan, atau sampai kehilangan kesempatan, sungguh amat disayangkan! Oleh karena itu, mari kita manfaatkan, kita sayangi dan lindungi hidup kita dengan melaksanakan tugas yang paling bernilai dan bermakna ini, dengan berperan sebaik-baiknya dalam misi Maitreya.
Belumlah sempurna bila hanya sebatas diri sendiri yang melaksanakan tugas ini. Kita juga harus melindungi kehidupan orang lain, agar turut memperoleh nilai dan makna yang maksimal. Kita harus menuntun mereka agar juga bisa mempersembahkan hidup mereka untuk wadah Ketuhanan dan berdedikasi dalam misi Maitreya. Melindungi kehidupan diri sendiri harus diiringi dengan melindungi kehidupan orang lain. Kita harus membantu orang lain untuk bisa mengasihi, melindungi, dan memanfaatkan hidup mereka. Sepertinya kurang bernilai jika hanya diriku sendiri yang mempersembahkan hidup untuk berdedikasi dalam misi Buddha Maitreya, mewujudkan bumi suci sukavati! Kita harus mendorong semua orang untuk mendedikasikan hidup mereka, serta mengasihi dan melindungi hidup mereka. Kemudian memanfaatkan hidup mereka sebaik-baiknya, sehingga seumur hidup bisa turut serta dalam misi Maitreya. Dengan membantu lebih banyak orang untuk mengetahui dan melaksanakan tugas ini, tidak hanya diri sendiri yang mengetahui dan melaksanakan, inilah keberhasilan dan kemuliaan yang sejati.
Disadur oleh: LiangYiin
October 2nd, 2010
Hanya Ada Satu Kesempatan Dalam Hidup Part-2
Hidup hanya sekali. Tubuh ini hanya memiliki satu kesempatan sekali hidup saja. Tiada kesempatan kedua. Arloji kehidupan tidak akan berhenti. Waktu yang kita miliki dalam hidup, semakin hari semakin berkurang, bukan semakin bertambah. Lewat satu jam, berkurang satu jam. Lewat dua jam, berarti berkurang dua jam. Lewat satu tahun, berkurang satu tahun. Berapa pun usia kita sekarang, usia hidup kita di dunia telah ditetapkan dengan pasti. Bila arloji kehidupan ditetapkan 80 tahun, maka hidup pun akan berjalan selama 80 tahun. Bila 90 tahun, maka kita pun akan hidup sampai 90 tahun. Ataukah 100 tahun, maka kita akan hidup seratus tahun. Demikian juga dengan 60 tahun atau pun 70 tahun, semuanya telah ditetapkan. Begitu arloji kehidupan mulai berdetak, hidup akan berjalan dalam kurun waktu yang telah ditetapkan tersebut. Setiap saat semakin berkurang. Memikirkan hal ini, sepantasnya kita merasa was-was.
Oleh karena itu, seseorang yang bisa melindungi kehidupannya, ia sangat pandai mengatur waktu dan dirinya. Dia bisa merencanakan kehidupan dengan baik, agar beberapa puluh tahun hidupnya tidak menjadi sia-sia. Hidup adalah anugerah, dan Tuhan telah memberikan tugas dan misi yang harus kita laksanakan dalam hidup ini. Setiap orang lahir ke dunia atas pengaturan Tuhan untuk menyelesaikan tugas dan misi tersebut. Jika kita tidak menyayangi dan melindungi hidup yang dianugerahkan-Nya, mungkinkah kita menyelesaikan misi yang dipercayakan Tuhan pada diri kita? Tuhan ingin setiap insan manusia hadir dengan tugasnya masing-masing. Oleh karenanya, kehadiran kita di dunia ini pasti ada tanggung jawabnya masing-masing. Kita harus menemukan cara bagaimana agar kesempatan hidup ini dapat kita gunakan sehingga kelak diperoleh hasil yang maksimal. Bagaimanakah kita mengisi hidup ini agar memperoleh makna dan nilai yang terbaik, sehingga bisa membawa kemaslahatan untuk diri sendiri, orang di sekitar, masyarakat, negara, wadah Ketuhanan, bahkan untuk seluruh umat manusia.
Apa yang harus dilakukan? Apa yang dapat dipersembahkan? Berkat Rahmat Tuhan, Kasih Buddha Maitreya dan Kebajikan Dwiguru Agung, kita telah diberitahu dengan jelas, bahwa hidup yang termulia adalah berdedikasi dalam misi Buddha Maitreya untuk mewujudkan bumi suci sukavati. Inilah peristiwa mahaakbar yang tidak pernah terjadi sebelumnya, dan kini kita telah berada di dalamnya. Oleh karena itu, kita harus berusaha semaksimal mungkin agar hidup kita memperoleh makna dan nilai yang terbaik dan termulia. Dengan mempersembahkan hidup ini bagi terwujudnya negeri buddhata, dunia surgawi, bumi suci sukavati. Sungguh tanpa peristiwa akbar ini, hidup kita akan menjadi sia-sia. Hidup menjadi tiada artinya.
Di antara enam miliar manusia, berapa orang yang mempunyai kesempatan seperti kita untuk menghasilkan nilai dan makna hidup hingga ke puncak kemuliaannya? Hidup kita akan memperoleh makna dan nilai yang terbaik bila dipersembahkan kepada wadah Ketuhanan. Hidup ini kita pergunakan demi kehidupan enam miliar saudara kita di dunia. Kita berjuang hingga titik nafas terakhir untuk mewujudkan bumi suci sukavati, dunia surgawi, negeri buddhata. Dengan demikian, hidup kita akan memperoleh nilai dan makna yang paling maksimal. Hidup yang sementara jadi bernilai abadi. Inilah intinya!
Disadur oleh: LiangYiin
September 14th, 2010
Hanya Ada Satu Kesempatan Dalam Hidup Part-1
Menjunjung segala kehidupan. Melindungi hidup diri sendiri serta orang lain. Mengasihi hidup diri sendiri serta orang lain. Memuliakan hidup diri sendiri serta memuliakan hidup orang lain. Seseorang yang dapat melindungi, mengasihi, dan memuliakan kehidupan dirinya dan kehidupan orang lain, baru dapat merealisasikan ‘Langit bumi bagai ayah bunda, 6 miliar manusia adalah saudara, segala satwa dan tumbuhan adalah anggota keluarga dalam taman sukacita semesta ini’. Sepenuhnya menjunjung segala kehidupan secara utuh. Seseorang yang tidak bisa melindungi kehidupannya sendiri, tidak akan bisa melindungi kehidupan orang lain dan menghargai kehidupan. Seseorang yang tidak bisa mengasihi kehidupan diri sendiri, tidak akan bisa menghargai kehidupan. Dia juga tidak mungkin mengasihi kehidupan orang lain! Seseorang yang tidak bisa melindungi dan mengasihi kehidupan orang lain, mustahil bisa merealisasikan semangat ‘6 miliar umat manusia adalah saudara’, terlebih menjadikan satwa yang hidup di angkasa, daratan, dan lautan sebagai saudara. Oleh karena itu lirik ‘melindungi, mengasihi, dan memuliakan hidup’ di dalam Tembang Pujian Semesta dimulai dari diri sendiri.
Saudara, hidup ini hanya satu kali. Hidup yang hanya sekali dan tidak ada kesempatan keduanya ini begitu berharga. Oleh karena itu, melindungi dan menyayangi kehidupan diri sendiri adalah sangat penting! Singkatnya hidup yang hanya satu kali ini harus kita hargai setiap menit dan detiknya. Jika kita tidak melindungi dan menyayangi kehidupan diri sendiri, berarti kita sedang menghamburkan, memboroskan, dan menyia-nyiakan hidup. Ketika nafas terakhir dihembuskan, kita akan merasa sangat menyesal! Tragisnya, manusia terus menyia-nyiakan hidup tanpa disadarinya. Manusia tidak sadar hidup begitu berharga. Satu menit yang telah berlalu tidak akan kembali. Satu jam yang berlalu juga tidak akan kembali. Demikian pula satu hari yang telah berlalu, tidak mungkin terulang kembali.
Hidup sungguh berharga! Dalam hidup yang terbatas ini, bagaimana kita bisa mengukir karya suci yang abadi? Bagaimana kita menggunakan jasmani yang sementara ini untuk membuahkan hidup yang kekal abadi? Seseorang yang sungguh-sungguh melindungi dan menyayangi kehidupannya akan membangun tekad yang agung, memiliki tujuan hidup yang mulia, dan cita-cita yang luhur. Karena hanya dengan demikian dirinya baru dapat benar-benar terpanggil untuk memanfaatkan setiap menit, setiap jam, dan setiap hari dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya seorang yang tidak memiliki tujuan dan cita-cita hidup yang luhur, tanpa disadari ia hanya menyia-nyiakan hidupnya. Oleh karena itu, marilah kita semua merenungi, apa tujuan hidup dan cita-cita luhur kita? Karena jika tidak memiliki tujuan, panggilan, dan cita-cita yang luhur, dan terus menyia-nyiakan hidup, kita tidak tergolong sebagai orang yang melindungi dan menyayangi hidup ini!
Seseorang yang melindungi dan menyayangi hidup, akan senantiasa menggunakan waktunya secara efisien, baik semenit, sejam, ataupun sehari, untuk hal-hal yang paling bermakna. Hal-hal bermakna tersebut adalah bagian dari tujuan mulia dan cita-cita luhur yang harus diwujudkan dalam hidupnya. Seseorang yang dapat mewujudkan tujuan dan cita-cita yang mulia, hidupnya akan abadi dan tidak lekang oleh waktu. Bila melewati hidup dengan sia-sia tanpa mewujudkan tujuan dan cita-cita yang luhur mulia, sampai akhir hayat merasa menyesal pun sudah terlambat!
Disadur oleh: LiangYiin
August 18th, 2010
Budaya, Peradaban dan Moralitas Baru Part-2
Inilah semangat yang harus dikembangkan oleh seorang Sesepuh, Pandita, Pandita Muda, Pelaksana, Dharmaduta, dan seluruh umat. Dengan memiliki semangat dunia satu keluarga ini, kita akan menjadi manusia abad-21 yang paling bermartabat dan berkualitas. Kita baru dapat membantu misi Buddha Maitreya dan berpartisipasi pada babak penyatusempurnaan terakhir kelak. Jika tidak demikian, kita akan tereliminasi oleh zaman!
Berkat kemajuan transportasi dan teknologi informasi, serta jangkauan internet yang menakjubkan, dimensi waktu dan ruang di bumi menjadi semakin kecil. Dengan satu telepon genggam, kita bisa terhubung ke seluruh pelosok dunia. Sebelum abad-21, konsep ‘dunia bagai satu desa’ telah menjadi tren di masyarakat. Saat itu telah ramai dibicarakan bahwa dimensi ruang semakin kecil dan waktu semakin singkat. Kini memasuki abad-21 yang semakin maju, konsep ‘dunia satu desa’ secara alami tak terbendung, berubah menjadi ‘dunia satu keluarga’.
Sayangnya, walau dimensi ruang dan waktu semakin mengecil, dunia satu keluarga belum juga terwujud. Dunia ini masih terpecah belah! Apa penyebabnya? Penyebabnya adalah masih eksisnya dinding-dinding pemisah yang menjulang tinggi di antara umat manusia, sehingga menghalangi umat manusia untuk hidup harmonis dan saling mengasihi.
Egoisme, prasangka, dan ketidaktahuan umat manusia, membuat dunia satu keluarga menjadi sulit dicapai. Begitu banyak dinding pemisah yang kasat mata. Beda kewarganegaraan menjadi dinding pemisah. Beda agama juga menjadi dinding pemisah yang tinggi. Beda ras, warna kulit, dan bangsa adalah suatu dinding pemisah. Beda budaya dan ideologi juga menjadi dinding pemisah. Adat istiadat dan kebiasaan juga adalah dinding pemisah. Beda aksara dan bahasa juga dinding pemisah. Kaya, miskin, mulia, dan hina juga menjadi dinding pemisah. Pandai, bodoh, cantik, dan buruk rupa juga suatu dinding pemisah. Dan yang lebih trendi lagi, perbedaan partai juga membangun dinding pemisah. Terlalu banyak dinding pemisah!
Dinding-dinding pemisah ini menghalangi rasa persaudaraan umat manusia dan membuat jarak sesama semakin jauh. Sekalipun dimensi waktu dan ruang sudah menyempit, namun jarak antarsesama manusia justru semakin melebar. Terdapat terlalu banyak pertentangan. Terlalu banyak sikap dingin, saling menjauhi, saling berselisih dan bermusuhan. Akhirnya timbul pertikaian, percekcokan, saling menganiaya, dan saling mencelakai. Semakin hari semakin parah. Dan hingga detik ini belum ada tanda-tanda penyelesaiannya. Inilah sisi gelap dari kehidupan umat manusia, sisi yang paling menyedihkan dan memprihatinkan!
Sebagai siswa-siswi Maitreya, kita semua mendapat Titah dari Tuhan dan Buddha Maitreya untuk mewujudkan suara hati Tuhan dan jiwa Buddha Maitreya, yaitu mewujudkan dunia satu keluarga sesegera mungkin. Inilah tujuan hidup yang harus diwujudkan oleh kita semua. Inilah proyek pekerjaan yang paling akbar dalam hidup kita. Inilah intisari dari pembinaan dan pengamalan dalam Maha Tao Maitreya. Terpisah dari intisari ini, semuanya menjadi pembinaan yang sia-sia dan tiada guna. Tugas dan misi siswa-siswi Maitreya adalah melenyapkan dinding-dinding pemisah yang tak terhitung jumlahnya. Apalagi sebagai Pandita dan Dharmaduta, kita harus terus membabarkan kebenaran untuk meruntuhkan dinding-dinding pemisah tersebut!
Puji syukur atas Rahmat Tuhan, Kasih Buddha Maitreya, dan Kebajikan Dwiguru Agung Nurani. Buddha Maitreya telah mengarahkan kita kepada konsep ‘dunia satu keluarga’ untuk meruntuhkan berbagai jenis dinding pemisah. Namun selain memiliki konsep, kita juga membutuhkan tenaga-tenaga manusia untuk menerapkannya, sehingga dinding-dinding pemisah tersebut baru dapat diruntuhkan satu-persatu.
Makna luhur Tembang Pujian Semesta adalah intisari dari budaya kasih semesta. Untuk meruntuhkan dinding-dinding pemisah, hanya dapat dilakukan dengan mengembangluaskan budaya kasih semesta, agar kasih semesta menjadi nilai, kebudayaan, peradaban, dan kebiasaan bersama seluruh umat manusia, menjadi nilai, budaya, dan peradaban baru abad-21. Kasih semesta berarti mengasihi langit-bumi, semua manusia, seluruh makhluk dan segala kehidupan. Jika setiap insan telah melaksanakannya, maka dengan sendirinya dinding-dinding pemisah tersebut akan runtuh dan hilang tak berbekas.
Disadur oleh: LiangYiin
August 5th, 2010
Budaya, Peradaban dan Moralitas Baru Part-1
Budaya, peradaban, dan moralitas baru umat manusia dipelopori oleh siswa-siswi Maitreya. Abad-21 yang adalah abad Maitreya, sekaligus juga merupakan abad kebangkitan kecemerlangan hati nurani umat manusia. Jika abad Maitreya sudah benar-benar terwujud, maka seluruh negara akan maju, tidak hanya negara Barat saja! Kita menganggap segala satwa sebagai saudara, karena itu kita bervegetarian. Di negara Barat juga terdapat sejumlah orang yang menjunjung kemuliaan kehidupan.
Di Eropa, populasi vegetarian yang terbanyak terdapat di Jerman, di mana beberapa juta orang yang telah bervegetarian. Motif mereka bervegetarian adalah menjunjung kemuliaan kehidupan. Populasi vegetarian terbesar kedua adalah di Inggris. Juga beberapa juta jiwa. Menurut perkiraan pakar, pada tahun 2043, seluruh populasi di Inggris akan bervegetarian. Penyebabnya bukanlah faktor agama, melainkan karena menjunjung dan menghargai kemuliaan kehidupan. Sekalipun mereka belum mendapatkan Dhiksa Maitreya ¤, tetapi mereka begitu menghargai kehidupan sehingga pantang mengonsumsi daging dan ikan. Ini adalah bagian dari kebangkitan kesadaran nurani dan kebijaksanaan umat manusia.
Hewan juga mempunyai hak asasinya. Kita tidak boleh merampas hak hidup mereka. Jangan lagi kita mengorbankan hidup mereka, semata demi mengenyangkan perut kita. Karena pada dasarnya kita tidak berhak! Mari kita bertanya ke dalam nurani, atas dasar apa kita sebagai manusia boleh memakan mereka? Sebaliknya bagaimana tanggapan kita jika hewan menjadikan manusia sebagai makanan mereka?
Sekuntum bunga, sehelai rumput, dan sebatang pohon adalah bagian dari anggota keluarga alam semesta. Menghargai kehidupan tidak hanya menganggap segala satwa sebagai saudara, bahkan bunga, rumput, dan pepohonan juga merupakan anggota keluarga kita di rumah alam semesta ini. Kita melihat langit dan bumi sebagai ayah dan bunda. Enam miliar manusia di seluruh dunia adalah saudara. Segala satwa juga saudara, dan segala tumbuhan adalah anggota keluarga kita. Kita menjunjung kemuliaan setiap kehidupan. Gambaran ini telah melukiskan bagaimana kondisi dunia satu keluarga yang sebenarnya. Inilah jiwa Buddha Maitreya, inilah suara hati dan seruan Tuhan – Sang Bunda Ilahi.
Apa yang dimaksud dengan dunia satu keluarga juga tertuang dalam tembang Pujian Kedamaian Dunia sebagai berikut:
Kamu dan aku satu keluarga, bumi satu keluarga
Semua manusia satu keluarga, dunia satu keluarga
Kewarganegaraan berbeda-beda, namun tetap satu keluarga
Beragam agama dan keyakinan, juga adalah satu keluarga
Beraneka ragam suku bangsa, tetap satu keluarga
Berbeda warna kulit dan ras, tetapi juga satu keluarga
Beraneka ragam kebangsaan, semua satu keluarga
Berbeda budaya namun tetap satu keluarga
Berbeda adat istiadat juga satu keluarga
Berbeda kebiasaan, juga satu keluarga
Berbeda bahasa, juga satu keluarga
Berbeda aksara, juga satu keluarga
Seluruh umat manusia satu keluarga
Semua makhluk hidup satu keluarga
Disadur oleh: LiangYiin
July 23rd, 2010
Arus Dunia “Budaya Kasih Semesta” Part-2
Melalui budaya kasih semesta, dengan memancarkan pesona keindahan kodrati manusia, kita wujudkan dunia satu keluarga! Sabda Hao Che Ta Ti telah terbukti! Kita bukanlah manusia super yang memiliki kekuasaan atau ilmu gaib yang luar biasa. Kita juga tidak memiliki uraian dharma yang tinggi dan gaib. Kita hanya berpegang teguh pada hati Tuhan – Bunda Semesta, berpegang teguh pada hati Buddha Maitreya, dan kebajikan Dwiguru Agung Nurani. Kita ingin mewujudkan dunia satu keluarga agar dunia surgawi, negeri buddhata, kerajaan Tuhan, bumi suci sukavati dapat terwujud di bumi ini. Kita hanya berteguh pada semangat ini. Jika kita bisa menghayati dan merealisasikannya sepenuh hati, maka yakinlah bahwa dunia ini akan mengikuti derap langkah kita!
Saudara kita bukan hanya 6 miliar umat manusia, bahkan unggas yang beterbangan di angkasa raya, hewan-hewan yang berlarian atau merayap di bumi, dan makhluk yang berenang di lautan luas, juga merupakan anggota keluarga kita. Yang dimaksud sebagai kehidupan, bukanlah sebatas pada kehidupan manusia saja. Kita masih mempunyai banyak sanak saudara. Tanpa sanak saudara ini, dunia pun akan kehilangan kegemilangan dan fungsinya! Jika di dunia ini tidak ada unggas yang beterbangan, hewan yang berlarian, dan satwa-satwa air, dunia tidak lagi semarak penuh warna. Alam semesta kehilangan nilai keindahannya! Mengapa keindahan alam semesta begitu melimpah? Karena selain manusia dan benda-benda yang pasif seperti gunung dan sungai, kita masih mempunyai saudara-saudari, yaitu aneka satwa. Mereka juga makhluk Tuhan. Mereka adalah bagian dari anggota keluarga kita yang tak terpisahkan.
Konsep yang kita miliki melampaui konsep negara-negara Eropa dan Amerika yang sangat mengutamakan perlindungan alam, namun kurang menekankan kasih kepada manusia. Yang mereka utamakan adalah mencintai tumbuhan dan satwa langka, melindungi bumi agar tidak tercemar. Tanah tidak tercemar, air tidak tercemar, udara tidak tercemar, dan makanan tidak tercemar. Inilah konsep kasih alam yang mereka maksud. Sedangkan kasih alam yang kita maksud mencakup semangat mengasihi manusia dan menjunjung segala bentuk kehidupan. Mereka akan takjub dengan konsep yang luar biasa ini. Inilah budaya dan peradaban baru dari belahan Timur dunia, yang akan memperbaharui apa yang dikembangkan di Barat selama ini.
Sebelumnya Maha Sesepuh Yen pernah berpesan untuk membentuk satu tim tari kasih semesta dari Negara Kanada dan Amerika Serikat untuk mengikuti Festival Seni Tari Kasih Semesta Internasional. Saya pun sering menghubungi para Pandita dan asisten pengajar di sana agar segera membentuk tim tersebut. Awalnya ada beberapa orang yang datang namun selalu berhenti di tengah jalan. Jawaban dari Pandita di sana, “Sesepuh, orang-orang di sini kurang bisa menerima konsep mengasihi alam semesta dengan nyanyian dan tarian. Yang mereka tahu selama ini mengasihi alam adalah dengan menanam bunga, rumput, pohon, ataupun memungut sampah. Demikianlah cara mengasihi alam bagi mereka. Jika kita mengatakan mengasihi alam semesta harus dimulai dengan mengasihi semua manusia dan segala kehidupan, maka tanggapan mereka adalah hal itu tidak pernah diajarkan di sekolah dan sulit untuk dipahami!”
Kita menjadikan segala satwa sebagai saudara, namun bagi mereka hal itu tidak masuk akal. Mereka hanya mengutamakan satwa yang dilindungi saja. Sesungguhnya dengan menganggap segala satwa adalah saudara, inilah jiwa kasih Buddha Maitreya dan kasih Bunda Semesta yang universal dan tak berbatas. Mari kita bertanya ke dalam nurani. Apakah hanya kehidupan harimau, singa, dan satwa-satwa langkah saja yang perlu dilindungi dan dihargai? Sedangkan nyawa dari hewan seperti babi, ayam, itik, kambing, dan kerbau tidak bernilai, sehingga pantas untuk disembelih dan disantap? Sikap seperti ini pada dasarnya tidak menjunjung kemuliaan kehidupan secara universal. Nyawa seekor babi ataupun nyawa seekor harimau, dan nyawa seekor kerbau atapun nyawa seekor singa, adalah sama nilainya! Bila demikian, mengapa hanya satwa seperti harimau, singa, dan lainnya harus dilindungi, sementara kerbau, babi, ayam, itik, dan kambing boleh dibunuh untuk dinikmati? Hal ini juga merupakan bentuk diskriminasi, penindasan, dan penyiksaan terhadap kemuliaan kehidupan yang universal.
Disadur oleh: LiangYiin
July 15th, 2010
Arus Dunia “Budaya Kasih Semesta” Part-1
Ingin menjadi seorang Dharmaduta atau kader Maitreya yang handal? Jiwailah dengan mendalam semangat “dunia satu keluarga”. Dengan demikian kita baru memenuhi syarat menjadi Dharmaduta dan baru layak menyelamatkan dunia. Kita baru benar-benar menyebarluaskan Rahmat Tuhan dan Kebajikan Kasih Buddha Maitreya! Jika tidak demikian, kita hanya membina dengan sia-sia dan menyesatkan umat manusia. Setiap zaman memiliki kondisi dan situasi yang unik. Mari perbaharui pola pandang kita! Mari segarkan pola pikir kita!
Dengan konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, masih adakah segala perbedaan, perselisihan, pertentangan, dan diskriminasi antarkelompok? Masih adakah perseteruan benar-salah, dendam dan benci di antara kita? Bila masih ada, bukankah kita akan merasa sangat malu! Karena segala perbuatan kita tersebut hanya akan menjatuhkan Buddha Maitreya, dan pasti akan mendatangkan kesedihan bagi Tuhan! Kita semua adalah putra-putri-Nya. Jika masih saling berselisih, bertentangan, berdiskirimasi, dan saling menaruh dendam, betapa hancurnya hati Bunda Semesta. Jika telah mengecewakan Tuhan, tentunya para Buddha dan Bodhisatva juga tidak akan mengampuni kita. Perbuatan yang membuat hati Tuhan sedih tentu berakibat fatal! Para Buddha dan Bodhisatva tidak akan membantu, dan sebaliknya akan memberikan hukuman!
Lalu, bagaimanakah jika kita ingin membahagiakan hati Tuhan? Teladani Buddha Maitreya. Buddha Maitreya adalah anak Tuhan yang sangat berbakti. Beliau senantiasa membahagiakan Bunda Ilahi. Ikrar agung untuk mewujudkan dunia satu keluarga, enam miliar umat manusia menjadi satu keluarga, inilah Dharma Hati yang tiada tara, yang juga merupakan suara hati Tuhan dan seruan-Nya kepada kita semua! Mari kita ikut melangkah bersama dengan-Nya.
Sebagai satu keluarga, adakah yang perlu dibeda-bedakan? Jika masih ada diskriminasi kewarganegaran, kebangsaan, agama, keyakinan, ras, warna kulit, budaya, adat istiadat, bahasa, bahkan kaya-miskin, pintar-bodoh, cantik-jelek, bukankah kita sudah bertindak dungu dan kekanakan! Hal ini jelas membelakangi hati Tuhan, hati Buddha Maitreya, dan kebajikan Dwiguru Agung Nurani! Dwiguru Agung Nurani turun ke dunia dan mentransmisikan Dhiksa Maitreya adalah untuk membuka pintu hati nurani, pintu ilahi, gerbang buddhata. Dwiguru Agung Nurani turun ke dunia dan membuka pintu nurani kita ¤ adalah sebagai langkah awal untuk mewujudkan dunia satu keluarga.
Oleh karena itu, yang selaras dengan kehendak Tuhan akan berkembang jaya, dan yang berlawanan akan sirna. Yang selaras dengan hati Tuhan dan Buddha Maitreya akan berkembang jaya dan hidup sejahtera. Yang bertentangan dengan hati Tuhan, Buddha Maitreya, dan Dwiguru Agung Nurani, bertolak belakang dengan konsep ‘dunia satu keluarga’, akhirnya akan sirna. Hao Che Ta Ti pernah bersabda, “Membina Ketuhanan sesungguhnya mudah, yang sulit adalah mengatasi masalah antarmanusia!” Namun di abad-21, masalah-masalah antarmanusia ini akan sirna. Karena sekarang adalah abad dunia satu keluarga, era Buddha Maitreya. Masih adakah masalah antarmanusia dalam satu keluarga yang tidak dapat diatasi? Bila masih ingin bertentangan dengan kehendak Tuhan dan melawan hati Dwiguru Agung Nurani, hati Buddha Maitreya, maka Tuhan tidak akan memaafkan! Di abad dunia satu keluarga ini, barang siapa yang tidak mau menyesuaikan diri, kelak akan tersisihkan. Sangat sederhana!
Kita semua hendaknya merasa sangat beruntung dan bahagia, karena dapat berjalan di barisan terdepan dunia! Kita sedang mulai mengembangkan Budaya Kasih Semesta, untuk mewujudkan dunia satu keluarga – taman sukacita semesta yang terindah. Sekalipun kita baru mulai melangkah, namun patrilah dalam hati secara mendalam dan kembangkanlah secara meluas. Ini adalah kesempatan terbaik untuk beramal kebajikan dan menunaikan ikrar.
Hao Che Ta Ti pernah bersabda bahwa kita tidak boleh terbawa arus masyarakat, namun masyarakatlah yang harus mengikuti derap langkah kita! Dulu saya sendiri kurang memahami, berdasarkan apa kita bisa membuat masyarakat mengikuti kita dan kita tidak mengikuti masyarakat? Sekarang barulah saya pahami dan kini saya telah berkeyakinan penuh. Maha Sesepuh Yen juga sangat berkeyakinan, bahwa kita harus membuat dunia mengikuti langkah kita, yaitu berdasarkan pada semangat “dunia satu keluarga”.
Disadur oleh: LiangYiin

