May 2nd, 2011
Mengasihi alam, Mengasihi kehidupan sendiri (Part 1)
Mengasihi alam adalah mengasihi diri sendiri, mengapa demikian? Sebab pada hakekatnya langit, bumi, manusia, dan laksa benda di alam semesta adalah satu kesatuan yang bulat, yang tak boleh kurang satu pun dari keempatnya. Jika hanya ada unsur langit, bumi, dan laksa makhluk, namun tidak ada unsur manusia, keberadaan alam menjadi tidak bermakna. Sebaliknya, tanpa langit dan bumi, manusia dan laksa benda tidak akan dapat eksis. Demikian pula bila hanya ada langit, bumi, dan manusia, namun tidak ada laksa benda lainnya, manusia tak mungkin dapat bertahan hidup dan alam raya pun menjadi ruang hampa yang penuh kesunyian. Langit, bumi, manusia, dan laksa benda adalah empat komponen pembentuk alam semesta yang saling bergantung dan berkaitan erat. Sebagai bagian dari alam, manusia tidak boleh hidup eksklusif dari alam. Namun materialisme, utilitarianisme, dan teknologi telah membuat manusia berseru lantang mau menaklukkan alam semesta! Begitu manusia menyatakan diri beroposisi dengan alam, mak selangkah demi selangkah – pelan namun pasti – manusia telah membawa masa depannya ke dalam jurang kehancuran!
Pada hakekatnya langit bagaikan otak, bumi bagaikan tulang, otot, dan pembuluh darah, sedangkan manusia adalah badan jasmani, sementara laksa benda adalah mata, hidung, telinga, mulut, alis, rambut, tangan, dan kaki. Perpaduan semua bagian dan organ inilah yang membentuk tubuh seorang manusia yang utuh. Demikian pula adalah perpaduan keempat komponen: langit, bumi, manusia, dan laksa benda yang membentuk alam menjadi alam semesta raya yang sempurna. Sebagai bagian dari alam, manusia harus hidup sejalan dan seirama dengan alam, dan inilah kebenaran hidup. Perilaku yang dibuat-buat, sikap munafik, egoisme, keakuan, keserakahan, kejahatan, nafsu, dan ambisi yang berlebihan adalah bertentangan dengan kebenaran alam.
Disadur Oleh: RC
April 29th, 2011
Mustika Pembinaan Diri 修道寶庫
Jalan pembinaan & pengamalan sejati (9)
Yang Suci Hao Ci Da Di
Ditulis kembali oleh: awan hampa
常見己過 不見人非
Melihat kesalahan sendiri
Tidak melihat kejelekan orang lain
Prilaku khas seorang awam adalah suka melihat kesalahan orang lain dan buta terhadap kesalahan sendiri. Kesalahan seringan apa pun, keburukan sekecil dan kelemahan sehalus apapun akan terlihat dan tercatat dengan jelas bila itu milik orang lain! Namun kesalahan, keburukan dan kejelekan sebesar apa pun, kalau itu ada dalam diri sendiri, tidak akan terlihat sedikit pun! Bagi orang awam, dari pagi begitu mata dibuka, hal yang tak pernah bosan dilakukan adalah melihat, mencari, dan membicarakan keburukan orang. Sedangkan keburukan sendiri tak pernah disadari.
Pengembangan dan kemajuan diri dimulai dari pengakuan yang berani atas segala keburukan dan kejelekan diri sendiri. Selama seseorang gagal memahami kekurangan dan kelemahan diri sendiri; selama ia merasa dirinya baik dan benar maka selama itu pula tidak akan ada`perbaikan dan kemajuan apapun dalam dirinya. Kemajuan dan perbaikan baru ada ketika seseorang dengan jujur dan berani mengakui segala kekurangannya.
Langkah pertama membina Ketuhanan adalah introspeksi diri. Belajar melihat ke dalam untuk menemukan segala kekurangan, kelemahan, dan kesalahan diri sendiri. Melihat ke dalam pikiran, tutur kata dan tindak perbuatan sendiri. Inilah upaya nyata membina Ketuhanan yang benar. Orang yang tidak pernah mau introspeksi diri tidak akan berhasil membina Ketuhanan.
Kita dapat mengukur kesungguhan dan ketulusan kita dalam membina Ketuhanan dari kesadaran kita berintrospeksi diri. Jika kita tidak pernah mau melihat kesalahan sendiri, dan hanya cenderung melihat kesalahan orang lain, kita bukanlah seorang pembina ketuhanan. Apa pun agama kita, keimanan dan ketulusan kita sia-sia. Semua bentuk doa, meditasi dan puja-bhakti menjadi tidak bermanfaat.
知人者暗
Mengetahui orang lain
adalah kegelapan
Kegelapan yang dimaksud adalah batin yang tiada kearifan dan keinsafan, yang diselubungi oleh ketidaktahuan dan kebodohan. Orang yang suka mengetahui segala seluk beluk, kekurangan, dan keburukan orang lain bukanlah orang hebat atau bijak, melainkan orang yang jiwanya diselubungi oleh kegelapan!
Kecenderungan melihat keburukan orang menandai kesenangan dan kegembiraan kita atas penderitaan dan kebodohan orang lain. Kita menikmati kejatuhan atau keterpurukan mereka. Hal ini menunjukkan ketiadaan cinta kasih dan rasa iba.
Orang sombong dan egois selalu suka melihat orang lain melakukan kesalahan atau kejahatan sebab dengan demikian akan membuat ia merasa semakin mulia dan tiada saingan.
Semakin banyak kita melihat hal-hal negatif, hati dan pikiran kita akan menjadi semakin negatif pula. Semakin banyak melihat dan mengetahui keburukan orang akan membuat hati kehilangan keheningan, pikiran menjadi keruh, batin menjadi kotor, kearifan terselubung, kebodohan semakin bertambah akhirnya jiwa akan dipenuhi kabut kegelapan.
Orang yang suka melihat keburukan akhirnya akan menyukai keburukan, dan melakukan keburukan. Orang yang suka melihat kesalahan orang lain akhirnya akan menyukai kesalahan dan melakukan kesalahan! Inilah yang dimaksud dengan kegelapan.
知己者明
Mengetahui diri sendiri
adalah terang
Semua perenungan, pencarian , dan penginsafan kebenaran berawal dari dalam. Semua bentuk pembinaan dan pengembangan moral dan spiritual, kasih dan kearifan dimulai dari dalam diri sendiri.
Orang Suci mengatakan: “Tidak ada kebenaran di luar diri. Tak ada kebuddhaan di luar hati…”
Meninggalkan diri sendiri sama dengan meninggalkan kebenaran dan menutup semua pintu Dharma. Melepaskan tanggung jawab diri, tak ada lagi moral kebajikan dan kesucian spiritual yang bermanfaat untuk dibicarakan.
Oleh sebab itu mengetahui, mengenal dan memahami diri sendiri adalah yang paling utama. Dengan memahami diri sendiri orang baru dapat memahami orang lain. Orang yang memahami penderitaan akibat kemelekatan dalam dirinya baru dapat memahami
kemelekatan orang lain.
Semua manusia memiliki jiwa dengan sifat kodrati yang sama. Bila seseorang memahami sifat kodrati dirinya ia akan mampu memahami segala permasalahan umat manusia dan dunia!
Disadur Oleh: RC
March 26th, 2011
Seorang Abdi Kasih yang Sejati, Terlebih Dahulu harus Bisa Merelakan Semua Ikatan Harta, Kekayaan, Nama dan Reputasi
Para Buddhasiswa, para Duta Dharma, dan para peserta Kelas Pengembangan Kearifan, luhurkah abdi kasih ini? Luhur . Namun untuk bisa menjadi abdi kasih, anda harus memenuhi satu persyaratan yaitu harus merelakan semua harta, kekayaan, nama dan reputasi. Apa buktinya? Nabi Khong Ce. Beliau melepaskan jabatan pemerintahan pada masa Dinasti Lu, padahal untuk tingkat kedudukan beliau pada saat itu sudah sangat tinggi, hampir setingkat dengan Jaksa Agung. Tapi beliau meninggalkan jabatan tersebut, berkelana ke belahan dunia untuk mengajarkan kebenaran dan membimbing umat manusia, bahkan untuk bisa melewati negara Sung beliau harus menyamar dengan memakai pakaian yang lain, selam tujuh haru menderita kelaparan. Sampai salah satu muridnya yang bernama Ce Lu mengeluh dan mengatakan : ‘Miskin sampai puncaknya!’. Namun nabi Khong Ce tertawa Ha… ha…, dan dengan wajah yang tak berubah warna mengatakan: ’Kaya sampai puncaknya!’. Nabi Khong Ce adalah abdi kasih yang bagaimana? Beliau telah mampu melepaskan harta, kekayaan, nama dan reputasi, Beliau adalah abdi kasih yang sejati.
Nabi yang mana satu lagi yang juga merupakan abdi kasih yang sejati? Buddha Sakyamuni. Buddha Sakyamuni memiliki istana kerajaan namun tidak ditempatinya. Karena ayahandanya tidak mengizinkannya membina diri, akhirnya pun beliau lari dari istananya; Beliau bahkan adalah pewaris tahta kerajaan, penerus utamanya setelah ayahandanya meninggal nanti, namun itupun ditinggalkannya. Ketika Beliau meninggalkan istana, apakah Beliau memiliki tempat berlindung? Tidak ada. Ada yang menyediakan makanan buat Beliau? Tidak. Malahan beliau harus mengemis minta sedekah seperti kita lihat para muris-murid Beliau, dan sampai sekarang pun mereka masih mengemis meminta sedekah. Jadi, apakah Buddha Sakyamuni juga seorang abdi kasih? Ya. Abdi kasih tidak mau gaji, nama, reputasi serta keuntungan, ini barulah abdi kasih Laumu yang sejati, kalian sudah mengerti? Sudah. Kalaupun sudah mengerti, itu belumlah cukup! Anda harus menginsafi dalam jiwa – sebagai seorang abdi kasih, walaupun bagaimana besarnya pahala dan kebajikanmu, namun saya tetap merasa saya sama sekali tidak memiliki pahala ataupun kebajikan, bahkan sebaliknya saya merasa saya ini adalah pendosa besar-inilah abdi kasih yang sejati!.
Disadur Oleh:RC
March 19th, 2011
Setelah Mengenal Hati Sebelum Terciptanya Langit dan Bumi, maka Terwujudlah Laksa Makhluk Bersatu Hati
Para Duta Dharma, para peserta Kelas Pengembangan Kearifan, harus memperhatikan point terakhir ini! Sebagai langkah awal, diri sendiri harus rajin membaca buku, banyak mendengarkan ceramah, dan kemudian harus menginsafinya dalam setiap saat, setiap menit dan setiap detik, jangan sampai terlewatkan. Anda telah mengikuti Kelas Duta Dharma, kelas Pengembangan Kearifan, pada saat mau tidur janganlah begitu berbaring langsing terlelap, tapi gunakanlah waktu untuk menginsafi semua sutra yang telah anda baca, semua dharma yang telah anda dengar. Pagi hari sebelum anda bangun dari ranjang juga harus menginsafi sang kebenaran, harus banyak belajar. Pagi hari selama 18 jam, apa saja yang anda kerjakan janganlah lupa untuk menginsafi sang kebenaran, mencari sang kebenaran, inilah yang dimaksud ‘laksa makhluk bersatu hati’.
Jadi terlebih dahulu anda harus mengenali Laumu-Sang Tiada Tara, mengenali hati yang telah ada sebelum terciptanya langit, bumi dan semua isinya, barulah anda pantas untuk berbicara mengenai ‘laksa makhluk bersatu hati’, dan pada saat itu dengan sendirinya terwujudlah dunia yang damai dan sentosa.
Tak peduli apakah anda seorang Buddhasiswa, seorang Duta Dharma, atau Peserta Kelas Pengembangan Kearifan, saudara-saudari harus memahami bahwa meskipun semua istilah atau perumpamaan yang Adik berikan berbeda-beda namun pada hakekatnya mereka adalah sama. Semua yang berwujud rupa, apakah langit,bumi,ataupun manusia, semua jenis binatang dan tumbuhan, semuanya adalah sama tiada perbedaan. Bahkan ruang hampa di luar lapisan ke-33 pun adalah sama. ‘Sunya adalah serupa, serupa adalah sunya‘, ‘Kosong adalah wujud , wujud adalah kosong‘, ‘Yang sejati adalah palsu, yang palsu adalah sejati‘, ‘Tiada beda dan diskriminasi’. Disinilah letak keluhuran Tao-keluhuran Jalan Ketuhanan.
Hari ini Adik sungguh merasa gembira dan berbahagia, puji syukur atas kebesaran Rahmat Kasih Tuhan dan Budi Kebajikan Guru! Keberadaan Pusdiklat Rahmat Kasih Tuhan ini bukanlah karena karya dan usaha dari manusia namun semua ini karena keluhuran Firman Tuhan Yang Tiada Tara. Dengan Kuada Firman Tuhan, Jalan Ketuhanan telah diturunkan untuk menyadarkan manusia bahwa semua yang ada di atas bumi ini adalah tiada perbedaan dan diskriminasi, laksa makhluk bersatu hati, laksa bangsa adalah satu keluarga. Kita yang telah mendapatkan Jalan Ketuhanan Sejati dan kini sedang membina diri hendaknya kita memahami terlebih dahulu akan keluhuran dari kuasa Firman Tuhan.
Disadur Oleh: RC
February 21st, 2011
‘Pengetahuan Asali dan Kemampuan Asali’ Itulah Roman Wajahku yang Semula, Insafilah!
Maha Tao tidak berwujud rupa namun mampu melahirkan langit dan bumi’, Maha Tao tidak mempunyai wujud bahkan hawa positif dan negatif saja tak ada, tapi pada saat itu Aku sudah ada, itulah Tao, itulah Sang Kebenaran, juga merupakan Hati Nuraniku. Walaupun namanya tidak sama, tapi pada dasarnya mereka adalah satu. Sebelum adanya langit dan bumi Aku telah ada, dan aku yang sekarang ini berasal dari Aku pada masa itu, dialah yang memiliki ‘pengetahuan asali dan kemampuan asali ‘ itu.
Para Duta Dharma harus memperhatikan! Terlebih dahulu haruslah memahami kebenaran tersebut yaitu pengenalan akan Hati dan Aku yang telah kumiliki sebelum adanya langit, bumi dan semua isinya. Aku ini memiliki ‘pengetahuan asali’, Dia ‘tak perlu belajar tapi sudah tahu‘, Dia disebut juga sebagai ‘Kearifan tanpa guru’, yaitu kearifan dan kebijaksanaan yang lahir tanpa perlu ada seorang guru yang mengajarkannya. Dia tak perlu dipelajari, sama halnya dengan semua kitab dan sutra yang telah ditulis oleh para Buddha Bodhisatva, juga tak perlu dipelajari dari luar diri, tapi semua itu merupakan hasil penginsafan dari dalam jiwa.
Sedangkan ‘kemampuan asali’ dia juga merupakan sesuatu yang ’tidak perlu dipelajari tapi sudah bisa’. Kemampuan ini sama dengan kemampuan menciptakan langit, bumi dan semua isinya, dan inilah wajah asaliku yang sesungguhnya, yang sekarang ada di dalam tubuhku.
Kali ini kita mendapatkan Jalan Ketuhanan yang Sejati, untuk bisa menjalankan pembinaan yang sejati, pelaksanaan yang sejati, maka sebagai langkah awal kita harus banyak-banyak menginsafi dan banyak-banyak belajar.
‘Kearifan Ilahi’ yaitu Keterbangkitan Hati Nurani. Dengan Memperbanyak Sujud Kehadapan Laumu, Setiap Hari, Setiap Menit, Setiap Detik, jangan sampai Melewatkan Saat-Saat untuk Menginsafi KebenaranNya, maka Dharma Hati pasti Terpancarkan Keluar!
Kita juga memiliki Kelas Pengembangan Kearifan, namun saudara-saudari harus memahami bahwasanya ‘Kearifan Ilahi’ bukanlah sesuatu yang kita dengar dari penyampaian orang lain, juga bukan sesuatu yang saya pelajari dari kitab dan sutra dan kemudian saya sampaikan kepada orang lain !
‘Hakekat mutlak akan Ketuhanan yang Sejati, Dialah Sang Kebenaran Nurani yang Ilahi’ ; ‘ Diantara langit dan bumi, Akulah yang paling mulia’ ; kedua kalimat itu pada dasarnya memiliki hakekat yang sama , hanya istilahnya saja yang diganti-ganti.
Hari ini adalah hari penutupan diklat, Adik akan membuka pintu kebijaksanaan saudara : Kebenaran Sejati berasal darimana ? Terpancar dari diriku! Bukan sesuatu yang dicari atau didapat dari luar diri. Kalaulah kita mencari keluar dari diri pasti akan hilang, karena semuanya itu masih berada di dalam enam jalur tumimbal lahir.
Dikatakan bahwa Kebenaran yang Sejati berpancar dari dalam diriku, darimanakah pancaran itu berasal? Dari wajah asaliku sebelum dilahirkan oleh ayah dan ibu, atau dengan kata lain Aku yang asali yang telah ada sebelum terciptanya langit, bumi dan laksa makhluk; Dialah yang memancarkan hawa kebenaran tersebut. Setelah anda mengenali Aku yang asali ini, walaupun anda tidak berniat untuk membabarkan kebenaran namun secara spontan Dia akan terpancarkan keluar. Inilah yang dimaksud sebagai “Dharma Hati” yang merupakan “Kearifan Ilahi” . Lalu mengapa Aku yang asali ini kemudian bisa menjadi penghuni tubuhku yang sekarang? Insafilah, Dia tiada awal dan kemudian, tiada dekat dan jauh, Dia tiada perbedaan dan diskriminasi.
Disadur Oleh : RC
February 7th, 2011
Dengan Nuraninya, Seorang Abdi Kasih Membimbing dan Menyelamatkan Dirinya dan Orang Lain
Sampai pada tahap ini, maka hati anda dipenuhi dengan harapan dan semangat untuk menyelamatkan umat manusia di atas muka bumi ini, arwah-arwah di alam neraka, dewa-dewi di alam hawa, untuk bisa kembali ke Nirwana. Betapapun sulitnya, bahkan harus mati karena kecapaian, karena penderitaan sekalipun, tidak apa-apa! Apa alasannya? Pertama, demi menyelamatkan rohani umat manusia untuk bisa terselamatkan kembali ke Nirwana; kedua, demi bisa mengembalikan wajah semula dari nurani umat manusia. Dan untuk semua itu anda harus menderita kecapaian, mati karena penderitaan, maka siapakah anda? Pada saat itu, hatimu dan hati Laumu telah bertaut menjadi satu. Para Buddhasiswa, insafilah kebenaran ini! Hanya dengan kita bisa tegar dan berjuang, baru bisa menuntun dan menopang umat manusia. Tentu saja bukanlah badan raga kita yang tegar, namun hati sejati kita, haruslah tegar dan membumi.
Aku yang dimaksud dalam kalimat ‘Di antara langit dan bumi, Akulah yang paling mulia’, apabila dapat berdiri dengan tegar berarti juga merupakan kebangkitan dari hati nuraniku. Pada saat saya mampu berteguh dalam kebenaran, pada saat itu saya baru bisa membangun keteguhan itu pada diri orang lain; pada saat saya mampu menginsafi sang kebenaran, barulah mungkin menuntun umat manusia ke jalan yang benar; pada saat saya mampu menyelamatkan rohaniku sendiri, saya baru mampu untuk membimbing manusia menuju jalan keselamatan. Jika anda telah mampu berbuat sampai pada tahap seperti itu, anda barulah merupakan seorang ‘Buddhasiswa’, seorang ‘Abdi Kasih’; karena ‘Aku Sejati maka semuanya menjadi sejati’.
Hari ini juga merupakan hari penutupan Kelas Duta Dharma dan semua Kelas Pengembangan Kearifan yang ada di Taiwan. Para Duta Dharma harus memperhatikan, ‘Makna luhur Jalan Ketuhanan tidak terdapat pada ucapan, bahasa ataupun aksara!’ Mengapa? Kita harus menginsafi dan menelaah hakekat kebenaran yang ada di dalamnya.
Kapankah Tao mulai ada? Sebelum adanya langit dan bumi sudah ada Tao. Sekarang, mari kita telaah selangkah lebih maju, ‘memukul besi tak lepas dari landasannya, menyampaikan kebenaran tidak lepas dari diri sendiri’, lalu sebelum adanya langit dan bumi, adakah Aku ? Ada.
Pada saat itu langit dan bumi saja belum ada, tapi saya sudah ada, oleh karena itu Tao bukanlah sesuatu yang bisa ditafsirkan melalui ucapan, bahasa ataupun aksara! Terlebih dahulu haruslah memahami kebenaran tersebut yaitu pengenalan akan Hati dan Aku yang telah kumiliki sebelum adanya langit, bumi dan semua isinya. Aku ini memiliki ‘pengetahuan asalia‘, Dia ‘tak perlu belajar tapi sudah tahu‘, Dia disebut juga sebagai ‘Kearifan tanpa Guru’, yaitu kearifan dan kebijaksanaan yang lahir tanpa perlu ada seorang guru yang mengajarkannya. Dia tak perlu dipelajari, sama halnya dengan semua kitab dan sutra yang telah ditulis oleh para Buddha Bodhisatva, juga tak perlu dipelajari dari luar diri, tapi semua itu merupakan hasil penginsafan dari dalam jiwa.
Sedangkan ‘kemampuan asali‘ dia juga merupakan sesuatu yang ‘tidak perlu dipelajari tapi sudah bisa‘. Kemampuan ini sama dengan kemampuan menciptakan langit, bumi dan semua isinya, dan inilah wajah asaliku yang sesungguhnya, yang sekarang ada didalam tubuhku.
Kali ini kita mendapatkan Ketuhanan yang Sejati, untuk bisa menjalankan pembinaan yang sejati, pelaksaanan yang sejati, maka sebagai langkah awal kita harus banyak-banyak menginsafi dan banyak-banyak belajar.
Disadur Oleh : RC
January 25th, 2011
Menjadi Seorang Abdi Kasih bagi Laumu dan Hati Nuraniku
Kalau kita telah mengenali hati asali ini, lalu siapakah empunya jasmani ini? ‘Jasmani ini bukanlah ragaku, dunia ini bukanlah kampung halamanku’. Dari kalimat tersebut telah membuktikan kepada kita bahwa badan raga ini bukanlah milik kita! Oleh karenanya, setelah diklat ini berakhir, dan kalian pun telah kembali ke negara masing-masing, ke vihara masing-masing, haruslah menjadi seorang pelaksana, seorang ‘abdi kasih yang sejati’. Kita menjadi abdi kasih bagi siapa? Bagi nuraniku, bagi jiwaku, bagi Laumu Mama, Sang Tiada Tara; untuk menjadi abdi kasih bagi Sang Aku yang telah ada sebelum terciptanya langit, bumi dan laksa makhluk. Inilah yang dimaksudkan dengan, ‘Badan jasmani bukanlah ragaku’. Sekiranya badan jasmani ini sudah bukan ragaku lagi, lalu uang dan harta adalah milik siapa? Bangunan rumah adalah milik siapa? Anak cucu adalah milik siapa? Semuanya adalah milik Laumu! Tidak ada hubungannya dengan saya. Demikian juga dunia fana ini sama sekali bukanlah kampung halamanku. Inilah yang disebut ‘hidup di dunia namun tidak tercekat oleh fenomena dunia’, atau ‘Aku ada namun tiada’! Selama empat bulan kita mengikuti diklat Buddhasiswa dan senantiasa berteguh pada prinsip tersebut untuk bisa mengenali hati ini, maka tercapailah kondisi ‘Aku sejati maka semuanya menjadi sejati’.
Disadur Oleh : RC
January 16th, 2011
Insafilah bahwasanya ‘Segala Dharma Ada Lahir Dan Musnah, namun Kebenaran Hati Tiada Lahir juga Tiada Musnah.
Sekiranya kita memiliki hati nurani yang sama, lalu mengapa ada yang mencapai tingkat kesucian Buddha dan ada pula yang jatuh terjerumus ke dalam enam jalur tumimbal lahir? Semuanya ini sangat tergantung, adakah kamu mengenali hati sejatimu, apakah kamu telah mengenali hati nuranimu. Hati sejati dan hati nurani ini adalah juga merupakan hati para Buddha Bodhisatva, hati Laumu Mama-Bunda Tiada Tara. Kita harus menginsafi hati ini, harus memahami bahwa ‘Laksa dharma tercipta dari hati , namun laksa dharma musnah juga karena hati’, dan hal yang terpenting yang harus kita kenali adalah ‘segala dharma ada lahir dan musnah, namun kebenaran hati tiada lahir juga tiada musnah’.
Sebenarnya hati yang dimaksudkan itu adalah hati yang mana? Yaitu hati Laumu Mama, Sang Tiada Tara yang juga merupakan wajah asaliku, Aku yang telah ada sebelum terciptanya langit, bumi dan semua isinya. Setelah kita memahami hati ini, untuk selanjutnya kita harus berjuang dengan sepenuh jiwa untuk menyelamatkan manusia, dan setelah engkau mampu menjadi buddha dan orang suci maka anda barulah merupakan seorang ‘foyen yang sejati’. Andaikan hanya mengandalkan aksara, bahasa, lalu seseorang sudah bisa mencapai tingkat kebuddhaan, maka wahai… para peserta Kelas Duta Dharma, para peserta Kelas Pengembangan Kearifan, mari kita bersama-sama mengangkat tangan kemudian tepuklah dada kalian, dan katakana: “Saya adalah Buddha, Saya adalah Orang Suci, Saya adalah Bodhisatva!” Lalu apakah saudara betul seperti begitu? Tidak. Tapi tadi waktu berteriak kalian kan bilang bahwa kalian adalah Buddha, mengapa sekarang bilang bukan lagi? Kita harus memahami bahwa aksara dan bahasa bisa berubah-ubah, namun kebenaran sejati tak akan pernah berubah, hakekat mutlak lebih-lebih tiada perubahan. Hatiku, hati langit, hati enam miliar manusia di muka bumi ini, hati Laumu Mama; hati-hati ini pada hakekatnya tak pernah berubah, insafilah dan kenalilah hati ini.
Disadur Oleh : RC
December 30th, 2010
Keluhuran Jalan Ketuhanan Terletak pada Transmisi Kebenaran Hati Nurani dan Kesejatiaan Hati Nurani
Empat bulan masa penggemblengan para Buddhasiswa telah dilewati dan kini tiba saat penutupan diklat tersebut. Semua yang telah didengar, dilihat dan yang telah dipelajari selama empat bulan tersebut kiranya para Buddhasiswa mampu menginsafinya dengan sepenuh hati. Selama diklat selalu disampaikan kepada kalian bahwasanya: walaupun telinga saya bisa mendengar, namun semua yang telah didengarkan oleh telinga menjadi tak ada gunanya; saya sudah memahaminya bahkan telah mampu menyampaikannya, namun segala yang saya katakan tidaklah berarti; saya telah membaca laksa kitab dan sutra, semua aksara yang tertulis di atas sutra tidak lebih berguna! Karena semua itu bisa berubah, dia tidak kekal abadi.
Keluhuran Jalan Ketuhanan terletak pada kuasa Firman Tuhan dari Sang Tiada Tara, yang telah menurunkan Jalan Ketuhanan dan mentransmisikan hati nurani kepada kita; atas titah dari Tuhan, Buddha Maitreya diutus sebagai Buddha penyelamat akhir zaman, dan laksa Buddha Bodhisatva pun turut serta dalam misi tersebut; Bapak Guru Agung dan Ibu Guru Suci mengemban Firman Tuhan; Mereka tidak lagi membabarkan laksa kitab dan sutra, namun langsung mentransmisikan inisiasi sejati, yaitu berupa ‘Hakekat mutlak akan Ketuhanan Sejati, Dialah Sang Kebenaran Nurani yang Ilahi’. Ketuhanan Sejati bukanlah sesuatu yang mampu diungkapkan dengan kata-kata, juga bukan sesuatu yang mampu dijelaskan oleh laksa kitab dan sutra, karena yang ditransmisikan adalah berupa ‘Kebenaran Hati Nurani, Kesejatiaan Hati Nurani’. Hati nuraniku dan hati nurani enam milyar manusia yang ada siatas muka bumi ini adalah sama tiada perbedaan. Jasmani bisa berbeda, bahasa bisa berbeda, tulisan bisa berbeda, namun hati nurani tiada perbedaan. Bukan hanya nurani enam milyar manusia di dunia ini saja yang sama tetapi nurani para Buddha, Bodhisatva, dan para suci pun sama.
Disadur Oleh : RC
December 3rd, 2010
Menciptakan Atmosfir Yang Baru
Maha Tao Maitreya akan tersebar ke seluruh dunia apabila kita semua, siswa-siswi Maitreya memiliki motivasi yang satu untuk terus berjalan di jalan ini. Hanya ada satu motivasi untuk membina dan mengamalkan Ketuhanan. Hanya ada satu motivasi untuk beramal kebajikan, menunaikan ikrar, membabarkan kebenaran, menyelamatkan umat manusia, merintis vihara, dan melakukan triamal. Hanya ada satu motivasi dan tidak ada motivasi lainnya. Karena motivasi lain tidaklah bermakna! Satu motivasi tersebut adalah berjuang dalam misi Buddha Maitreya untuk mewujudkan dunia satu keluarga! Hanya motivasi ini yang membuat kita membina dan melaksanakan Ketuhanan. Jika bukan atas dasar motivasi yang satu ini, maka di dalam membina dan melaksanakan Ketuhanan kita takkan mampu menjiwai hati Maitreya. Selamanya hanya sekedar menjadi seorang pembina yang individualis.
Dewasa ini wadah Ketuhanan tengah menghadapi dua tantangan besar. Tantangan pertama yaitu semakin menuanya wadah Ketuhanan dan sedikitnya generasi muda sebagai penerus. Proses kaderisasi juga berjalan lambat. Untuk mengatasi tantangan ini, kita harus segera melakukan proses kaderisasi yang baik agar generasi muda bisa hadir di dalam wadah Ketuhanan, sehingga mereka bisa segera meneruskan misi agung ini. Ini adalah tugas yang sangat mendesak. Bagaimana agar generasi muda masuk ke dalam wadah Ketuhanan? Bagaimana caranya agar generasi muda bisa membina dan mengamalkan Ketuhanan? Bagaimana caranya agar generasi muda bisa meneruskan tongkat estafet ini? Inilah sebab mengapa kita harus segera dengan sekuat tenaga mengembangkan Budaya Kasih Semesta.
Demi membangun Budaya Kasih Semesta, lahirlah tembang suci kasih semesta, kegiatan tarian kasih semesta, dan gerakan senam kasih semesta. Program ini bertujuan membuat setiap anggota keluarga bangkit dan bergerak bersama. Ayah dan ibu bergabung dalam kelompok usia dewasa, putera-puterinya mengikuti kelompok muda-mudi, sedangkan untuk anak-anak yang lebih kecil masuk ke dalam kelompok anak-anak. Seluruh anggota keluarga aktif dan berbahagia bersama. Bila anak-anak sejak usia dini sudah terdidik, maka kelak setelah dewasa mereka akan semakin dekat dengan wadah Ketuhanan dan terpanggil untuk berjuang di dalamnya.
Pada tahun 2001 kita mulai memperkenalkan tembang suci kasih semesta. Tahun 2002 dimulai kegiatan tarian kasih semesta. Dan di tahun 2004 dimulai gerakan senam kasih semesta. Semua kegiatan ini muncul untuk menyegarkan suasana wadah Ketuhanan yang semakin menua. Inilah yang menjadi tugas para Pandita dan Dharmaduta. Berusahalah membina lebih banyak generasi muda untuk memasuki wadah Ketuhanan guna meneruskan tongkat estafet. Inilah tugas kita yang amat penting!
Tugas Maha Tao Maitreya adalah mewujudkan dunia satu keluarga. Namun kita sadari bahwa selalu saja terjadi pertentangan antaragama. Sejarah sudah membuktikan bahwa banyak peperangan disebabkan oleh perbedaaan agama, bahkan menjadi dendam turun-temurun yang tidak pernah terselesaikan. Sungguh hal yang memilukan jika agama dan keyakinan menjadi sumber konflik dan dendam antarsesama umat manusia! Agama cenderung berpandangan ajarannyalah yang tertinggi dan menjadi kebenaran sejati, serta memuliakan Orang Sucinya. Lalu bagaimana kita melakukan penyelamatan umat manusia dan dunia yang menjadi misi agung Maitreya? Tugas suci inilah yang harus selalu kita muliakan.
Disadur Oleh : RC


