August 18th, 2010
Budaya, Peradaban dan Moralitas Baru Part-2
Inilah semangat yang harus dikembangkan oleh seorang Sesepuh, Pandita, Pandita Muda, Pelaksana, Dharmaduta, dan seluruh umat. Dengan memiliki semangat dunia satu keluarga ini, kita akan menjadi manusia abad-21 yang paling bermartabat dan berkualitas. Kita baru dapat membantu misi Buddha Maitreya dan berpartisipasi pada babak penyatusempurnaan terakhir kelak. Jika tidak demikian, kita akan tereliminasi oleh zaman!
Berkat kemajuan transportasi dan teknologi informasi, serta jangkauan internet yang menakjubkan, dimensi waktu dan ruang di bumi menjadi semakin kecil. Dengan satu telepon genggam, kita bisa terhubung ke seluruh pelosok dunia. Sebelum abad-21, konsep ‘dunia bagai satu desa’ telah menjadi tren di masyarakat. Saat itu telah ramai dibicarakan bahwa dimensi ruang semakin kecil dan waktu semakin singkat. Kini memasuki abad-21 yang semakin maju, konsep ‘dunia satu desa’ secara alami tak terbendung, berubah menjadi ‘dunia satu keluarga’.
Sayangnya, walau dimensi ruang dan waktu semakin mengecil, dunia satu keluarga belum juga terwujud. Dunia ini masih terpecah belah! Apa penyebabnya? Penyebabnya adalah masih eksisnya dinding-dinding pemisah yang menjulang tinggi di antara umat manusia, sehingga menghalangi umat manusia untuk hidup harmonis dan saling mengasihi.
Egoisme, prasangka, dan ketidaktahuan umat manusia, membuat dunia satu keluarga menjadi sulit dicapai. Begitu banyak dinding pemisah yang kasat mata. Beda kewarganegaraan menjadi dinding pemisah. Beda agama juga menjadi dinding pemisah yang tinggi. Beda ras, warna kulit, dan bangsa adalah suatu dinding pemisah. Beda budaya dan ideologi juga menjadi dinding pemisah. Adat istiadat dan kebiasaan juga adalah dinding pemisah. Beda aksara dan bahasa juga dinding pemisah. Kaya, miskin, mulia, dan hina juga menjadi dinding pemisah. Pandai, bodoh, cantik, dan buruk rupa juga suatu dinding pemisah. Dan yang lebih trendi lagi, perbedaan partai juga membangun dinding pemisah. Terlalu banyak dinding pemisah!
Dinding-dinding pemisah ini menghalangi rasa persaudaraan umat manusia dan membuat jarak sesama semakin jauh. Sekalipun dimensi waktu dan ruang sudah menyempit, namun jarak antarsesama manusia justru semakin melebar. Terdapat terlalu banyak pertentangan. Terlalu banyak sikap dingin, saling menjauhi, saling berselisih dan bermusuhan. Akhirnya timbul pertikaian, percekcokan, saling menganiaya, dan saling mencelakai. Semakin hari semakin parah. Dan hingga detik ini belum ada tanda-tanda penyelesaiannya. Inilah sisi gelap dari kehidupan umat manusia, sisi yang paling menyedihkan dan memprihatinkan!
Sebagai siswa-siswi Maitreya, kita semua mendapat Titah dari Tuhan dan Buddha Maitreya untuk mewujudkan suara hati Tuhan dan jiwa Buddha Maitreya, yaitu mewujudkan dunia satu keluarga sesegera mungkin. Inilah tujuan hidup yang harus diwujudkan oleh kita semua. Inilah proyek pekerjaan yang paling akbar dalam hidup kita. Inilah intisari dari pembinaan dan pengamalan dalam Maha Tao Maitreya. Terpisah dari intisari ini, semuanya menjadi pembinaan yang sia-sia dan tiada guna. Tugas dan misi siswa-siswi Maitreya adalah melenyapkan dinding-dinding pemisah yang tak terhitung jumlahnya. Apalagi sebagai Pandita dan Dharmaduta, kita harus terus membabarkan kebenaran untuk meruntuhkan dinding-dinding pemisah tersebut!
Puji syukur atas Rahmat Tuhan, Kasih Buddha Maitreya, dan Kebajikan Dwiguru Agung Nurani. Buddha Maitreya telah mengarahkan kita kepada konsep ‘dunia satu keluarga’ untuk meruntuhkan berbagai jenis dinding pemisah. Namun selain memiliki konsep, kita juga membutuhkan tenaga-tenaga manusia untuk menerapkannya, sehingga dinding-dinding pemisah tersebut baru dapat diruntuhkan satu-persatu.
Makna luhur Tembang Pujian Semesta adalah intisari dari budaya kasih semesta. Untuk meruntuhkan dinding-dinding pemisah, hanya dapat dilakukan dengan mengembangluaskan budaya kasih semesta, agar kasih semesta menjadi nilai, kebudayaan, peradaban, dan kebiasaan bersama seluruh umat manusia, menjadi nilai, budaya, dan peradaban baru abad-21. Kasih semesta berarti mengasihi langit-bumi, semua manusia, seluruh makhluk dan segala kehidupan. Jika setiap insan telah melaksanakannya, maka dengan sendirinya dinding-dinding pemisah tersebut akan runtuh dan hilang tak berbekas.
Disadur oleh: LiangYiin
August 5th, 2010
Budaya, Peradaban dan Moralitas Baru Part-1
Budaya, peradaban, dan moralitas baru umat manusia dipelopori oleh siswa-siswi Maitreya. Abad-21 yang adalah abad Maitreya, sekaligus juga merupakan abad kebangkitan kecemerlangan hati nurani umat manusia. Jika abad Maitreya sudah benar-benar terwujud, maka seluruh negara akan maju, tidak hanya negara Barat saja! Kita menganggap segala satwa sebagai saudara, karena itu kita bervegetarian. Di negara Barat juga terdapat sejumlah orang yang menjunjung kemuliaan kehidupan.
Di Eropa, populasi vegetarian yang terbanyak terdapat di Jerman, di mana beberapa juta orang yang telah bervegetarian. Motif mereka bervegetarian adalah menjunjung kemuliaan kehidupan. Populasi vegetarian terbesar kedua adalah di Inggris. Juga beberapa juta jiwa. Menurut perkiraan pakar, pada tahun 2043, seluruh populasi di Inggris akan bervegetarian. Penyebabnya bukanlah faktor agama, melainkan karena menjunjung dan menghargai kemuliaan kehidupan. Sekalipun mereka belum mendapatkan Dhiksa Maitreya ¤, tetapi mereka begitu menghargai kehidupan sehingga pantang mengonsumsi daging dan ikan. Ini adalah bagian dari kebangkitan kesadaran nurani dan kebijaksanaan umat manusia.
Hewan juga mempunyai hak asasinya. Kita tidak boleh merampas hak hidup mereka. Jangan lagi kita mengorbankan hidup mereka, semata demi mengenyangkan perut kita. Karena pada dasarnya kita tidak berhak! Mari kita bertanya ke dalam nurani, atas dasar apa kita sebagai manusia boleh memakan mereka? Sebaliknya bagaimana tanggapan kita jika hewan menjadikan manusia sebagai makanan mereka?
Sekuntum bunga, sehelai rumput, dan sebatang pohon adalah bagian dari anggota keluarga alam semesta. Menghargai kehidupan tidak hanya menganggap segala satwa sebagai saudara, bahkan bunga, rumput, dan pepohonan juga merupakan anggota keluarga kita di rumah alam semesta ini. Kita melihat langit dan bumi sebagai ayah dan bunda. Enam miliar manusia di seluruh dunia adalah saudara. Segala satwa juga saudara, dan segala tumbuhan adalah anggota keluarga kita. Kita menjunjung kemuliaan setiap kehidupan. Gambaran ini telah melukiskan bagaimana kondisi dunia satu keluarga yang sebenarnya. Inilah jiwa Buddha Maitreya, inilah suara hati dan seruan Tuhan – Sang Bunda Ilahi.
Apa yang dimaksud dengan dunia satu keluarga juga tertuang dalam tembang Pujian Kedamaian Dunia sebagai berikut:
Kamu dan aku satu keluarga, bumi satu keluarga
Semua manusia satu keluarga, dunia satu keluarga
Kewarganegaraan berbeda-beda, namun tetap satu keluarga
Beragam agama dan keyakinan, juga adalah satu keluarga
Beraneka ragam suku bangsa, tetap satu keluarga
Berbeda warna kulit dan ras, tetapi juga satu keluarga
Beraneka ragam kebangsaan, semua satu keluarga
Berbeda budaya namun tetap satu keluarga
Berbeda adat istiadat juga satu keluarga
Berbeda kebiasaan, juga satu keluarga
Berbeda bahasa, juga satu keluarga
Berbeda aksara, juga satu keluarga
Seluruh umat manusia satu keluarga
Semua makhluk hidup satu keluarga
Disadur oleh: LiangYiin
July 23rd, 2010
Arus Dunia “Budaya Kasih Semesta” Part-2
Melalui budaya kasih semesta, dengan memancarkan pesona keindahan kodrati manusia, kita wujudkan dunia satu keluarga! Sabda Hao Che Ta Ti telah terbukti! Kita bukanlah manusia super yang memiliki kekuasaan atau ilmu gaib yang luar biasa. Kita juga tidak memiliki uraian dharma yang tinggi dan gaib. Kita hanya berpegang teguh pada hati Tuhan – Bunda Semesta, berpegang teguh pada hati Buddha Maitreya, dan kebajikan Dwiguru Agung Nurani. Kita ingin mewujudkan dunia satu keluarga agar dunia surgawi, negeri buddhata, kerajaan Tuhan, bumi suci sukavati dapat terwujud di bumi ini. Kita hanya berteguh pada semangat ini. Jika kita bisa menghayati dan merealisasikannya sepenuh hati, maka yakinlah bahwa dunia ini akan mengikuti derap langkah kita!
Saudara kita bukan hanya 6 miliar umat manusia, bahkan unggas yang beterbangan di angkasa raya, hewan-hewan yang berlarian atau merayap di bumi, dan makhluk yang berenang di lautan luas, juga merupakan anggota keluarga kita. Yang dimaksud sebagai kehidupan, bukanlah sebatas pada kehidupan manusia saja. Kita masih mempunyai banyak sanak saudara. Tanpa sanak saudara ini, dunia pun akan kehilangan kegemilangan dan fungsinya! Jika di dunia ini tidak ada unggas yang beterbangan, hewan yang berlarian, dan satwa-satwa air, dunia tidak lagi semarak penuh warna. Alam semesta kehilangan nilai keindahannya! Mengapa keindahan alam semesta begitu melimpah? Karena selain manusia dan benda-benda yang pasif seperti gunung dan sungai, kita masih mempunyai saudara-saudari, yaitu aneka satwa. Mereka juga makhluk Tuhan. Mereka adalah bagian dari anggota keluarga kita yang tak terpisahkan.
Konsep yang kita miliki melampaui konsep negara-negara Eropa dan Amerika yang sangat mengutamakan perlindungan alam, namun kurang menekankan kasih kepada manusia. Yang mereka utamakan adalah mencintai tumbuhan dan satwa langka, melindungi bumi agar tidak tercemar. Tanah tidak tercemar, air tidak tercemar, udara tidak tercemar, dan makanan tidak tercemar. Inilah konsep kasih alam yang mereka maksud. Sedangkan kasih alam yang kita maksud mencakup semangat mengasihi manusia dan menjunjung segala bentuk kehidupan. Mereka akan takjub dengan konsep yang luar biasa ini. Inilah budaya dan peradaban baru dari belahan Timur dunia, yang akan memperbaharui apa yang dikembangkan di Barat selama ini.
Sebelumnya Maha Sesepuh Yen pernah berpesan untuk membentuk satu tim tari kasih semesta dari Negara Kanada dan Amerika Serikat untuk mengikuti Festival Seni Tari Kasih Semesta Internasional. Saya pun sering menghubungi para Pandita dan asisten pengajar di sana agar segera membentuk tim tersebut. Awalnya ada beberapa orang yang datang namun selalu berhenti di tengah jalan. Jawaban dari Pandita di sana, “Sesepuh, orang-orang di sini kurang bisa menerima konsep mengasihi alam semesta dengan nyanyian dan tarian. Yang mereka tahu selama ini mengasihi alam adalah dengan menanam bunga, rumput, pohon, ataupun memungut sampah. Demikianlah cara mengasihi alam bagi mereka. Jika kita mengatakan mengasihi alam semesta harus dimulai dengan mengasihi semua manusia dan segala kehidupan, maka tanggapan mereka adalah hal itu tidak pernah diajarkan di sekolah dan sulit untuk dipahami!”
Kita menjadikan segala satwa sebagai saudara, namun bagi mereka hal itu tidak masuk akal. Mereka hanya mengutamakan satwa yang dilindungi saja. Sesungguhnya dengan menganggap segala satwa adalah saudara, inilah jiwa kasih Buddha Maitreya dan kasih Bunda Semesta yang universal dan tak berbatas. Mari kita bertanya ke dalam nurani. Apakah hanya kehidupan harimau, singa, dan satwa-satwa langkah saja yang perlu dilindungi dan dihargai? Sedangkan nyawa dari hewan seperti babi, ayam, itik, kambing, dan kerbau tidak bernilai, sehingga pantas untuk disembelih dan disantap? Sikap seperti ini pada dasarnya tidak menjunjung kemuliaan kehidupan secara universal. Nyawa seekor babi ataupun nyawa seekor harimau, dan nyawa seekor kerbau atapun nyawa seekor singa, adalah sama nilainya! Bila demikian, mengapa hanya satwa seperti harimau, singa, dan lainnya harus dilindungi, sementara kerbau, babi, ayam, itik, dan kambing boleh dibunuh untuk dinikmati? Hal ini juga merupakan bentuk diskriminasi, penindasan, dan penyiksaan terhadap kemuliaan kehidupan yang universal.
Disadur oleh: LiangYiin
July 15th, 2010
Arus Dunia “Budaya Kasih Semesta” Part-1
Ingin menjadi seorang Dharmaduta atau kader Maitreya yang handal? Jiwailah dengan mendalam semangat “dunia satu keluarga”. Dengan demikian kita baru memenuhi syarat menjadi Dharmaduta dan baru layak menyelamatkan dunia. Kita baru benar-benar menyebarluaskan Rahmat Tuhan dan Kebajikan Kasih Buddha Maitreya! Jika tidak demikian, kita hanya membina dengan sia-sia dan menyesatkan umat manusia. Setiap zaman memiliki kondisi dan situasi yang unik. Mari perbaharui pola pandang kita! Mari segarkan pola pikir kita!
Dengan konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, masih adakah segala perbedaan, perselisihan, pertentangan, dan diskriminasi antarkelompok? Masih adakah perseteruan benar-salah, dendam dan benci di antara kita? Bila masih ada, bukankah kita akan merasa sangat malu! Karena segala perbuatan kita tersebut hanya akan menjatuhkan Buddha Maitreya, dan pasti akan mendatangkan kesedihan bagi Tuhan! Kita semua adalah putra-putri-Nya. Jika masih saling berselisih, bertentangan, berdiskirimasi, dan saling menaruh dendam, betapa hancurnya hati Bunda Semesta. Jika telah mengecewakan Tuhan, tentunya para Buddha dan Bodhisatva juga tidak akan mengampuni kita. Perbuatan yang membuat hati Tuhan sedih tentu berakibat fatal! Para Buddha dan Bodhisatva tidak akan membantu, dan sebaliknya akan memberikan hukuman!
Lalu, bagaimanakah jika kita ingin membahagiakan hati Tuhan? Teladani Buddha Maitreya. Buddha Maitreya adalah anak Tuhan yang sangat berbakti. Beliau senantiasa membahagiakan Bunda Ilahi. Ikrar agung untuk mewujudkan dunia satu keluarga, enam miliar umat manusia menjadi satu keluarga, inilah Dharma Hati yang tiada tara, yang juga merupakan suara hati Tuhan dan seruan-Nya kepada kita semua! Mari kita ikut melangkah bersama dengan-Nya.
Sebagai satu keluarga, adakah yang perlu dibeda-bedakan? Jika masih ada diskriminasi kewarganegaran, kebangsaan, agama, keyakinan, ras, warna kulit, budaya, adat istiadat, bahasa, bahkan kaya-miskin, pintar-bodoh, cantik-jelek, bukankah kita sudah bertindak dungu dan kekanakan! Hal ini jelas membelakangi hati Tuhan, hati Buddha Maitreya, dan kebajikan Dwiguru Agung Nurani! Dwiguru Agung Nurani turun ke dunia dan mentransmisikan Dhiksa Maitreya adalah untuk membuka pintu hati nurani, pintu ilahi, gerbang buddhata. Dwiguru Agung Nurani turun ke dunia dan membuka pintu nurani kita ¤ adalah sebagai langkah awal untuk mewujudkan dunia satu keluarga.
Oleh karena itu, yang selaras dengan kehendak Tuhan akan berkembang jaya, dan yang berlawanan akan sirna. Yang selaras dengan hati Tuhan dan Buddha Maitreya akan berkembang jaya dan hidup sejahtera. Yang bertentangan dengan hati Tuhan, Buddha Maitreya, dan Dwiguru Agung Nurani, bertolak belakang dengan konsep ‘dunia satu keluarga’, akhirnya akan sirna. Hao Che Ta Ti pernah bersabda, “Membina Ketuhanan sesungguhnya mudah, yang sulit adalah mengatasi masalah antarmanusia!” Namun di abad-21, masalah-masalah antarmanusia ini akan sirna. Karena sekarang adalah abad dunia satu keluarga, era Buddha Maitreya. Masih adakah masalah antarmanusia dalam satu keluarga yang tidak dapat diatasi? Bila masih ingin bertentangan dengan kehendak Tuhan dan melawan hati Dwiguru Agung Nurani, hati Buddha Maitreya, maka Tuhan tidak akan memaafkan! Di abad dunia satu keluarga ini, barang siapa yang tidak mau menyesuaikan diri, kelak akan tersisihkan. Sangat sederhana!
Kita semua hendaknya merasa sangat beruntung dan bahagia, karena dapat berjalan di barisan terdepan dunia! Kita sedang mulai mengembangkan Budaya Kasih Semesta, untuk mewujudkan dunia satu keluarga – taman sukacita semesta yang terindah. Sekalipun kita baru mulai melangkah, namun patrilah dalam hati secara mendalam dan kembangkanlah secara meluas. Ini adalah kesempatan terbaik untuk beramal kebajikan dan menunaikan ikrar.
Hao Che Ta Ti pernah bersabda bahwa kita tidak boleh terbawa arus masyarakat, namun masyarakatlah yang harus mengikuti derap langkah kita! Dulu saya sendiri kurang memahami, berdasarkan apa kita bisa membuat masyarakat mengikuti kita dan kita tidak mengikuti masyarakat? Sekarang barulah saya pahami dan kini saya telah berkeyakinan penuh. Maha Sesepuh Yen juga sangat berkeyakinan, bahwa kita harus membuat dunia mengikuti langkah kita, yaitu berdasarkan pada semangat “dunia satu keluarga”.
Disadur oleh: LiangYiin
June 30th, 2010
Konsep “Dunia Satu Keluarga” Part-2
Pendahulu kita mengatakan, ‘satu orang satu zaman’. Memasuki abad-21, tibalah abad Maitreya. Jika kita tidak segera berpadu ke dalam konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, maka dengan sendirinya kita tidak memenuhi persyaratan untuk berpartisipasi di dalamnya. Patriat Cin Kung hidup pada satu zaman. Bapak Guru Agung dengan zamannya dan Ibu Guru Suci juga dengan zamannya. Yang Suci Maha Sesepuh Kaosan juga berada dalam satu zaman. Setiap zaman mempunyai sebab jodohnya masing-masing. Kini kita telah memasuki era Buddha Maitreya. Bagaimana agar kita bisa berpartisipasi di zaman ini? Apa syaratnya? Sangat sederhana! Asal kita memiliki konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, kita sudah memenuhi syarat untuk berpartisipasi. Bisa berpartisipasi di zaman ini adalah hal yang teragung, termulia, tersukses, dan terbahagia!
Membina di abad-21, haruslah berlandaskan pada pokok iman utama yaitu ‘dunia satu keluarga’. Tanpa berlandaskan pada pokok iman utama ini, pembinaan diri kita menjadi tak berarah, sehingga sebesar apapun dedikasi kita, sekeras apapun perjuangan kita, semuanya takkan mendatangkan manfaat yang berarti. Tanpa memiliki konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, pada akhirnya kita hanya akan terjatuh ke dalam egoisme, menganggap “Ini adalah viharaku, umatku, wilayahku, kelompokku, dan karyaku”. Perbuatan seperti ini tentunya tidak lagi selaras dengan kehendak dan hati Tuhan, hati Buddha Maitreya dan hati Dwiguru Agung Nurani. Sehingga sebesar apapun karya dan vihara kita, semua jadi tidak bernilai! Pada akhirnya diri sendiri pun tersisihkan.
Sesungguhnya Bunda Ilahi, Buddha Maitreya, dan Dwiguru Agung Nurani tidak pernah menilai besar-kecilnya vihara dan banyak-sedikitnya jumlah umat. Yang dinilai adalah hati kita, apakah selaras dengan hati Dwiguru Agung Nurani, hati Buddha Maitreya, dan Hati Tuhan – Bunda Ilahi kita.
Dengan membabarkan konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, tidak akan ada seorang pun yang menentang. Pada pertemuan dengan sekitar 50 tamu delegasi Tiongkok di Jakarta tersebut, saya juga menyampaikan kembali bahwa tokoh-tokoh besar dalam sejarah Tiongkok terdahulu telah mengajarkan tentang dunia damai sentosa dan menjelaskan tugas-tugas kita sebagai penerus mereka, yaitu mewujudkan dunia satu keluarga. Mendengar penyampaian ini, sekalipun mereka bukan umat Maitreya, tetapi mereka sangat terharu dan tersentuh hatinya. Semoga kita semua bisa mengukirnya di dalam jiwa!
Disadur Oleh: Liang Yiin
June 9th, 2010
Konsep “Dunia Satu Keluarga” Part-1
Sepanjang sejarah manusia hingga sekarang, dunia terus terpecah belah dan semakin porak-poranda. Enam miliar insan manusia seluruhnya adalah putra-putri Tuhan. Namun kini sesama manusia saling menjaga jarak, saling menjauhi, dan berdiskriminasi satu sama lain. Selalu berselisih dan bertikai, hingga akhirnya saling mencelakai. Betapa tragisnya! Pada hakekatnya dunia adalah satu keluarga. Namun dengan terbentuknya lebih dari 200 negara, justru manusia jadi tersekat satu sama lain. Warna kulit, kebangsaan, agama, keyakinan, budaya, hingga adat istiadat juga menjadi dinding pemisah antarmanusia. Terlebih lagi, antara yang kaya dan yang miskin, yang mulia dan yang hina, yang pintar dan yang bodoh, yang jelita dan yang buruk rupa juga saling berseberangan. Beda partai juga saling menjauhi. Beda ideologi politik juga saling bermusuhan. Pertentangan-pertentangan ini adalah tragedi bagi umat manusia! Mungkinkah Tuhan tidak bersedih hati melihat semua tragedi yang menimpa seluruh putra-putrinya terkasih?
Tujuan hadirnya Maha Tao Maitreya di dunia ini adalah untuk mewujudkan dunia satu keluarga. Inilah misi utamanya! Seorang pembina yang tidak memahami misi, tentu pembinaannya akan menjadi sia-sia! Maha Tao Maitreya merupakan sebuah anugerah yang diturunkan Tuhan. Hadirnya Maha Tao Maitreya adalah hadirnya abad Maitreya, abad dunia satu keluarga! Karenanya, sebelum abad-21, apapun teori dharma yang disampaikan tidaklah menjadi persoalan. Namun kini setiap pembina yang berada di abad-21 harus segera memperbaharui pola pandang, pola pikir, dan pola tindakannya. Menata kembali nilai, tujuan hidup, dan konsep pikiran kita. Memperbaharui menjadi seperti apa? Yaitu menjadi konsep dunia satu keluarga! Abad-21 adalah abadnya dunia satu keluarga. Kalau kita tidak memiliki jiwa dan konsep dunia satu keluarga, kita akan tersisih oleh zaman.
Ikrar Agung Buddha Maitreya adalah mewujudkan dunia satu keluarga, semua bangsa dan negara menjadi satu keluarga, semua agama juga menjadi satu keluarga. Semua adalah satu keluarga. Di abad-21 ini, baik Sesepuh, Pimpinan, Pandita, ataupun para umat harus memiliki konsep dan jiwa ‘dunia satu keluarga’. Hanya dengan demikian, barulah kita dapat mengemban misi agung Buddha Maitreya.
Pada tanggal 14 Agustus 2007, dalam rangka penyelenggaraan Festival Seni Tari Kasih Semesta Internasional ke-4, saya diundang untuk menjadi pembicara di sebuah diskusi panel yang diadakan oleh delegasi China di Jakarta. Saat membahas konsep dunia satu keluarga, beberapa di antara tamu tersebut mulai meneteskan air mata haru. Walau belum mendapatkan Dhiksa Maitreya, tetapi begitu mendengar konsep dunia satu keluarga ini, mereka sangat tergugah. Bagaimana dengan kita yang menjadi Pandita, Dharmaduta, dan umat Maitreya? Jika kita memiliki konsep dunia satu keluarga, niscaya kita akan memiliki kebesaran jiwa yang luar biasa serta wawasan yang luas. Kita tidak akan lagi terhalang dan terhambat oleh hal-hal kecil. Visi kita menjadi jauh ke depan. Jiwa kita dapat merangkul siapa saja. Dengan demikian kita baru dapat mengemban misi akbar Buddha Maitreya ini. Jika kita tidak memiliki semangat ‘dunia satu keluarga’, kita tidak akan dapat melaksanakan misi agung ini!
Disadur oleh: Liang Yiin
May 24th, 2010
Bersama Mencapai Tujuan Utama Part-2
Buddha Maitreya telah jauh hari menyadari kondisi masyarakat di akhir zaman seperti ini. Karena itulah Beliau disebut-sebut sebagai Buddha Yang Akan Datang. Beliau tidak mengajak kita meninggalkan dunia tempat kita tinggal. Ikrar Agung-Nya adalah mewujudkan negeri Buddhata, bumi suci, surga, nirwana, dan kerajaan Tuhan di bumi, di dunia ini. Tidak perlu pergi ke mana-mana, kita sudah berada di nirwana, sudah berada di bumi suci! Inilah ajaran yang lebih relevan di hati manusia moderen di zaman ini. Dalam Gatra Dhiksa disebutkan, “Nirwana jauh namun tergapai seketika, hidup abadi sepanjang masa!” Walau Nirwana sangatlah jauh, namun dapat dicapai seketika tanpa perlu melangkah. [...]
May 15th, 2010
Bersama Mencapai Tujuan Utama Part-1
Selama ini wadah Ketuhanan belum menekankan tujuan, sasaran, pedoman, dan prinsip utama yang jelas, yang berfungsi sebagai kompas pembinaan. Karena itu muncullah beragam pandangan dan pendapat yang berbeda. Ini merupakan sebuah pola pembinaan yang tak terarah. Untuk menyatukan wadah Ketuhanan, terlebih dahulu kita harus memiliki pandangan, pola pikir, dan tindakan yang seragam.
Tembang Pujian Semesta merupakan sarana yang sangat tepat untuk menyatukan pandangan dan pola pikir kita. Tembang Pujian Semesta sekaligus menjadi intisari di dalam membabarkan kebenaran, membina, dan mengamalkan Maha Tao Maitreya. Patrilah senantiasa di dalam sanubari kita. [...]
January 19th, 2010
Tembang Pujian Semesta
Melalui Tembang Pujian Semesta, kita akan memahami tujuan, sasaran, pedoman, dan prinsip utama Maha Tao Maitreya.
- Tujuan utama yaitu bersama membangun:
- Keluarga yang harmonis dengan alam, yaitu keluarga yang bahagia, rukun, dan sejahtera.
- Masyarakat yang harmonis dengan alam, yaitu masyarakat yang tenteram, damai, dan berkembang maju.
- Negara yang harmonis dengan alam, yaitu negara yang makmur, maju, dan jaya. Dunia yang harmonis dengan alam, yaitu dunia satu keluarga, dunia damai sentosa, dunia surgawi, bumi suci sukavati. [...]


