<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Maha Tao Maitreya &#187; ALAM SEMESTA</title>
	<atom:link href="http://www.maitreya.or.id/2010/category/dharma/alamsemesta/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.maitreya.or.id/2010</link>
	<description>Buddhisme Maitreya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Dec 2011 15:59:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mengasihi alam, Mengasihi kehidupan sendiri (Part 3 &#8211; End)</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/mengasihi-alam-mengasihi-kehidupan-sendiri-part-3-end</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/mengasihi-alam-mengasihi-kehidupan-sendiri-part-3-end#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 09:02:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Gugusan gunung yang asri, bumi yang hening-diam, rerumputan yagn menghijau, pepohonan yang rindang, langit biru yang luas tanpa batas, awan yang indah dengan sejuta bentuk, telaga yang hening bagaikan cermin, dan langit dengan bintang-bintang yang gemerlapan, adalah keindahan alam yang hening. Sementara burung yang beterbangan, ikan yang berenang ke sana ke mari, hewan yang berlarian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/05/Mengasihi-alam-Mengasihi-kehidupan-sendiri-Part-3-End.jpg"><img class="size-medium wp-image-491 alignleft" title="Mengasihi alam, Mengasihi kehidupan sendiri (Part 3 - End)" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/05/Mengasihi-alam-Mengasihi-kehidupan-sendiri-Part-3-End-240x300.jpg" alt="" width="200" height="223" /></a>Gugusan gunung yang asri, bumi yang hening-diam, rerumputan yagn menghijau, pepohonan yang rindang, langit biru yang luas tanpa batas, awan yang indah dengan sejuta bentuk, telaga yang hening bagaikan cermin, dan langit dengan bintang-bintang yang gemerlapan, adalah keindahan alam yang hening. Sementara burung yang beterbangan, ikan yang berenang ke sana ke mari, hewan yang berlarian dalam keriangan, dan gemericik mata air, sungai yang mengalir deras, samudera yang bergelora, serta berdesirnya angin, rintik-rintik hujan, gemuruh guntur, kicauan burung, kokok ayam, dan nyanyian serangga, adalah keindahan alam yang dinamis.</p>
<p>Alam semesta, langit, bumi, makhluk dan benda tidak berbicara, dan manusialah yang menjadi penyampai kata. Manusialah yang berkewajiban menerjemahkan segala keindahan alam. Manusialah yang harus menjadi ‘juru bicara’ alam semesta. Tetapi bukan berarti manusia menjadi juru alam dalam segala-galanya. Manusia tidak berhak menentukan masa depan dan nasib makhluk lain. Hidup-matinya semua makhluk tidak berada di tangan manusia.</p>
<p>Manusia harus hidup berdampingan dengan makhluk lain di bumi yang satu dan sama ini. Manusia harus menyadari betapa ia dan makhluk lain berasal dari satu akar yang sama, sehingga tidak semestinya saling membinasakan. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang berakal budi dan termulia, sudah semestinya manusia memiliki rasa cinta dan belas kasih terhadap semua makhluk. Dengan demikian barulah manusia pantas dihormati sebagai makhluk yang berbudi dan termulia. Janganlah manusia menempatkan diri di atas segala-galanya, lalu dengan sekehendak hati membunuh makhluk lain. Konsep pengagungan diri demikian adalah sangat keliru dan tidak etis. Jangan lupa bahwa langit dan bumi bagaikan kedua orang tua kita, sementara makhluk lain adalah saudara. Oleh sebab itu mengasihi alam adalah sama dengan mengasihi kedua orang tua dan saudara kita, bahkan adalah mengasihi kehidupan kita sendiri!</p>
<p><strong>Disadur Oleh: RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/mengasihi-alam-mengasihi-kehidupan-sendiri-part-3-end/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengasihi alam, Mengasihi kehidupan sendiri (Part 2)</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/mengasihi-alam-mengasihi-kehidupan-sendiri-part-2</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/mengasihi-alam-mengasihi-kehidupan-sendiri-part-2#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 17:10:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=475</guid>
		<description><![CDATA[Menyaksikan keindahan, keharmonisan, keseimbangan, dan keselarasan serta efisiensi alam yang sempurna, kita hanya dapat berdecak kagum akan kebesaran dan keagungan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Pengasih! Surya, rembulan, dan bintang yang gemerlang, samudera dan daratan yang luas, gunung yang tinggi menjulang, sungai yang tak henti mengalir, langit yang biru, awan yang putih, pohon yang rindang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/05/Mengasihi-alam-Mengasihi-kehidupan-sendiri-Part-2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-476" title="Mengasihi alam, Mengasihi kehidupan sendiri (Part 2)" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/05/Mengasihi-alam-Mengasihi-kehidupan-sendiri-Part-2-300x200.jpg" alt="" width="224" height="149" /></a>Menyaksikan keindahan, keharmonisan, keseimbangan, dan keselarasan serta efisiensi alam yang sempurna, kita hanya dapat berdecak kagum akan kebesaran dan keagungan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Pengasih! Surya, rembulan, dan bintang yang gemerlang, samudera dan daratan yang luas, gunung yang tinggi menjulang, sungai yang tak henti mengalir, langit yang biru, awan yang putih, pohon yang rindang, rumput yang hijau, bunga yang indah berwarna-warni, dan harum semerbak, unggas yang terbang di angkasa, hewan yang berlarian di hutan, ikan yang berenang di air, serta angin, hujan, embun, pelangi, dan kilauan senja, adalah lukisan alam yang indah menakjubkan, adalah manifestasi energi kehidupan alam yang paling nyata!</p>
<p>Sayang sekali, karena arogansi, kesombongan, dan ketidaktahuan, manusia menganggap diri sebagai penguasa dan penakluk alam, dan tidak pernah mau menghargai kehidupan makhluk lain. Menganggap adalah haknya untuk menguasai dan mengeksploitasi kehidupan makhluk dan benda lain sekehendak hatinya. Bertolak dari pandangan ‘Manusialah yang termulia’ yang egoistik, manusia merusak alam dengan semena-mena, bahkan menghambur-hamburkan sumber daya alam tanpa rasa sayang sedikit pun. Namun, begitu manusia mencoba menghancurkan alam, yang terjadi adalah manusia menghancurkan dirinya sendiri! Ketika manusia menghambur-hamburkan sumber daya alam, yang terjadi adalah manusia sedang menyia-nyiakan hidupnya sendiri. Adalah sebuah fakta yang tak terpungkiri bahwa manusia adalah alam semesta itu sendiri. Manusia adalah bagian dari kesatuan alam yang tak terpisahkan. Baik makhluk unggas, yang merayap, atau yang hidup dalam air, adalah denyut nadi dan nafas kehidupan alam yang paling nyata, dinamis, dan hidup!</p>
<p><strong>Disadur Oleh: RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/mengasihi-alam-mengasihi-kehidupan-sendiri-part-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengasihi alam, Mengasihi kehidupan sendiri (Part 1)</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/mengasihi-alam-mengasihi-kehidupan-sendiri-part-1</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/mengasihi-alam-mengasihi-kehidupan-sendiri-part-1#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 May 2011 13:17:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=470</guid>
		<description><![CDATA[Mengasihi alam adalah mengasihi diri sendiri, mengapa demikian? Sebab pada hakekatnya langit, bumi, manusia, dan laksa benda di alam semesta adalah satu kesatuan yang bulat, yang tak boleh kurang satu pun dari keempatnya. Jika hanya ada unsur langit, bumi, dan laksa makhluk, namun tidak ada unsur manusia, keberadaan alam menjadi tidak bermakna. Sebaliknya, tanpa langit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/05/HALILINTAR.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-471" title="HALILINTAR" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2011/05/HALILINTAR-300x225.jpg" alt="" width="240" height="180" /></a>Mengasihi alam adalah mengasihi diri sendiri, mengapa demikian? Sebab pada hakekatnya langit, bumi, manusia, dan laksa benda di alam semesta adalah satu kesatuan yang bulat, yang tak boleh kurang satu pun dari keempatnya. Jika hanya ada unsur langit, bumi, dan laksa makhluk, namun tidak ada unsur manusia, keberadaan alam menjadi tidak bermakna. Sebaliknya, tanpa langit dan bumi, manusia dan laksa benda tidak akan dapat eksis. Demikian pula bila hanya ada langit, bumi, dan manusia, namun tidak ada laksa benda lainnya, manusia tak mungkin dapat bertahan hidup dan alam raya pun menjadi ruang hampa yang penuh kesunyian. Langit, bumi, manusia, dan laksa benda adalah empat komponen pembentuk alam semesta yang saling bergantung dan berkaitan erat. Sebagai bagian dari alam, manusia tidak boleh hidup eksklusif dari alam. Namun materialisme, utilitarianisme, dan teknologi telah membuat manusia berseru lantang mau menaklukkan alam semesta! Begitu manusia menyatakan diri beroposisi dengan alam, mak selangkah demi selangkah – pelan namun pasti – manusia telah membawa masa depannya ke dalam jurang kehancuran!</p>
<p>Pada hakekatnya langit bagaikan otak, bumi bagaikan tulang, otot, dan pembuluh darah, sedangkan manusia adalah badan jasmani, sementara laksa benda adalah mata, hidung, telinga, mulut, alis, rambut, tangan, dan kaki. Perpaduan semua bagian dan organ inilah yang membentuk tubuh seorang manusia yang utuh. Demikian pula adalah perpaduan keempat komponen: langit, bumi, manusia, dan laksa benda yang membentuk alam menjadi alam semesta raya yang sempurna. Sebagai bagian dari alam, manusia harus hidup sejalan dan seirama dengan alam, dan inilah kebenaran hidup. Perilaku yang dibuat-buat, sikap munafik, egoisme, keakuan, keserakahan, kejahatan, nafsu, dan ambisi yang berlebihan adalah bertentangan dengan kebenaran alam.</p>
<p><strong>Disadur Oleh: RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/mengasihi-alam-mengasihi-kehidupan-sendiri-part-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menciptakan Atmosfir Yang Baru</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/menciptakan-atmosfir-yang-baru</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/menciptakan-atmosfir-yang-baru#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Dec 2010 10:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=404</guid>
		<description><![CDATA[Maha Tao Maitreya akan tersebar ke seluruh dunia apabila kita semua, siswa-siswi Maitreya memiliki motivasi yang satu untuk terus berjalan di jalan ini. Hanya ada satu motivasi untuk membina dan mengamalkan Ketuhanan. Hanya ada satu motivasi untuk beramal kebajikan, menunaikan ikrar, membabarkan kebenaran, menyelamatkan umat manusia, merintis vihara, dan melakukan triamal. Hanya ada satu motivasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/12/Space_Atmosphere_010501_.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-407" title="Space_Atmosphere_010501_" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/12/Space_Atmosphere_010501_-300x187.jpg" alt="" width="245" height="187" /></a>Maha Tao Maitreya akan tersebar ke seluruh dunia apabila kita semua, siswa-siswi Maitreya memiliki motivasi yang satu untuk terus berjalan di jalan ini. Hanya ada satu motivasi untuk membina dan mengamalkan Ketuhanan. Hanya ada satu motivasi untuk beramal kebajikan, menunaikan ikrar, membabarkan kebenaran, menyelamatkan umat manusia, merintis vihara, dan melakukan triamal. Hanya ada satu motivasi dan tidak ada motivasi lainnya. Karena motivasi lain tidaklah bermakna! Satu motivasi tersebut adalah <strong>berjuang dalam misi Buddha Maitreya untuk mewujudkan dunia satu keluarga</strong>! Hanya motivasi ini yang membuat kita membina dan melaksanakan Ketuhanan. Jika bukan atas dasar motivasi yang satu ini, maka di dalam membina dan melaksanakan Ketuhanan kita takkan mampu menjiwai hati Maitreya. Selamanya hanya sekedar menjadi seorang pembina yang individualis.</p>
<p>Dewasa ini wadah Ketuhanan tengah menghadapi dua tantangan besar. Tantangan pertama yaitu semakin menuanya wadah Ketuhanan dan sedikitnya generasi muda sebagai penerus. Proses kaderisasi juga berjalan lambat. Untuk mengatasi tantangan ini, kita harus segera melakukan proses kaderisasi yang baik agar generasi muda bisa hadir di dalam wadah Ketuhanan, sehingga mereka bisa segera meneruskan misi agung ini. Ini adalah tugas yang sangat mendesak. Bagaimana agar generasi muda masuk ke dalam wadah Ketuhanan? Bagaimana caranya agar generasi muda bisa membina dan mengamalkan Ketuhanan? Bagaimana caranya agar generasi muda bisa meneruskan tongkat estafet ini? Inilah sebab mengapa kita harus segera dengan sekuat tenaga mengembangkan Budaya Kasih Semesta.</p>
<p>Demi membangun Budaya Kasih Semesta, lahirlah tembang suci kasih semesta, kegiatan tarian kasih semesta, dan gerakan senam kasih semesta. Program ini bertujuan membuat setiap anggota keluarga bangkit dan bergerak bersama. Ayah dan ibu bergabung dalam kelompok usia dewasa, putera-puterinya mengikuti kelompok muda-mudi, sedangkan untuk anak-anak yang lebih kecil masuk ke dalam kelompok anak-anak. Seluruh anggota keluarga aktif dan berbahagia bersama. Bila anak-anak sejak usia dini sudah terdidik, maka kelak setelah dewasa mereka akan semakin dekat dengan wadah Ketuhanan dan terpanggil untuk berjuang di dalamnya.</p>
<p>Pada tahun 2001 kita mulai memperkenalkan tembang suci kasih semesta. Tahun 2002 dimulai kegiatan tarian kasih semesta. Dan di tahun 2004 dimulai gerakan senam kasih semesta. Semua kegiatan ini muncul untuk menyegarkan suasana wadah Ketuhanan yang semakin menua. Inilah yang menjadi tugas para Pandita dan Dharmaduta. Berusahalah membina lebih banyak generasi muda untuk memasuki wadah Ketuhanan guna meneruskan tongkat estafet. Inilah tugas kita yang amat penting!</p>
<p>Tugas Maha Tao Maitreya adalah mewujudkan dunia satu keluarga. Namun kita sadari bahwa selalu saja terjadi pertentangan antaragama. Sejarah sudah membuktikan bahwa banyak peperangan disebabkan oleh perbedaaan agama, bahkan menjadi dendam turun-temurun yang tidak pernah terselesaikan. Sungguh hal yang memilukan jika agama dan keyakinan menjadi sumber konflik dan dendam antarsesama umat manusia! Agama cenderung berpandangan ajarannyalah yang  tertinggi dan menjadi kebenaran sejati, serta memuliakan Orang Sucinya. Lalu bagaimana kita melakukan penyelamatan umat manusia dan dunia yang menjadi misi agung Maitreya? Tugas suci inilah yang harus selalu kita muliakan.</p>
<p><strong>Disadur Oleh : RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/menciptakan-atmosfir-yang-baru/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memuliakan Kehidupan Part 2</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/memuliakan-kehidupan-part-2</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/memuliakan-kehidupan-part-2#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Nov 2010 17:09:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[Hidup sangatlah singkat. Puluhan tahun berkelebat dalam sekejap mata. Saya merasa hidup saya selama enam puluhan tahun begitu singkat dan waktu berjalan dengan sangat cepat. Hidup tidak boleh disia-siakan. Baik para Pandita maupun umat biasa, semuanya harus berjuang bersama. Jika hidup tidak digunakan untuk mewujudkan dunia satu keluarga dalam misi Buddha Maitreya, hidup akan menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/11/Memuliakan-Kehidupan-part-2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-401" title="Memuliakan Kehidupan part 2" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/11/Memuliakan-Kehidupan-part-2.jpg" alt="" width="221" height="238" /></a>Hidup sangatlah singkat. Puluhan tahun berkelebat dalam sekejap mata. Saya merasa hidup saya selama enam puluhan tahun begitu singkat dan waktu berjalan dengan sangat cepat. Hidup tidak boleh disia-siakan. Baik para Pandita maupun umat biasa, semuanya harus berjuang bersama. Jika hidup tidak digunakan untuk mewujudkan dunia satu keluarga dalam misi Buddha Maitreya, hidup akan menjadi sia-sia. Sungguh amat disayangkan!</p>
<p>Mengapa tugas ini disebut misi agung penyempurnaan trilokya? Karena sepanjang sejarah, misi ini adalah peristiwa yang terbesar dan terabadi. Mari kita lihat. Berdiri dan hancurnya suatu dinasti besar pun kini tinggal sejarah. Kekaisaran Roma yang besar telah menjadi sejarah. Dinasti Mongol, kekaisaran yang begitu mahsyur, juga tinggal sejarah. Semua urusan dinasti kekaisaran yang dahulu begitu semarak kini telah tiada. Oleh karenanya, urusan di luar misi ini adalah hal-hal kecil yang muncul dan sirna seiring berjalannya waktu. Hanya misi agung Buddha Maitreya, misi untuk mewujudkan bumi suci sukavati, negeri buddhata, dunia surgawi, yang merupakan peristiwa terbesar tiada duanya! Mari persembahkan hidup untuk peristiwa maha agung ini. Hanya dengan demikian hidup baru bernilai dan bermakna. Jangan lagi memboroskan dan menyia-nyiakan waktu. Tiada penyesalan yang berarti bila segalanya telah terlambat.</p>
<p>Hidup yang hanya puluhan tahun harus kita gunakan untuk hal yang paling bernilai dan bermakna di dalam misi penyempurnaan Buddha Maitreya. Melindungi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain adalah demi peristiwa besar ini. Mengasihi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang juga demi peristiwa besar ini. Memuliakan kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain adalah demi peristiwa besar ini. Jika bukan untuk peristiwa besar misi penyempurnaan Maitreya, misi dunia satu keluarga ini, maka misi ini tidak disebut sebagai ‘melindungi, mengasihi, dan memuliakan hidup’. Hanya dengan berdedikasi dalam misi Buddha Maitreya untuk mewujudkan dunia satu keluarga, dunia surgawi, barulah kita menemukan hidup yang mulia dan penuh makna. Inilah yang disebut sebagai ‘melindungi, mencintai, dan memuliakan hidup’.</p>
<p>Lepas dari misi penyempurnaan trilokya, maka tiada hal penting lainnya. Berpartisipasi dalam misi penyempurnaan trilokya dan misi dunia satu keluarga, segalanya jadi bernilai abadi. Kesempatan emas ini sudah kita temukan, selanjutnya harus kita raih dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tiada hal yang paling disayangkan selain kehilangan kesempatan ini. Saat ini kita belum terlambat, dan kesempatan juga belum terlewatkan. Kita berada tepat pada waktunya. Dengan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, barulah hidup tidak sia-sia. Sehingga kita bisa bertanggung jawab pada diri sendiri, pada Tuhan, Buddha Maitreya, dan Dwiguru Agung Nurani. Juga bertanggung jawab pada orang tua dan leluhur kita. Kita harus mempunyai panggilan yang luhur ini. Sebelum abad-21, bagaimanapun konsep pemikiran kita untuk membina dan melaksanakan Ketuhanan tidaklah menjadi persoalan. Namun setelah memasuki abad-21 ini, fokus kita harus tertuju pada misi penyempurnaan Buddha Maitreya ini.</p>
<p><strong>Disadur Oleh : RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/memuliakan-kehidupan-part-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memuliakan Kehidupan Part 1</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/memuliakan-kehidupan-part-1</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/memuliakan-kehidupan-part-1#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Nov 2010 17:37:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=375</guid>
		<description><![CDATA[Mulai dari melindungi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain, maju selangkah mengasihi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain. Sampai di tahap ini, hati bebas dari rasa benci, rasa iri atau cemburu, dan amarah. Setiap ucapan, perbuatan, dan tindak-tanduk tidak akan menyinggung dan menyakiti orang lain, sebaliknya selalu membawakan berkah dan manfaat untuk orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/11/Memuliakan-Kehidupan-part-11.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-377" title="Memuliakan Kehidupan part 1" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/11/Memuliakan-Kehidupan-part-11-300x207.jpg" alt="" width="267" height="184" /></a>Mulai dari melindungi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain, maju selangkah mengasihi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain. Sampai di tahap ini, hati bebas dari rasa benci, rasa iri atau cemburu, dan amarah. Setiap ucapan, perbuatan, dan tindak-tanduk tidak akan menyinggung dan menyakiti orang lain, sebaliknya selalu membawakan berkah dan manfaat untuk orang lain. Dari sini terwujudlah ‘memuliakan kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain’. Mulai dari melindungi kehidupan, kemudian mengasihi kehidupan, dan selanjutnya memuliakan kehidupan. Memuliakan kehidupan adalah bagaikan lilin yang bersinar menerangi orang lain. Memancarkan cahaya terang kehidupan diri sendiri untuk membawakan berkah dan manfaat bagi orang lain, bagi masyarakat, bagi wadah Ketuhanan, keluarga, negara, dunia, bahkan Trilokya.</p>
<p>Sampai tahap ini, diri kita lantas tidak akan cepat merasa puas. Terus-menerus tiada henti mengembangjayakan cahaya kehidupan. Kita masih harus selangkah lebih maju lagi, yaitu merealisasikan ‘memuliakan kehidupan orang lain’, karena kemuliaan ini belumlah sempurna jika hanya menjadi milik diri kita sendiri. Tahap ini memang secara alami akan kita lakukan sebagai langkah kelanjutannya. Apa yang dimaksud dengan memuliakan kehidupan orang lain? Belum cukup bila hanya diri kita sendiri yang membawakan kebaikan bagi orang lain. Lebih jauh kita harus membantu lebih banyak orang untuk menjadi sumber kebaikan bagi banyak orang lainnya.</p>
<p>Ruang lingkup ‘melindungi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain’ sangatlah luas, yaitu saat melindungi kehidupan diri sendiri, pada saat yang sama juga melindungi kehidupan sesama yang berbeda kewarganegaraan, berbeda ras, berbeda warna kulit, berbeda agama, berbeda keyakinan, berbeda budaya, berbeda ideologi, berbeda adat istiadat, berbeda bahasa dan aksara. Juga melindungi kehidupan yang kaya atau miskin, yang mulia atau hina, yang pintar atau bodoh, yang cantik atau jelek. Tentunya kita juga harus melindungi hidup segala satwa dan tumbuhan. <strong>Melindungi </strong><strong>kehidupan</strong><strong> diri sendiri dan kehidupan orang lain, mencintai kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain, memuliakan kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain. </strong>Jika ketiga kalimat ini terealisasi, tercapailah hidup yang terang gemilang, yang kekal abadi, di luar kelahiran dan kematian.</p>
<p>Dengan mengasihi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain, kita juga mengasihi kehidupan sesama yang berbeda kewarganegaraan, berbeda ras, berbeda warna kulit, berbeda agama, berbeda keyakinan, berbeda budaya, berbeda ideologi, berbeda adat istiadat, berbeda bahasa dan aksara. Juga mengasihi kehidupan mereka yang kaya maupun miskin, yang mulia atau hina, yang pintar atau bodoh, yang cantik atau jelek. Tentunya kita juga harus mengasihi satwa yang hidup di angkasa, daratan, dan lautan serta segala tumbuhan. <strong>Melindungi kehidupan diri sendiri dan hidup orang lain, men</strong><strong>gasihi</strong><strong> </strong><strong>kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain, memuliakan kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain.</strong><strong> </strong>Kebenaran bukanlah untuk terlalu banyak dikhotbahkan atau didengarkan. Tiga kalimat ini saja sudah tidak habis untuk kita amalkan seumur hidup.</p>
<p>Mulai dari memuliakan kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain, dan selanjutnya memuliakan kehidupan sesama yang berbeda kewarganegaraan, berbeda ras, berbeda warna kulit, berbeda agama, berbeda keyakinan, berbeda budaya, berbeda ideologi, berbeda adat istiadat, berbeda bahasa dan aksara. Juga memuliakan kehidupan mereka yang kaya maupun miskin, yang mulia atau hina, yang pintar atau bodoh, yang cantik atau buruk rupa. Tentunya kita juga harus memuliakan hidup satwa yang kehidupan di angkasa, daratan dan lautan, serta segala tumbuhan. Mampu mengamalkan semua ini berarti kita telah mengamalkan jiwa Maitreya dan berpadu dengan hati Tuhan. Inilah hati nurani!</p>
<p>Tiga poin di atas nampaknya sangat sederhana, namun maknanya sangat luas dan mendalam. Sudah mencukupi, bahkan berlimpah untuk kita renungkan dan amalkan sepanjang hidup. Inilah motto pembinaan dan pengamalan Ketuhanan. Inilah prinsip utama, pedoman utama, sasaran utama, dan tujuan utama dalam membina, mengamalkan, dan membabarkan Maha Tao Maitreya.</p>
<p><strong>Disadur Oleh: RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/memuliakan-kehidupan-part-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melindungi Dan Mengasihi Kehidupan Part-2</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/melindungi-dan-mengasihi-kehidupan-part-2</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/melindungi-dan-mengasihi-kehidupan-part-2#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Oct 2010 14:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=370</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana kita merealisasikan semangat ‘mengasihi kehidupan diri sendiri dan mengasihi kehidupan orang lain’? Yaitu di mulai dari melindungi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain, kemudian mengasihi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain. Seseorang yang bisa melindungi kehidupannya, dia pasti mengasihi kehidupannya. Jika tidak tahu melindungi kehidupan dirinya, bagaimana mungkin dia mengasihi kehidupannya? Karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/10/6213_1050057626821_1687154160_99799_1176529_n.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-371" title="6213_1050057626821_1687154160_99799_1176529_n" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/10/6213_1050057626821_1687154160_99799_1176529_n.jpg" alt="" width="279" height="232" /></a>Bagaimana kita merealisasikan semangat ‘mengasihi kehidupan diri sendiri dan mengasihi kehidupan orang lain’? Yaitu di mulai dari melindungi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain, kemudian mengasihi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain. Seseorang yang bisa melindungi kehidupannya, dia pasti mengasihi kehidupannya. Jika tidak tahu melindungi kehidupan dirinya, bagaimana mungkin dia mengasihi kehidupannya? Karena itu, seseorang yang bisa melindungi kehidupannya, dia pasti mengasihi kehidupannya. Seseorang yang bisa melindungi kehidupan orang lain, dia pasti bisa mengasihi kehidupan orang lain.</p>
<p>Orang yang mengasihi kehidupannya akan senantiasa ceria, bahagia, optimis, percaya diri, proaktif, gigih, dan pantang menyerah. Dia hidup dalam keriangan dan kebesaran jiwa yang menakjubkan. Begitulah yang dimaksud mengasihi kehidupan. Karena kita memahami bahwa hidup ini hanya sekali, maka kita harus hidup dengan bahagia. Karena mengasihi kehidupan, kita harus hidup dengan sukacita, ceria, dan penuh senyuman. Karena mengasihi kehidupan ini, kita harus senantiasa merasa nyaman dan percaya diri. Setiap hari jiwa bebas leluasa tanpa ikatan dan beban. Seseorang yang mengasihi kehidupan ini, akan selalu optimis dan tidak pernah putus asa.</p>
<p>Sebaliknya orang yang tidak mengasihi kehidupan akan mudah merasa pesimis, putus asa, patah semangat, berpikiran negatif, minder, dan rendah diri. Untuk selanjutnya dia akan bergabung dengan ‘barisan sakit hati’ yang selalu menyalahkan seluruh dunia. Setiap hari hidupnya penuh dengan keluhan, ini salah, dan itu salah. Ini akibat dari tidak mengasihi kehidupan diri sendiri.</p>
<p>Seseorang yang mengasihi kehidupan, dia menyadari bahwa hidup ini sangat indah, sangat membahagiakan, dan penuh sukacita. Karena itu pula, dia terdorong untuk mengasihi kehidupan orang lain! Seseorang yang mengasihi kehidupan orang lain, dia tentunya harus lebih bahagia. Dia akan berbagi kebahagiaan dan menikmatinya bersama orang lain. Dia akan menyebarkan getaran sukacita dan keceriaan kepada orang lain, mendatangkan optimisme, kepercayaan diri, dan senyuman untuk orang lain.</p>
<p>Ikrar Agung Buddha Maitreya adalah mewujudkan dunia surgawi, negeri buddhata, kerajaan Tuhan, bumi suci sukavati, taman sukacita semesta. Hidup dalam bumi suci sukavati tentunya sangat membahagiakan, penuh sukacita dan senyuman. Setiap hari tentu bebas leluasa, ceria, dan riang gembira. Setiap orang di dalamnya senantiasa merasakan optimisme dan kepercayaan diri. Ini adalah sebuah kondisi yang sudah pasti.</p>
<p>Seseorang yang mengasihi hidup adalah seseorang yang benar-benar berdedikasi dalam misi Buddha Maitreya. Seumur hidup mempersembahkan kasih, membawakan kebahagiaan, sukacita, keceriaan, dan senyuman untuk wadah Ketuhanan, masyarakat, keluarga, negara, dunia dan segala makhluk hidup. Dengan demikian, kita baru benar-benar berdedikasi dalam misi Maitreya untuk mewujudkan dunia satu keluarga, negeri buddhata, bumi suci sukavati, taman sukacita Semesta.</p>
<p><strong>Disadur oleh: RC</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/melindungi-dan-mengasihi-kehidupan-part-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melindungi Dan Mengasihi Kehidupan Part-1</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/melindungi-dan-mengasihi-kehidupan-part-1</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/melindungi-dan-mengasihi-kehidupan-part-1#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Oct 2010 04:37:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=366</guid>
		<description><![CDATA[Betapa pentingnya melindungi dan menghargai kehidupan! Seseorang yang bisa melindungi kehidupan, dia pasti mengembangkan nilai, makna, dan manfaat hidupnya dengan maksimal. Tidak ada waktu untuk stres dan depresi. Terlebih tidak ada waktu untuk penyiksaan dan penganiayaan diri sendiri! Dalam hidup puluhan tahun yang sangat terbatas ini, bagaimana kita melaksanakan hal-hal yang paling bernilai dan bermakna? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/10/25316_1308058913863_1602274987_30772814_8297175_n.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-367" title="25316_1308058913863_1602274987_30772814_8297175_n" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/10/25316_1308058913863_1602274987_30772814_8297175_n.jpg" alt="" width="254" height="212" /></a>Betapa pentingnya melindungi dan menghargai kehidupan! Seseorang yang bisa melindungi kehidupan, dia pasti mengembangkan nilai, makna, dan manfaat hidupnya dengan maksimal. Tidak ada waktu untuk stres dan depresi. Terlebih tidak ada waktu untuk penyiksaan dan penganiayaan diri sendiri! Dalam hidup puluhan tahun yang sangat terbatas ini, bagaimana kita melaksanakan hal-hal yang paling bernilai dan bermakna? Selain melindungi kehidupan diri sendiri, kita juga harus melindungi kehidupan orang lain.</p>
<p>Ruang lingkup melindungi kehidupan orang lain sangatlah luas. Telah disebutkan sebelumnya bahwa seseorang yang bisa melindungi kehidupan, dia pasti memiliki tujuan hidup dan cita-cita yang mulia. Seluruh semangat dan hidupnya dipergunakan untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita tersebut.</p>
<p>Kini kesempatan emas yang langka telah tiba. Inilah karunia Tuhan yang terbesar, inilah kesempatan yang tidak pernah ada sebelum maupun sesudahnya. Sekalipun kita mampu mempersembahkan hidup untuk mendirikan sebuah negara atau membangun sebuah zaman, itu bukanlah nilai dan makna hidup yang paling maksimal. Dari sudut pandang wadah Ketuhanan, sepanjang sejarah manusia dalam siklus 129.600 tahun, hanya di titik inilah era terwujudnya zaman Buddha Maitreya. Di saat Buddha Maitreya hadir untuk merampungkan ikrar agung-Nya, kita justru bertemu dengan kesempatan ini, sehingga di kehidupan ini kita bisa turut menggapai berkah dan makna yang tertinggi. Tanpa datangnya zaman Buddha Maitreya, tanpa Rahmat Tuhan dan Kebajikan Dwiguru Agung, tanpa turunnya Maha Tao Maitreya ke dunia, kita tidak mempunyai kesempatan untuk menunjukkan makna dan nilai hidup yang paling berharga ini. Mari kita manfaatkan hidup kita agar memperoleh nilai, makna, dan manfaat yang maksimal.</p>
<p>Dengan mendedikasikan seluruh hidup kita dalam misi akbar Buddha Maitreya untuk mewujudkan ‘dunia satu keluarga, segala agama satu keluarga, segala bangsa satu keluarga&#8217;, nilai dan makna hidup kita mencapai puncak kemuliaan. Hidup menjadi begitu cemerlang dan indah tak terlukiskan. Inilah hidup yang menerangi dunia dan abadi!</p>
<p>Kini kita telah menemukan satu-satunya kesempatan yang ada, karena itu harus kita manfaatkan dengan baik! Jika tidak kita manfaatkan, atau sampai kehilangan kesempatan, sungguh amat disayangkan! Oleh karena itu, mari kita manfaatkan, kita sayangi dan lindungi hidup kita dengan melaksanakan tugas yang paling bernilai dan bermakna ini, dengan berperan sebaik-baiknya dalam misi Maitreya.</p>
<p>Belumlah sempurna bila hanya sebatas diri sendiri yang melaksanakan tugas ini. Kita juga harus melindungi kehidupan orang lain, agar turut memperoleh nilai dan makna yang maksimal. Kita harus menuntun mereka agar juga bisa mempersembahkan hidup mereka untuk wadah Ketuhanan dan berdedikasi dalam misi Maitreya. Melindungi kehidupan diri sendiri harus diiringi dengan melindungi kehidupan orang lain. Kita harus membantu orang lain untuk bisa mengasihi, melindungi, dan memanfaatkan hidup mereka. Sepertinya kurang bernilai jika hanya diriku sendiri yang mempersembahkan hidup untuk berdedikasi dalam misi Buddha Maitreya, mewujudkan bumi suci sukavati! Kita harus mendorong semua orang untuk mendedikasikan hidup mereka, serta mengasihi dan melindungi hidup mereka. Kemudian memanfaatkan hidup mereka sebaik-baiknya, sehingga seumur hidup bisa turut serta dalam misi Maitreya. Dengan membantu lebih banyak orang untuk mengetahui dan melaksanakan tugas ini, tidak hanya diri sendiri yang mengetahui dan melaksanakan, inilah keberhasilan dan kemuliaan yang sejati.</p>
<p><strong>Disadur oleh: LiangYiin</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/melindungi-dan-mengasihi-kehidupan-part-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hanya Ada Satu Kesempatan Dalam Hidup Part-2</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/hanya-ada-satu-kesempatan-dalam-hidup-part-2</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/hanya-ada-satu-kesempatan-dalam-hidup-part-2#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Oct 2010 16:20:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[Hidup hanya sekali. Tubuh ini hanya memiliki satu kesempatan sekali hidup saja. Tiada kesempatan kedua. Arloji kehidupan tidak akan berhenti. Waktu yang kita miliki dalam hidup, semakin hari semakin berkurang, bukan semakin bertambah. Lewat satu jam, berkurang satu jam. Lewat dua jam, berarti berkurang dua jam. Lewat satu tahun, berkurang satu tahun. Berapa pun usia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/10/air-bersih.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-351" title="air-bersih" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/10/air-bersih.gif" alt="" width="259" height="219" /></a>Hidup hanya sekali. Tubuh ini hanya memiliki satu kesempatan sekali hidup saja. Tiada kesempatan kedua. Arloji kehidupan tidak akan berhenti. Waktu yang kita miliki dalam hidup, semakin hari semakin berkurang, bukan semakin bertambah. Lewat satu jam, berkurang satu jam. Lewat dua jam, berarti berkurang dua jam. Lewat satu tahun, berkurang satu tahun. Berapa pun usia kita sekarang, usia hidup kita di dunia telah ditetapkan dengan pasti. Bila arloji kehidupan ditetapkan 80 tahun, maka hidup pun akan berjalan selama 80 tahun. Bila 90 tahun, maka kita pun akan hidup sampai 90 tahun. Ataukah 100 tahun, maka kita akan hidup seratus tahun. Demikian juga dengan 60 tahun atau pun 70 tahun, semuanya telah ditetapkan. Begitu arloji kehidupan mulai berdetak, hidup akan berjalan dalam kurun waktu yang telah ditetapkan tersebut. Setiap saat semakin berkurang. Memikirkan hal ini, sepantasnya kita merasa was-was.</p>
<p>Oleh karena itu, seseorang yang bisa melindungi kehidupannya, ia sangat pandai mengatur waktu dan dirinya. Dia bisa merencanakan kehidupan dengan baik, agar beberapa puluh tahun hidupnya tidak menjadi sia-sia. Hidup adalah anugerah, dan Tuhan telah memberikan tugas dan misi yang harus kita laksanakan dalam hidup ini. Setiap orang lahir ke dunia atas pengaturan Tuhan untuk menyelesaikan tugas dan misi tersebut. Jika kita tidak menyayangi dan melindungi hidup yang dianugerahkan-Nya, mungkinkah kita menyelesaikan misi yang dipercayakan Tuhan pada diri kita? Tuhan ingin setiap insan manusia hadir dengan tugasnya masing-masing. Oleh karenanya, kehadiran kita di dunia ini pasti ada tanggung jawabnya masing-masing. Kita harus menemukan cara bagaimana agar kesempatan hidup ini dapat kita gunakan sehingga kelak diperoleh hasil yang maksimal. Bagaimanakah kita mengisi hidup ini agar memperoleh makna dan nilai yang terbaik, sehingga bisa membawa kemaslahatan untuk diri sendiri, orang di sekitar, masyarakat, negara, wadah Ketuhanan, bahkan untuk seluruh umat manusia.</p>
<p>Apa yang harus dilakukan? Apa yang dapat dipersembahkan? Berkat Rahmat Tuhan, Kasih Buddha Maitreya dan Kebajikan Dwiguru Agung, kita telah diberitahu dengan jelas, bahwa hidup yang termulia adalah berdedikasi dalam misi Buddha Maitreya untuk mewujudkan bumi suci sukavati. Inilah peristiwa mahaakbar yang tidak pernah terjadi sebelumnya, dan kini kita telah berada di dalamnya. Oleh karena itu, kita harus berusaha semaksimal mungkin agar hidup kita memperoleh makna dan nilai yang terbaik dan termulia. Dengan mempersembahkan hidup ini bagi terwujudnya negeri buddhata, dunia surgawi, bumi suci sukavati. Sungguh tanpa peristiwa akbar ini, hidup kita akan menjadi sia-sia. Hidup menjadi tiada artinya.</p>
<p>Di antara enam miliar manusia, berapa orang yang mempunyai kesempatan seperti kita untuk menghasilkan nilai dan makna hidup hingga ke puncak kemuliaannya? Hidup kita akan memperoleh makna dan nilai yang terbaik bila dipersembahkan kepada wadah Ketuhanan. Hidup ini kita pergunakan demi kehidupan enam miliar saudara kita di dunia. Kita berjuang hingga titik nafas terakhir untuk mewujudkan bumi suci sukavati, dunia surgawi, negeri buddhata. Dengan demikian, hidup kita akan memperoleh nilai dan makna yang paling maksimal. Hidup yang sementara jadi bernilai abadi. Inilah intinya!</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Disadur oleh: LiangYiin</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/hanya-ada-satu-kesempatan-dalam-hidup-part-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hanya Ada Satu Kesempatan Dalam Hidup Part-1</title>
		<link>http://www.maitreya.or.id/2010/hanya-ada-satu-kesempatan-dalam-hidup</link>
		<comments>http://www.maitreya.or.id/2010/hanya-ada-satu-kesempatan-dalam-hidup#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Sep 2010 11:56:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>junaidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALAM SEMESTA]]></category>
		<category><![CDATA[DHARMA MAITREYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maitreya.or.id/2010/?p=337</guid>
		<description><![CDATA[Menjunjung segala kehidupan. Melindungi hidup diri sendiri serta orang lain. Mengasihi hidup diri sendiri serta orang lain. Memuliakan hidup diri sendiri serta memuliakan hidup orang lain. Seseorang yang dapat melindungi, mengasihi, dan memuliakan kehidupan dirinya dan kehidupan orang lain, baru dapat merealisasikan ‘Langit bumi bagai ayah bunda, 6 miliar manusia adalah saudara, segala satwa dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/09/hk.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-342" title="hk" src="http://www.maitreya.or.id/2010/wp-content/uploads/2010/09/hk.jpg" alt="" width="263" height="219" /></a>Menjunjung segala kehidupan. Melindungi hidup diri sendiri serta orang lain. Mengasihi hidup diri sendiri serta orang lain. Memuliakan hidup diri sendiri serta memuliakan hidup orang lain. Seseorang yang dapat melindungi, mengasihi, dan memuliakan kehidupan dirinya dan kehidupan orang lain, baru dapat merealisasikan ‘Langit bumi bagai ayah bunda, 6 miliar manusia adalah saudara, segala satwa dan tumbuhan adalah anggota keluarga dalam taman sukacita semesta ini’. Sepenuhnya menjunjung segala kehidupan secara utuh. Seseorang yang tidak bisa melindungi kehidupannya sendiri, tidak akan bisa melindungi kehidupan orang lain dan menghargai kehidupan. Seseorang yang tidak bisa mengasihi kehidupan diri sendiri, tidak akan bisa menghargai kehidupan. Dia juga tidak mungkin mengasihi kehidupan orang lain! Seseorang yang tidak bisa melindungi dan mengasihi kehidupan orang lain, mustahil bisa merealisasikan semangat ‘6 miliar umat manusia adalah saudara’, terlebih menjadikan satwa yang hidup di angkasa, daratan, dan lautan sebagai saudara. Oleh karena itu lirik ‘melindungi, mengasihi, dan memuliakan hidup’ di dalam Tembang Pujian Semesta dimulai dari diri sendiri.</p>
<p>Saudara, hidup ini hanya satu kali. Hidup yang hanya sekali dan tidak ada kesempatan keduanya ini begitu berharga. Oleh karena itu, melindungi dan menyayangi kehidupan diri sendiri adalah sangat penting! Singkatnya hidup yang hanya satu kali ini harus kita hargai setiap menit dan detiknya. Jika kita tidak melindungi dan menyayangi kehidupan diri sendiri, berarti kita sedang menghamburkan, memboroskan, dan menyia-nyiakan hidup. Ketika nafas terakhir dihembuskan, kita akan merasa sangat menyesal! Tragisnya, manusia terus menyia-nyiakan hidup tanpa disadarinya. Manusia tidak sadar hidup begitu berharga. Satu menit yang telah berlalu tidak akan kembali. Satu jam yang berlalu juga tidak akan kembali. Demikian pula satu hari yang telah berlalu, tidak mungkin terulang kembali.</p>
<p>Hidup sungguh berharga! Dalam hidup yang terbatas ini, bagaimana kita bisa mengukir karya suci yang abadi? Bagaimana kita menggunakan jasmani yang sementara ini untuk membuahkan hidup yang kekal abadi? Seseorang yang sungguh-sungguh melindungi dan menyayangi kehidupannya akan membangun tekad yang agung, memiliki tujuan hidup yang mulia, dan cita-cita yang luhur. Karena hanya dengan demikian dirinya baru dapat benar-benar terpanggil untuk memanfaatkan setiap menit, setiap jam, dan setiap hari dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya seorang yang tidak memiliki tujuan dan cita-cita hidup yang luhur, tanpa disadari ia hanya menyia-nyiakan hidupnya. Oleh karena itu, marilah kita semua merenungi, apa tujuan hidup dan cita-cita luhur kita? Karena jika tidak memiliki tujuan, panggilan, dan cita-cita yang luhur, dan terus menyia-nyiakan hidup, kita tidak tergolong sebagai orang yang melindungi dan menyayangi hidup ini!</p>
<p>Seseorang yang melindungi dan menyayangi hidup, akan senantiasa menggunakan waktunya secara efisien, baik semenit, sejam, ataupun sehari, untuk hal-hal yang paling bermakna. Hal-hal bermakna tersebut adalah bagian dari tujuan mulia dan cita-cita luhur yang harus diwujudkan dalam hidupnya. Seseorang yang dapat mewujudkan tujuan dan cita-cita yang mulia, hidupnya akan abadi dan tidak lekang oleh waktu. Bila melewati hidup dengan sia-sia tanpa mewujudkan tujuan dan cita-cita yang luhur mulia, sampai akhir hayat merasa menyesal pun sudah terlambat!</p>
<p><strong>Disadur oleh: LiangYiin</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maitreya.or.id/2010/hanya-ada-satu-kesempatan-dalam-hidup/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

