DHARMA MAITREYA

December 25th, 2011
TIGA RACUN UTAMA Oleh : MS Gautama Harjono (Part 2 / END)

2. Dosa atau Kebencian

Kebencian berarti tidak suka kepada seseorang, cemburu pada seseorang, iri hati, sikap curiga , takut , dendam, dan segala sesuatu yang tergolong keinginan untuk menolak sesuatu. [...]

November 28th, 2011
TIGA RACUN UTAMA Oleh : MS Gautama Harjono (Part 1)

Racun adalah zat yang berbahaya bagi tubuh dan bisa merusak tubuh. Namun ada racun yang juga merusak hati atau jiwa. Sang Buddha mengatakan racun itu adalah lobha, dosa dan moha. [...]

November 11th, 2011
MENGISI HARI DENGAN KEBAIKAN NURANI

Meski waktu yang dimiliki tinggal satu hari saja, tetapi ketika mampu dimaknai dengan Nurani niscaya satu hari itupun akan lebih baik dari hari-hari sebelumnya yang penuh kesesatan. [...]

September 13th, 2011
HARI BAIK SELALU ADA

Selalu ada hari baik ketika diisi dengan niat-niat baik yang sesuai Hati Nurani dan kehendak Tuhan. Bagi mereka yang beriman dan bersyukur maka hari baik itu selalu ada. Bahkan setiap hari yang dimiliki adalah hari baik. Meski kelihatannya begitu tidak lancar dan sempurna, tetapi apabila mampu disikapi dengan bijak dan penuh rasa syukur, niscaya hari-hari baik selalu ada. [...]

August 30th, 2011
Satu Hari Lebih Baik

Hari demi hari terus kita lewati. Tanpa sadar kita telah begitu jauh meninggalkan hari-hari kemarin, menoreh sejarah demi sejarah. Sampai akhirnya kita begitu terpana menatap momen-momen yang telah menjadi masa lalu. Tertegun memikirkan apa yang telah dilewati tanpa mampu merengkuhnya kembali. Bahkan untuk kejadian sedetik yang lalupun kita tak kuasa meraihnya kembali apalagi mengurainya untuk diutak-atik menjadi lembaran sejarah yang kita inginkan. Andai waktu bisa diulang,tentunya kita akan mampu mengukir hari-hari yang selalu berkilau, sesuai harapan dan keinginan, tanpa coretan kesalahan sekalipun. [...]

July 13th, 2011
Berkah Lupa (Part 3 End – Berkah Lupa)

Perjuangan untuk melupakan memang tak mudah. Namun jika itu kita perjuangkan terus, pasti akan ada hasilnya. Kita akan mengalami kebahagiaan yang luar biasa berupa pembebasan jiwa yang sulit kita lukiskan dengan ucap dan kata. Seolah selama ini kita telah membawa beban bera, batu yang sangat berat dan kini beban batu itu sudah hilang dan musnah untuk selamanya. Seolah kita telah membawa sampah yang menjijikkan di dalam tubuh dan kini sampah itu telah pergi untuk selamanya. Badan menjadi sehat hatipun selalu berbahagia. Kebahagiaan yang berupa pelepasan ini sungguh sangat luar biasa. [...]

June 17th, 2011
Belajar Lupa (part 2 – Cara Lupa)

Melupakan kata-kata dan sikap yang menyakitkan tentu tidaklah mudah. Namun bukan berarti tidak bisa. Kekuatan dan kemampuan manusia memang ada batasnya, namun percayalah bahwa ada sebuah kekuatan yang tiada batas yaitu kekuatan LAOMU dan Buddha Maitreya. Karena itu langkah pertama kita untuk belajar melupakan adalah berdoa dan bersujud, memohon LAOMU membukakan kearifan dan memohon kepada Buddha Maitreya agar bisa melapangkan dada untuk melupakan apa yang telah kita alami. Kekuatan LAOMU dapat mengubah segala yang tidak mungkin menjadi mungkin melampaui semua batas logika.Langka kedua adalah belajarlah untuk memaafkan. Membuka pintu maaf dalam diri akan membuat kita melupakan semua peristiwa yang menyakitkan ini. [...]

June 5th, 2011
Belajar Lupa (part-1)

Lupa sering dikonotasikan dengan sifat yang negatif. Biasanya  orang yang mudah lupa sering dianggap pikun.  Namun dalam tulisan ini justru mengajak kita untuk belajar lupa. Sebuah pertanyaan yang muncul dalam diri kita adalah mengapa harus belajar lupa? Apa yang harus dilupa dan apa yang tak boleh dilupakan?

Apa yang harus kita lupakan? Belajar lupa atas kata-kata yang menyakitkan yang pernah ditumpahkan kepada kita baik dalam kondisi disengaja ataupun tidak disengaja, kata-kata dan sikap yang melukai hati yang bersifat untuk menggembleng pertumbuhan jiwa kita maupun kata-kata dan sikap penghinaan, kata-kata yang kasar dan menusuk lubuk hati yang terdalam. Lalu apa yang tak boleh dilupakan? Budi kebajikan LAOMU, Buddha Maitreya, Shi Zhun Shi Mu, para sesepuh dan pandita, orang-orang yang ada di sekitar kita, misi dan tanggung jawab yang harus diemban. Namun kebanyakan dari kita sering mengingat apa yang harus dilupakan dan melupakan apa yang harus dingat. Karena itu ternyata belajar lupa untuk hal yang satu ini ternyata tak mudah.

Ibarat luka yang sudah berdarah, kesakitan yang amat sangat, bahkan bila telah mencapai klimaks akan berakibat pada kebencian dan dendam yang tidak akan pernah putus kalau tidak diputuskan. Apalagi jika yang mencaci maki, yang melukai hati dengan kata-kata yang menyakitkan adalah orang yang dekat dengan kehidupan kita, tentu rasa sakit di hati menjadi berlipat. Lalu bagaimana proses untuk lupa bekerja dan memberikan efek yang efektif? Bagaimana bisa? Apakah bisa? Tentu BISA!

Creator: embun pagi

Disadur Oleh: RC

May 27th, 2011
Mengasihi alam, Mengasihi kehidupan sendiri (Part 3 – End)

Gugusan gunung yang asri, bumi yang hening-diam, rerumputan yagn menghijau, pepohonan yang rindang, langit biru yang luas tanpa batas, awan yang indah dengan sejuta bentuk, telaga yang hening bagaikan cermin, dan langit dengan bintang-bintang yang gemerlapan, adalah keindahan alam yang hening. Sementara burung yang beterbangan, ikan yang berenang ke sana ke mari, hewan yang berlarian dalam keriangan, dan gemericik mata air, sungai yang mengalir deras, samudera yang bergelora, serta berdesirnya angin, rintik-rintik hujan, gemuruh guntur, kicauan burung, kokok ayam, dan nyanyian serangga, adalah keindahan alam yang dinamis.

Alam semesta, langit, bumi, makhluk dan benda tidak berbicara, dan manusialah yang menjadi penyampai kata. Manusialah yang berkewajiban menerjemahkan segala keindahan alam. Manusialah yang harus menjadi ‘juru bicara’ alam semesta. Tetapi bukan berarti manusia menjadi juru alam dalam segala-galanya. Manusia tidak berhak menentukan masa depan dan nasib makhluk lain. Hidup-matinya semua makhluk tidak berada di tangan manusia.

Manusia harus hidup berdampingan dengan makhluk lain di bumi yang satu dan sama ini. Manusia harus menyadari betapa ia dan makhluk lain berasal dari satu akar yang sama, sehingga tidak semestinya saling membinasakan. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang berakal budi dan termulia, sudah semestinya manusia memiliki rasa cinta dan belas kasih terhadap semua makhluk. Dengan demikian barulah manusia pantas dihormati sebagai makhluk yang berbudi dan termulia. Janganlah manusia menempatkan diri di atas segala-galanya, lalu dengan sekehendak hati membunuh makhluk lain. Konsep pengagungan diri demikian adalah sangat keliru dan tidak etis. Jangan lupa bahwa langit dan bumi bagaikan kedua orang tua kita, sementara makhluk lain adalah saudara. Oleh sebab itu mengasihi alam adalah sama dengan mengasihi kedua orang tua dan saudara kita, bahkan adalah mengasihi kehidupan kita sendiri!

Disadur Oleh: RC

May 12th, 2011
Mengasihi alam, Mengasihi kehidupan sendiri (Part 2)

Menyaksikan keindahan, keharmonisan, keseimbangan, dan keselarasan serta efisiensi alam yang sempurna, kita hanya dapat berdecak kagum akan kebesaran dan keagungan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Pengasih! Surya, rembulan, dan bintang yang gemerlang, samudera dan daratan yang luas, gunung yang tinggi menjulang, sungai yang tak henti mengalir, langit yang biru, awan yang putih, pohon yang rindang, rumput yang hijau, bunga yang indah berwarna-warni, dan harum semerbak, unggas yang terbang di angkasa, hewan yang berlarian di hutan, ikan yang berenang di air, serta angin, hujan, embun, pelangi, dan kilauan senja, adalah lukisan alam yang indah menakjubkan, adalah manifestasi energi kehidupan alam yang paling nyata!

Sayang sekali, karena arogansi, kesombongan, dan ketidaktahuan, manusia menganggap diri sebagai penguasa dan penakluk alam, dan tidak pernah mau menghargai kehidupan makhluk lain. Menganggap adalah haknya untuk menguasai dan mengeksploitasi kehidupan makhluk dan benda lain sekehendak hatinya. Bertolak dari pandangan ‘Manusialah yang termulia’ yang egoistik, manusia merusak alam dengan semena-mena, bahkan menghambur-hamburkan sumber daya alam tanpa rasa sayang sedikit pun. Namun, begitu manusia mencoba menghancurkan alam, yang terjadi adalah manusia menghancurkan dirinya sendiri! Ketika manusia menghambur-hamburkan sumber daya alam, yang terjadi adalah manusia sedang menyia-nyiakan hidupnya sendiri. Adalah sebuah fakta yang tak terpungkiri bahwa manusia adalah alam semesta itu sendiri. Manusia adalah bagian dari kesatuan alam yang tak terpisahkan. Baik makhluk unggas, yang merayap, atau yang hidup dalam air, adalah denyut nadi dan nafas kehidupan alam yang paling nyata, dinamis, dan hidup!

Disadur Oleh: RC

SHARE

SocialTwist Tell-a-Friend