May 24th, 2010
Bersama Mencapai Tujuan Utama Part-2
Buddha Maitreya telah jauh hari menyadari kondisi masyarakat di akhir zaman seperti ini. Karena itulah Beliau disebut-sebut sebagai Buddha Yang Akan Datang. Beliau tidak mengajak kita meninggalkan dunia tempat kita tinggal. Ikrar Agung-Nya adalah mewujudkan negeri Buddhata, bumi suci, surga, nirwana, dan kerajaan Tuhan di bumi, di dunia ini. Tidak perlu pergi ke mana-mana, kita sudah berada di nirwana, sudah berada di bumi suci! Inilah ajaran yang lebih relevan di hati manusia moderen di zaman ini. Dalam Gatra Dhiksa disebutkan, “Nirwana jauh namun tergapai seketika, hidup abadi sepanjang masa!” Walau Nirwana sangatlah jauh, namun dapat dicapai seketika tanpa perlu melangkah.Maha Tao Maitreya kelak akan diterima di seluruh dunia, karena dapat memenuhi kebutuhan manusia moderen. Di tengah kehidupan yang penuh derita, tekanan hidup yang berat, stres, depresi, penyiksaan diri, dan angka bunuh diri yang terus meningkat, siapa yang tidak mendambakan dunia yang penuh kekacauan menjadi dunia yang damai sentosa, dunia yang kotor menjadi bumi suci, dunia yang penuh kegelapan dan dosa menjadi kerajaan Tuhan, samudera duka menjadi taman sukacita semesta? Mengharapkan meninggalkan dunia ini, dan pergi ke suatu tempat yang jauh dan belum pasti untuk menemukan surga, bumi suci, nirwana, atau kerajaan Tuhan, adalah absurd dan tidak realistis.
Hanya segelintir pembina Maha Tao Maitreya yang memiliki pandangan yang jauh ke depan. Masih banyak yang terperangkap dalam pola pandang, ‘yang penting saya membina dengan baik-baik, maka kelak akan kembali ke nirwana, selamanya tidak akan datang lagi ke dunia untuk mengalami penderitaan’. Mari kita sadari bahwa konsep ini terlalu konservatif dan sudah ketinggalan. Jangan lagi kukuh dengan pandangan seperti ini, karena konsep ini bertolak belakang dengan Dharma Hati Maitreya! Jika kita masih mengharapkan meninggalkan dunia ini dan pergi ke nirwana untuk bertemu Tuhan serta tidak ingin mengalami penderitaan di dunia ini lagi, berarti kita tidak berbeda dengan pembina awam yang egois. Kita tidak layak disebut sebagai siswa-siswi Maitreya, karena kita hanya memikirkan diri sendiri, tidak memancarkan cinta kasih dan welas asih.
Buddha, Bodhisatva, dan para Nabi tidaklah memiliki pandangan yang egosentris. Marilah kita renungkan bersama. Jika kita seorang diri pulang ke nirwana dan hidup bebas leluasa, pernahkah kita memikirkan nasib 6 miliar lebih saudara kita yang masih tinggal di dunia dan tengah menderita? Begitu tegakah hati kita untuk tidak peduli kepada sesama? Sungguh tak terlukiskan keagungan Buddha Maitreya. Beliau akan menyelesaikan permasalahan secara tuntas dengan mengubah dunia yang penuh kekacauan menjadi dunia damai sentosa, dunia yang kotor menjadi bumi suci, dunia yang penuh kegelapan dan dosa menjadi kerajaan Tuhan, samudera duka menjadi taman sukacita semesta. Inilah jalan keluarnya! Kita tidak perlu meninggalkan bumi, karena bumi akan menjadi taman sukacita semesta. Kita tidak perlu meninggalkan dunia ini karena di dunia akan terwujud bumi suci, dunia surgawi yang damai sentosa!
Intisari dari Tembang Pujian Semesta menjadi pembuka jalan bagi terwujudnya Ikrar Agung Maitreya, yaitu dunia satu keluarga, dunia surgawi, negeri buddhata, bumi suci sukavati. Semua dharma yang kita babarkan telah terkandung di dalam syair lagu tersebut. Mewujudkan keluarga, masyarakat, negara, dan dunia yang harmonis dengan alam adalah tugas ilahi dan panggilan zaman yang harus segera kita laksanakan. Inilah pola pandang yang harus kita miliki bersama. Tidak lagi bercita-cita untuk pergi ke alam abadi nun jauh di sana, karena nirwana yang sejati tidaklah jauh, apalagi sampai terpisah dari bumi ini. Jika nurani setiap manusia berpancar cemerlang, seketika bumi ini adalah nirwana! Ternyata alam abadi – nirwana berada di sini. Ke mana lagi kita mencari?
Langit Bumi Bagai Ayah Bunda
Seruan Tuhan kepada 6 miliar umat manusia, sudahkah kita mendengarnya?
Langit bumi adalah ayah bunda. Langit bagaikan ayah, dan bumi ibarat bunda. Langit bumi menghidupkan semua makhluk. Tanpa langit dan bumi, kita semua tidak dapat melangsungkan kehidupan kita. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa ayah dan bunda semesta dari 6 miliar umat manusia adalah langit dan bumi. Tanpa langit dan bumi, kita semua tak dapat eksis. Namun, sampai di zaman di mana teknologi mencapai puncaknya, berapa banyakkah orang yang tahu bersyukur dan mengasihi langit bumi? Semakin hari semakin langka! Manusia sudah lupa akan perannya, malah seakan menjadi budak teknologi. Seumur hidupnya hanya disibukkan untuk mengejar kekayaan, harta, nama, dan kenikmatan. Sungguh hidup yang jauh dari kebahagiaan sejati! Lirik pertama dari Tembang Pujian Semesta yaitu ‘Langit bumi bagai ayah bunda’ adalah suara hati Tuhan. Adalah seruan Tuhan kepada kita semua, putra-putri-Nya.
Disadur oleh: LiangYiin


