ALAM SEMESTA

May 15th, 2010
Bersama Mencapai Tujuan Utama Part-1

milefo part-1Selama ini wadah Ketuhanan belum menekankan tujuan, sasaran, pedoman, dan prinsip utama yang jelas, yang berfungsi sebagai kompas pembinaan. Karena itu muncullah beragam pandangan dan pendapat yang berbeda. Ini merupakan sebuah pola pembinaan yang tak terarah. Untuk menyatukan wadah Ketuhanan, terlebih dahulu kita harus memiliki pandangan, pola pikir, dan tindakan yang seragam.

Tembang Pujian Semesta merupakan sarana yang sangat tepat untuk menyatukan pandangan dan pola pikir kita. Tembang Pujian Semesta sekaligus menjadi intisari di dalam membabarkan kebenaran, membina, dan mengamalkan Maha Tao Maitreya. Patrilah senantiasa di dalam sanubari kita.Sepanjang hayat membina dan melaksanakan Ketuhanan, berjuang keras dan menanggung segala beban derita, bahkan rela menghadapi berbagai ujian dan cobaan, apakah tujuannya? Semua telah tercantum dalam syair Tembang Pujian Semesta.

Karena belum digariskannya tujuan yang jelas untuk diwujudkan bersama, akhirnya 100 orang Pandita atau 100 orang Dharmaduta akan menyampaikan 100 pandangan yang berbeda saat berceramah. Dengan pola pikir dan pandangan yang berbeda-beda, bagaimana dapat menyatukan hati dan tindakan selanjutnya?

Hingga hari ini, tidak sedikit pembina yang tidak memahami tujuan dari pembinaan Maha Tao Maitreya. Apa tujuan Buddha Maitreya dan Dwiguru Agung Nurani datang ke dunia? Apa tujuan Tuhan menurunkan Jalan Firmani ini ke dunia? Dan apakah sesungguhnya jalan yang sedang kita bina dan amalkan sekarang ini? Sembilan puluh persen pembina Ketuhanan tidak paham sehingga masih menerapkan pola pembinaan yang awam! Terkungkung dalam konsep yang egosentris, sehingga semangat dan visinya sangat terbatas dan tidak universal.

Maha Tao Maitreya mengutamakan semangat mendatangkan berkah bagi orang lain yang pada akhirnya juga akan mendatangkan faedah bagi diri sendiri. Karena melalui proses mendatangkan berkah kepada orang lain, sesungguhnya kita sedang menyelamatkan diri sendiri. Inilah kebenaran yang kita amalkan. Berbeda dengan pembinaan yang awam, yang mengutamakan keselamatan diri sendiri terlebih dahulu, baru kemudian mengembangkan semangat penyelamatan orang lain.

Apakah ikrar agung Maitreya? Hanya segelintir orang saja yang menghayatinya! Kita masih berpandangan bahwa asalkan kita membina hingga kebajikan sempurna, maka kelak kita akan kembali ke nirwana, untuk bertemu dan berpadu dengan Tuhan selamanya. Ini adalah sebuah cara pandang awam yang terdapat di dalam religi pada umumnya.

Sesungguhnya tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi oleh agama-agama di jaman sekarang. Sekitar dua tahun yang lalu, surat kabar memberitakan bahwa di Eropa – kecuali Italia – 50% penduduknya telah menjadi kaum atheis. Sehingga banyak tempat ibadah di Eropa terpaksa ditutup. Bahkan di London, 2/3 populasinya juga menganut sikap atheis. Bila sudah atheis, masihkah mau mengunjungi tempat ibadah?

Dewasa ini di beberapa negara maju, rumah ibadah dari beberapa agama hanya berfungsi sebagai tempat pariwisata. Seiring dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan jaman pun semakin pesat. Demikian pula dengan perubahan pola pikir manusia moderen, seakan tidak sesuai lagi dengan konsep religi yang terbatas. Misalnya konsep agama yang mengajarkan: ‘Asalkan menjalankan ritual agama di dunia tanpa perlu mengembangkan semangat kasih universal, kelak setelah meninggalkan dunia ini akan memasuki alam surga atau sebuah negeri yang indah’. Konsep demikian tampaknya sudah tidak relevan lagi. Nyatanya, dalam kehidupan ini saja banyak yang merasa sudah cukup menderita, stres dan penuh tekanan. Jika  kemudian masih harus membina agar kelak bisa masuk surga, betapa sulitnya! Karena itu banyak orang yang sudah tidak peduli lagi dengan dogma seperti ini.

Disadur oleh:  LiangYiin

SHARE

SocialTwist Tell-a-Friend