July 15th, 2010
Arus Dunia “Budaya Kasih Semesta” Part-1
Ingin menjadi seorang Dharmaduta atau kader Maitreya yang handal? Jiwailah dengan mendalam semangat “dunia satu keluarga”. Dengan demikian kita baru memenuhi syarat menjadi Dharmaduta dan baru layak menyelamatkan dunia. Kita baru benar-benar menyebarluaskan Rahmat Tuhan dan Kebajikan Kasih Buddha Maitreya! Jika tidak demikian, kita hanya membina dengan sia-sia dan menyesatkan umat manusia. Setiap zaman memiliki kondisi dan situasi yang unik. Mari perbaharui pola pandang kita! Mari segarkan pola pikir kita!
Dengan konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, masih adakah segala perbedaan, perselisihan, pertentangan, dan diskriminasi antarkelompok? Masih adakah perseteruan benar-salah, dendam dan benci di antara kita? Bila masih ada, bukankah kita akan merasa sangat malu! Karena segala perbuatan kita tersebut hanya akan menjatuhkan Buddha Maitreya, dan pasti akan mendatangkan kesedihan bagi Tuhan! Kita semua adalah putra-putri-Nya. Jika masih saling berselisih, bertentangan, berdiskirimasi, dan saling menaruh dendam, betapa hancurnya hati Bunda Semesta. Jika telah mengecewakan Tuhan, tentunya para Buddha dan Bodhisatva juga tidak akan mengampuni kita. Perbuatan yang membuat hati Tuhan sedih tentu berakibat fatal! Para Buddha dan Bodhisatva tidak akan membantu, dan sebaliknya akan memberikan hukuman!
Lalu, bagaimanakah jika kita ingin membahagiakan hati Tuhan? Teladani Buddha Maitreya. Buddha Maitreya adalah anak Tuhan yang sangat berbakti. Beliau senantiasa membahagiakan Bunda Ilahi. Ikrar agung untuk mewujudkan dunia satu keluarga, enam miliar umat manusia menjadi satu keluarga, inilah Dharma Hati yang tiada tara, yang juga merupakan suara hati Tuhan dan seruan-Nya kepada kita semua! Mari kita ikut melangkah bersama dengan-Nya.
Sebagai satu keluarga, adakah yang perlu dibeda-bedakan? Jika masih ada diskriminasi kewarganegaran, kebangsaan, agama, keyakinan, ras, warna kulit, budaya, adat istiadat, bahasa, bahkan kaya-miskin, pintar-bodoh, cantik-jelek, bukankah kita sudah bertindak dungu dan kekanakan! Hal ini jelas membelakangi hati Tuhan, hati Buddha Maitreya, dan kebajikan Dwiguru Agung Nurani! Dwiguru Agung Nurani turun ke dunia dan mentransmisikan Dhiksa Maitreya adalah untuk membuka pintu hati nurani, pintu ilahi, gerbang buddhata. Dwiguru Agung Nurani turun ke dunia dan membuka pintu nurani kita ¤ adalah sebagai langkah awal untuk mewujudkan dunia satu keluarga.
Oleh karena itu, yang selaras dengan kehendak Tuhan akan berkembang jaya, dan yang berlawanan akan sirna. Yang selaras dengan hati Tuhan dan Buddha Maitreya akan berkembang jaya dan hidup sejahtera. Yang bertentangan dengan hati Tuhan, Buddha Maitreya, dan Dwiguru Agung Nurani, bertolak belakang dengan konsep ‘dunia satu keluarga’, akhirnya akan sirna. Hao Che Ta Ti pernah bersabda, “Membina Ketuhanan sesungguhnya mudah, yang sulit adalah mengatasi masalah antarmanusia!” Namun di abad-21, masalah-masalah antarmanusia ini akan sirna. Karena sekarang adalah abad dunia satu keluarga, era Buddha Maitreya. Masih adakah masalah antarmanusia dalam satu keluarga yang tidak dapat diatasi? Bila masih ingin bertentangan dengan kehendak Tuhan dan melawan hati Dwiguru Agung Nurani, hati Buddha Maitreya, maka Tuhan tidak akan memaafkan! Di abad dunia satu keluarga ini, barang siapa yang tidak mau menyesuaikan diri, kelak akan tersisihkan. Sangat sederhana!
Kita semua hendaknya merasa sangat beruntung dan bahagia, karena dapat berjalan di barisan terdepan dunia! Kita sedang mulai mengembangkan Budaya Kasih Semesta, untuk mewujudkan dunia satu keluarga – taman sukacita semesta yang terindah. Sekalipun kita baru mulai melangkah, namun patrilah dalam hati secara mendalam dan kembangkanlah secara meluas. Ini adalah kesempatan terbaik untuk beramal kebajikan dan menunaikan ikrar.
Hao Che Ta Ti pernah bersabda bahwa kita tidak boleh terbawa arus masyarakat, namun masyarakatlah yang harus mengikuti derap langkah kita! Dulu saya sendiri kurang memahami, berdasarkan apa kita bisa membuat masyarakat mengikuti kita dan kita tidak mengikuti masyarakat? Sekarang barulah saya pahami dan kini saya telah berkeyakinan penuh. Maha Sesepuh Yen juga sangat berkeyakinan, bahwa kita harus membuat dunia mengikuti langkah kita, yaitu berdasarkan pada semangat “dunia satu keluarga”.
Disadur oleh: LiangYiin

