ALAM SEMESTA

July 23rd, 2010
Arus Dunia “Budaya Kasih Semesta” Part-2

Melalui budaya kasih semesta, dengan memancarkan pesona keindahan kodrati manusia, kita wujudkan dunia satu keluarga! Sabda Hao Che Ta Ti telah terbukti! Kita bukanlah manusia super yang memiliki kekuasaan atau ilmu gaib yang luar biasa. Kita juga tidak memiliki uraian dharma yang tinggi dan gaib. Kita hanya berpegang teguh pada hati Tuhan – Bunda Semesta, berpegang teguh pada hati Buddha Maitreya, dan kebajikan Dwiguru Agung Nurani. Kita ingin mewujudkan dunia satu keluarga agar dunia surgawi, negeri buddhata, kerajaan Tuhan, bumi suci sukavati dapat terwujud di bumi ini. Kita hanya berteguh pada semangat ini. Jika kita bisa menghayati dan merealisasikannya sepenuh hati, maka yakinlah bahwa dunia ini akan mengikuti derap langkah kita!

Saudara kita bukan hanya 6 miliar umat manusia, bahkan unggas yang beterbangan di angkasa raya, hewan-hewan yang berlarian atau merayap di bumi, dan makhluk yang berenang di lautan luas, juga merupakan anggota keluarga kita. Yang dimaksud sebagai kehidupan, bukanlah sebatas pada kehidupan manusia saja. Kita masih mempunyai banyak sanak saudara. Tanpa sanak saudara ini, dunia pun akan kehilangan kegemilangan dan fungsinya! Jika di dunia ini tidak ada unggas yang beterbangan, hewan yang berlarian, dan satwa-satwa air, dunia tidak lagi semarak penuh warna. Alam semesta kehilangan nilai keindahannya! Mengapa keindahan alam semesta begitu melimpah? Karena selain manusia dan benda-benda yang pasif seperti gunung dan sungai, kita masih mempunyai saudara-saudari, yaitu aneka satwa. Mereka juga makhluk Tuhan. Mereka adalah bagian dari anggota keluarga kita yang tak terpisahkan.

Konsep yang kita miliki melampaui konsep negara-negara Eropa dan Amerika yang sangat mengutamakan perlindungan alam, namun kurang menekankan kasih kepada manusia. Yang mereka utamakan adalah mencintai tumbuhan dan satwa langka, melindungi bumi agar tidak tercemar. Tanah tidak tercemar, air tidak tercemar, udara tidak tercemar, dan makanan tidak tercemar. Inilah konsep kasih alam yang mereka maksud. Sedangkan kasih alam yang kita maksud mencakup semangat mengasihi manusia dan menjunjung segala bentuk kehidupan. Mereka akan takjub dengan konsep yang luar biasa ini. Inilah budaya dan peradaban baru dari belahan Timur dunia, yang akan memperbaharui apa yang dikembangkan di Barat selama ini.

Sebelumnya Maha Sesepuh Yen pernah berpesan untuk membentuk satu tim tari kasih semesta dari Negara Kanada dan Amerika Serikat untuk mengikuti Festival Seni Tari Kasih Semesta Internasional. Saya pun sering menghubungi para Pandita dan asisten pengajar di sana agar segera membentuk tim tersebut. Awalnya ada beberapa orang yang datang namun selalu berhenti di tengah jalan. Jawaban dari Pandita di sana, “Sesepuh, orang-orang di sini kurang bisa menerima konsep mengasihi alam semesta dengan nyanyian dan tarian. Yang mereka tahu selama ini mengasihi alam adalah dengan menanam bunga, rumput, pohon, ataupun memungut sampah. Demikianlah cara mengasihi alam bagi mereka. Jika kita mengatakan mengasihi alam semesta harus dimulai dengan mengasihi semua manusia dan segala kehidupan, maka tanggapan mereka adalah hal itu tidak pernah diajarkan di sekolah dan sulit untuk dipahami!”

Kita menjadikan segala satwa sebagai saudara, namun bagi mereka hal itu tidak masuk akal. Mereka hanya mengutamakan satwa yang dilindungi saja. Sesungguhnya dengan menganggap segala satwa adalah saudara, inilah jiwa kasih Buddha Maitreya dan kasih Bunda Semesta yang universal dan tak berbatas. Mari kita bertanya ke dalam nurani. Apakah hanya kehidupan harimau, singa, dan satwa-satwa langkah saja yang perlu dilindungi dan dihargai? Sedangkan nyawa dari hewan seperti babi, ayam, itik, kambing, dan kerbau tidak bernilai, sehingga pantas untuk disembelih dan disantap? Sikap seperti ini pada dasarnya tidak menjunjung kemuliaan kehidupan secara universal. Nyawa seekor babi ataupun nyawa seekor harimau, dan nyawa seekor kerbau atapun nyawa seekor singa, adalah sama nilainya! Bila demikian, mengapa hanya satwa seperti harimau, singa, dan lainnya harus dilindungi, sementara kerbau, babi, ayam, itik, dan kambing boleh dibunuh untuk dinikmati? Hal ini juga merupakan bentuk diskriminasi, penindasan, dan penyiksaan terhadap kemuliaan kehidupan yang universal.

Disadur oleh: LiangYiin

SHARE

SocialTwist Tell-a-Friend