ALAM SEMESTA

June 30th, 2010
Konsep “Dunia Satu Keluarga” Part-2

Pendahulu kita mengatakan, ‘satu orang satu zaman’. Memasuki abad-21, tibalah abad Maitreya. Jika kita tidak segera berpadu ke dalam konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, maka dengan sendirinya kita tidak memenuhi persyaratan untuk berpartisipasi di dalamnya. Patriat Cin Kung hidup pada satu zaman. Bapak Guru Agung dengan zamannya dan Ibu Guru Suci juga dengan zamannya. Yang Suci Maha Sesepuh Kaosan juga berada dalam satu zaman. Setiap zaman mempunyai sebab jodohnya masing-masing. Kini kita telah memasuki era Buddha Maitreya. Bagaimana agar kita bisa berpartisipasi di zaman ini? Apa syaratnya? Sangat sederhana! Asal kita memiliki konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, kita sudah memenuhi syarat untuk berpartisipasi. Bisa berpartisipasi di zaman ini adalah hal yang teragung, termulia, tersukses, dan terbahagia!

Membina di abad-21, haruslah berlandaskan pada pokok iman utama yaitu ‘dunia satu keluarga’. Tanpa berlandaskan pada pokok iman utama ini, pembinaan diri kita menjadi tak berarah, sehingga sebesar apapun dedikasi kita, sekeras apapun perjuangan kita, semuanya takkan mendatangkan manfaat yang berarti. Tanpa memiliki konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, pada akhirnya kita hanya akan terjatuh ke dalam egoisme, menganggap “Ini adalah viharaku, umatku, wilayahku, kelompokku, dan karyaku”. Perbuatan seperti ini tentunya tidak lagi selaras dengan kehendak dan hati Tuhan, hati Buddha Maitreya dan hati Dwiguru Agung Nurani. Sehingga sebesar apapun karya dan vihara kita, semua jadi tidak bernilai! Pada akhirnya diri sendiri pun tersisihkan.

Sesungguhnya Bunda Ilahi, Buddha Maitreya, dan Dwiguru Agung Nurani tidak pernah menilai besar-kecilnya vihara dan banyak-sedikitnya jumlah umat. Yang dinilai adalah hati kita, apakah selaras dengan hati Dwiguru Agung Nurani, hati Buddha Maitreya, dan Hati Tuhan – Bunda Ilahi kita.

Dengan membabarkan konsep dan semangat ‘dunia satu keluarga’, tidak akan ada seorang pun yang menentang. Pada pertemuan dengan sekitar 50 tamu delegasi Tiongkok di Jakarta tersebut, saya juga menyampaikan kembali bahwa tokoh-tokoh besar dalam sejarah Tiongkok terdahulu telah mengajarkan tentang dunia damai sentosa dan menjelaskan tugas-tugas kita sebagai penerus mereka, yaitu mewujudkan dunia satu keluarga. Mendengar penyampaian ini, sekalipun mereka bukan umat Maitreya, tetapi mereka sangat terharu dan tersentuh hatinya. Semoga kita semua bisa mengukirnya di dalam jiwa!

Disadur Oleh: Liang Yiin

SHARE

SocialTwist Tell-a-Friend