NEWS & EVENT

May 24th, 2010
Berbagi kasih dengan sesama melalui kegiatan bakti sosial

Sebagai seorang manusia awam, hal yang yang paling membahagiakan didalam hidupnya adalah pada saat ia mendapatkan sanjungan, memperoleh nama baik, reputasi, kedudukan, kekayaan, kemewahan dan masih banyak lagi yang membuat nurani tidak pernah merasa puas dengan apa yang didapatkan sekarang ini. Karena ketercekatan inilah yang membuat kita tidak pernah bisa berbahagia dan bersuka-cita. Merasa hidup ini begitu singkat dan tidak berarti sehingga nurani tidak pernah merasakan kebahagiaan dan suka-cita yang sebenarnya. [...]


January 19th, 2010
Festival Anak Maitreya – Jakarta

Setelah melalui proses persiapan selama tiga bulan akhirnya tibalah hari yang ditunggu-tunggu itu. Minggu, 21 Juni 2009, Pusdiklat Buddhis Maitreyawira terlihat berbeda. Hari itu gedung tampil cantik dengan dekorasi warna-warni ceria dan taburan balon-balon. Yeeaaah…. ada apa gerangan? Ternyata gedung didandani untuk menyambut kedatangan 834 anak dari Jakarta, Bandung, Cirebon, Bogor, Tangerang, dalam acara Hari Anak Maitreya. [...]


January 19th, 2010
Boma – Majalah Anak-anak Maitreya Indonesia Yang Pertama

Terbitnya Boma yang merupakan singkatan dari Bocah Maitreya, sungguh merupakan berkah yang patut kita syukuri. Boma adalah majalah khusus untuk anak-anak Maitreya yang dikemas dengan bahasa sederhana. Seperti majalah anak-anak umumnya, cover dan isi Boma dirancang penuh warna sesuai dunia anak-anak, sehingga sangat menarik. Isi majalah Boma antara lain ada Dharma anak, cerita bergambar, juga informasi seputar kegiatan anak-anak Maha Tao Maitreya yang dikemas dengan bahasa anak-anak. [...]


January 19th, 2010
Talk Show di Vegetarian Family Gathering

Vegetarian Family Gathering dengan acara Talk Show dan Makan Malam yang diselenggarakan oleh IVS pada hari Sabtu, 21 Februari berlangsung dengan penuh kekeluargaan. Lebih dari 200 orang, sebagian besar umat Maitreya memenuhi Padmanadi Restoran Vegetarian, tempat berlangsungnya acara yang menghadirkan dua ahli gizi ini. [...]


DHARMA MAITREYA

August 18th, 2010
Budaya, Peradaban dan Moralitas Baru Part-2

Inilah semangat yang harus dikembangkan oleh seorang Sesepuh, Pandita, Pandita Muda, Pelaksana, Dharmaduta, dan seluruh umat. Dengan memiliki semangat dunia satu keluarga ini, kita akan menjadi manusia abad-21 yang paling bermartabat dan berkualitas. Kita baru dapat membantu misi Buddha Maitreya dan berpartisipasi pada babak penyatusempurnaan terakhir kelak. Jika tidak demikian, kita akan tereliminasi oleh zaman!

Berkat kemajuan transportasi dan teknologi informasi, serta jangkauan internet yang menakjubkan, dimensi waktu dan ruang di bumi menjadi semakin kecil. Dengan satu telepon genggam, kita bisa terhubung ke seluruh pelosok dunia. Sebelum abad-21, konsep ‘dunia bagai satu desa’ telah menjadi tren di masyarakat. Saat itu telah ramai dibicarakan bahwa dimensi ruang semakin kecil dan waktu semakin singkat. Kini memasuki abad-21 yang semakin maju, konsep ‘dunia satu desa’ secara alami tak terbendung, berubah menjadi ‘dunia satu keluarga’.

Sayangnya, walau dimensi ruang dan waktu semakin mengecil, dunia satu keluarga belum juga terwujud. Dunia ini masih terpecah belah! Apa penyebabnya? Penyebabnya adalah masih eksisnya dinding-dinding pemisah yang menjulang tinggi di antara umat manusia, sehingga menghalangi umat manusia untuk hidup harmonis dan saling mengasihi.

Egoisme, prasangka, dan ketidaktahuan umat manusia, membuat dunia satu keluarga menjadi sulit dicapai. Begitu banyak dinding pemisah yang kasat mata. Beda kewarganegaraan menjadi dinding pemisah. Beda agama juga menjadi dinding pemisah yang tinggi. Beda ras, warna kulit, dan bangsa adalah suatu dinding pemisah. Beda budaya dan ideologi juga menjadi dinding pemisah. Adat istiadat dan kebiasaan juga adalah dinding pemisah. Beda aksara dan bahasa juga dinding pemisah. Kaya, miskin, mulia, dan hina juga menjadi dinding pemisah. Pandai, bodoh, cantik, dan buruk rupa juga suatu dinding pemisah. Dan yang lebih trendi lagi, perbedaan partai juga membangun dinding pemisah. Terlalu banyak dinding pemisah!

Dinding-dinding pemisah ini menghalangi rasa persaudaraan umat manusia dan membuat jarak sesama semakin jauh. Sekalipun dimensi waktu dan ruang sudah menyempit, namun jarak antarsesama manusia justru semakin melebar. Terdapat terlalu banyak pertentangan. Terlalu banyak sikap dingin, saling menjauhi, saling berselisih dan bermusuhan. Akhirnya timbul pertikaian, percekcokan, saling menganiaya, dan saling mencelakai. Semakin hari semakin parah. Dan hingga detik ini belum ada tanda-tanda penyelesaiannya. Inilah sisi gelap dari kehidupan umat manusia, sisi yang paling menyedihkan dan memprihatinkan!

Sebagai siswa-siswi Maitreya, kita semua mendapat Titah dari Tuhan dan Buddha Maitreya untuk mewujudkan suara hati Tuhan dan jiwa Buddha Maitreya, yaitu mewujudkan dunia satu keluarga sesegera mungkin. Inilah tujuan hidup yang harus diwujudkan oleh kita semua. Inilah proyek pekerjaan yang paling akbar dalam hidup kita. Inilah intisari dari pembinaan dan pengamalan dalam Maha Tao Maitreya. Terpisah dari intisari ini, semuanya menjadi pembinaan yang sia-sia dan tiada guna. Tugas dan misi siswa-siswi Maitreya adalah melenyapkan dinding-dinding pemisah yang tak terhitung jumlahnya. Apalagi sebagai Pandita dan Dharmaduta, kita harus terus membabarkan kebenaran untuk meruntuhkan dinding-dinding pemisah tersebut!

Puji syukur atas Rahmat Tuhan, Kasih Buddha Maitreya, dan Kebajikan Dwiguru Agung Nurani. Buddha Maitreya telah mengarahkan kita kepada konsep ‘dunia satu keluarga’ untuk meruntuhkan berbagai jenis dinding pemisah. Namun selain memiliki konsep, kita juga membutuhkan tenaga-tenaga manusia untuk menerapkannya, sehingga dinding-dinding pemisah tersebut baru dapat diruntuhkan satu-persatu.

Makna luhur Tembang Pujian Semesta adalah intisari dari budaya kasih semesta. Untuk meruntuhkan dinding-dinding pemisah, hanya dapat dilakukan dengan mengembangluaskan budaya kasih semesta, agar kasih semesta menjadi nilai, kebudayaan, peradaban, dan kebiasaan bersama seluruh umat manusia, menjadi nilai, budaya, dan peradaban baru abad-21. Kasih semesta berarti mengasihi langit-bumi, semua manusia, seluruh makhluk dan segala kehidupan. Jika setiap insan telah melaksanakannya, maka dengan sendirinya dinding-dinding pemisah tersebut akan runtuh dan hilang tak berbekas.

Disadur oleh: LiangYiin

VEGETARIAN

Kehidupan Maitreya adalah kehidupan bervegetarian. Maitreya mengajarkan kepada kita untuk menghormati semua jiwa makhluk hidup karena berasal dari Laou dan memilik nilai tersendiri yang sangat mulia. Kita tidak memilik kuasa untuk memutusakn kehidupan makhkuk hidup, jadi kita tidak berhak mengambilnya dari mereka. Hidup bervegetarian maitreya adalah memancarkan cinta kasih dalam diri kita dan menghormati setiap benih benih kehidupan di dunia ini.

Dalam pengertian umum, kata vegetarian mengacu pada seseorang yang tidak memakan daging, baik daging merah, ikan, maupun unggas atau produk hewani lainnya.Namun, vegetarianisme Maitreya memiliki makna yang lebih mendalam:

  1. Ungkapan dalam menghargai segala mahluk dengan tidak melukai atau membunuh.
  2. Ungkapan kasih dengan tidak melukai mereka dalam bentuk pikiran, ucapan dan tindakan. Kemurnian dalam ketiga hal ini merupakan semangat dari kasih universal.
  3. Vegetarianisme memberi kita kedamaian dan semakin mendekatkan kita dengan ciptaan Laomu.
  4. Kehidupan dari semua hewan adalah sama berharganya dengan kehidupan kita sendiri, maka itu kita perlu menghargai mereka. Mengasihi dan menghargai segala adalah alasan vegetarianisme yang paling mendasar.